Umroh, Dari Kaca Mata “Traveller”

Umroh, Dari Kaca Mata “Traveller”

Oleh : Wasistho Adjinugroho

Niat Umroh sudah tergagas sejak akhir tahun 2004, niat tersebut agak tertunda dengan sakitnya Alm. Bapak hingga meninggalnya pada bulan Maret 2006. Bulan Oktober 2006 saya mulai mengaktivasi lagi rencana yang tertunda dengan mulai melakukan survey atas travel yang akan saya pilih. Banyak rekomendasi yang diberikan oleh famili maupun teman, namun saya mempunyai criteria sendiri untuk memilih, antara lain : bonafide, harga wajar dan kantor travel mudah dijangkau dari kantor saya di Cilandak.

Penelusuran awal survey adalah untuk menentukan waktu, ternyata musim Umroh baru akan mulai paling cepat akhir Maret ’07, namun saya disarankan untuk tidak memilih jadwal awal karena biasanya urusan visa bisa kisruh, disarankan untuk memilih jadwal 10-15 hari sesudah hari pertama pembukaan visa dan mendaftar 1-1,5 bulan sebelumnya pada travel agent.

Poin yang kedua adalah memilih paket Umroh yang akan menentukan harga, di iklan Koran harga bervariasi antara US$ 950 – 1.350 untuk paket standar 9 hari, harap dicatat bahwa hari kita berangkat dan kita tiba kembali ke Tanah Air (walaupun pagi hari) masing-masing dihitung 1 hari, jadi hari efektif sebenarnya hanya 7 hari. Perbedaan harga disebabkan karena perbedaan maskapai penerbangan dan juga hotel yang kita gunakan. Paket yang paling murah pesawatnya akan transit di Doha selama 7 jam (saya lupa nama maskapainya), saya coba cari informasi apakah airport Doha seperti Changi atau Amsterdam atau Frankfurt, dimana kita akan betah berlama-lama “hanging around”, ternyata tidak dan saya putuskan untuk memilih Garuda yang terbang langsung ke Jeddah dan tidak akan terlalu melelahkan bagi Ibu yang sudah sepuh untuk menempuh perjalanan jauh.

Poin ke tiga adalah memilih travel yang bonafide namun harga terjangkau. Mengapa bonafide, saya perlu jaminan bahwa selama perjalanan tidak akan kapiran di Tanah Suci. Kriteria bonafide saya tentukan dengan melihat lokasi kantor travel, harus di jalan protokol atau hotel berbintang, ternyata sangat sedikit travel yang memenuhi criteria tersebut. Dengan mempertimbangkan jarak dari kantor saya, maka hanya ada 3 travel yang masuk nominasi, yaitu di Jl. Panglima Polim, di Hotel Sahid dan di Hotel Kartika Chandra. Di ketiga travel tersebut saya mengambil formulir pendaftaran dan brosurnya. Ternyata yang di Kartika Chandra lebih bisa meyakinkan saya bahwa mereka memang OK. Akhir Februari saya memutuskan memilih jadwal keberangkatan 2 April untuk saya, Isteri dan Ibu dengan harga US$ 1.250 + Rp 1,4 juta per orang.

VISA Arab Saudi, ternyata pemerintah Saudi mensyaratkan bahwa jika seorang wanita dengan usia di bawah 45 tahun harus berangkat dengan “Muhrim”-nya. Ketentuan ini di latarbelakangi dengan berbagai kasus TKW illegal yang masuk ke Arab Saudi dengan visa Umroh dan kemudian menghilang sesampainya di sana. Maka jika wanita tersebut berangkat sendiri, oleh travel akan dipasangkan dengan salah satu peserta Umroh pria dewasa dengan status keponakan atau adik. Konsekwensi dari cara ini adalah jika ternyata nanti si wanita tersebut menghilang di Arab Saudi, maka si Muhrimnya tidak diperkenankan pulang ke Tanah Air sampai si wanita tersebut diketemukan. Untuk itu saya sarankan kepada para sanak famili Pria yang akan menunaikan Umroh, sebaiknya sejak awal wanti-wanti kepada travel-nya untuk tidak di Muhrimkan dengan orang lain kecuali saudara/teman sendiri yang kita tahu/kenal betul tidak akan menjadi TKW illegal di Arab Saudi.

Jadwal keberangkatan tanggal 2 April memang tepat, baik visa maupun pesawat tidak ada hambatan/keterlambatan, hanya pesawat diundur keberangkatannya dari yang seharusnya siang hari menjadi jam 19.00 dan sudah diberitahukan 2 hari sebelumnya. Rombongan yang dijadwalkan berangkat antara 27-30 Maret mundur sampai waktu yang belum dapat dipastikan karena masalah visa. Biasanya setiap perjalanan jauh saya selalu minta seat di emergency door, dimana kaki saya bisa slonjor dan nyaman tidur, namun karena bersama Ibu yang sudah di atas 70 tahun dan baru pertama kali long distance flight maka tidak mungkin orang tua diberikan seat di emergency door dan saya harus menemani duduk di sampingnya.

Pesawat mendarat di Jeddah tengah malam, dari sini terasa betul perbedaan level of service yang diberikan oleh pengelola bandara terhadap para penumpang. Mulai dari bagaimana mereka mengatur bis airport/neoplan, imigrasi dan security. Sangat berbeda bila kita mendarat di airport kota-kota besar lainnya. Saya bertanya-tanya/mbathin mestinya dengan tingkat ekonomi yang sudah sangat baik maka level of service yang mereka berikan sangat jauh njomplang. Menurut salah seorang rekan seperjalanan yang sudah mondar-mandir Umroh sejak awal 90-an, sekarang sudah jauh lebih baik, perbaikan ini disebabkan karena OKI (Organisasi Konferensi Islam) pernah meminta untuk mengambil alih urusan Haji dari pemerintah Saudi. Tapi nampaknya memang tidak ada budaya “Sense of Customer Service” di sini, di Rest Area antara Mekkah – Madinah pun kondisinya jauh di bawah yang ada di Sentul dan Tol Cikampek.

Akhirnya perjalanan Umroh kami lancar dan sesuai jadwal kembali ke Tanah Air dengan selamat pada tanggal 10 April pukul 11.00. Alhamdulillah.

Salam,

Nug – 19 juni ’07

Leave a Reply