Tradisi di Ngampin: Agustusan, Nyadran dan Sya’ban

Tradisi di Ngampin: Agustusan, Nyadran dan Sya’ban

Oleh : Dwi Kuntjoro GP (Gagan)

Ada banyak tradisi ritual yang dilakukan masyarakat Ngampin, tiga diantaranya adalah Syaban, Nyadran dan tujuhbelasagustusan.

Tradisi 1: Agustusan pra-1980-an

Masa kecil memang masa paling bahagia, sehingga pengalaman dan kejadian yang menimbulkan keasyikan yang amat sangat khas, seperti ketiga tradisi itu, menetap jelas terpatri di ingatan.Walaupun sudah hampir 25 tahun meninggalkan Desa Ngampin, tradisi itu tetap menjadi salah satu penyebab kangen kampung.

Agustusan di Ngampin sebelum tahun 80-an menjadi satu acara yang benar-benar sangat ditunggu. Tidak seperti sekarang yang cukup dengan upacara bendera, pada jaman itu setiap tahun selalu ada “malam kesenian” di lapangan Ngampin, Dukuh Glagah Ombo (sekarang di belakang kantor Kejaksaan dan Pengadilan). Pak Lurah Pratno dan perangkat desanya pada waktu itu mempunyai semangat tinggi untuk menyediakan hiburan sekaligus wahana “nguri-uri kabudayan Jawa” dengan menyelenggarakan hiburan masal selama beberapa malam. Yang saya ingat, dalam beberapa kesempatan, sekaligus didirikan 4 panggung untuk kesenian yang berbeda, dan main bersamaan; kethoprak, wayang wong, wayang kulit, dan ndangdutan. Ditambah beberapa rumah pameran dan permainan dari sekolah SD Glagah Ombo dan SPG… (saya lupa namanya, dahulu juga di Glagahombo, sekarang bangkrut).

Karena pada waktu itu listrik masih belum masuk desa, penerangan di pentas menggunakan lampu petromak. Salah satu yang jeli melirik peluang bisnis adalah Mbah Carik Tajib Putri (Mbah Soekarni), beliau nyediakan beberapa lampu petromak untuk disewakan. Ada beberapa petromak lama merk Standard buatan Swiss yang berbeda dengan petromak masa kini. Lampu ini tangki minyaknya di atas dan kaos lampu serta kacanya ada di bawah. Sedangkan petromak sekarang tangki minyaknya di bawah dan kaos lampu serta kacanya di atas.Uniknya lagi, dalam semalam hanya perlu dipompa satu kali pada waktu menyalakan, setelah itu… josss terus… sampai habis minyaknya.

Ada permainan unik yang rutin disiapkan SD Glagah Ombo, yaitu “nggebuk tikus” yang berhadiah alat tulis. Permaian hanya dibuat dari bahan sederhana berupa papan yang dipasang sedikit miring dan di atasnya ditutup kardus setengah lingkaran sehingga berbentuk terowongan seperti lubang tikus. Ditambah peralatan berupa bola dan pemukul kayu untuk “nyelah” dalam permainan kasti. Peraturan juga sederhana, setelah membayar Rp.5,-, pemain cukup menunggu bola yang dilepaskan oleh salah satu murid pada lubang bagian atas, dan harus memukul bola yang keluar pada lubang bagian bawah. Tiga kali kesempatan. Apabila kena, hadiah alat tulis sudah menunggu. Saya waktu itu selalu menang karena sedikit akal-akalan. Saya amati orang lain bermain, saya lihat dari belakang murid pelepas bola, saya hitung dalam batin berapa hitungan bola akan keluar setelah dilepas. Dengan kemiringan dan panjang terowongan yang tidak pernah dirubah, dijamin akan sama hitungannya. Jadi…bayar…hitung…pukul…,dan pulang bawa hadiah. Salah satu murid pelepas bola pada waktu itu adalah Dik Heli, putra Om Purwadi yang tinggal disebelah Bulik Indrat. Yen saiki aku ora wani ngakali, wong Dik Heli wis dadi tentara lulusan AKABRI.

Cerita unik juga muncul dari pentas kethoprak yang pemainnya penduduk setempat. Dalam suatu perang tanding, akting dua pemain benar-benar seru…pokoknya bisa jadi pemenang oscar. Ternyata usut punya usut, mereka berantem betulan karena salah satunya kena pukul terlalu keras.

Tradisi 2: Nyadran

Tradisi nyadran biasanya diadakan menjelang bulan puasa. Tujuan utamanya sebenarnya adalah bersama-sama membersihkan pemakaman dan mengirimkan doa. Setelah membersihkan makam, keluarga dan masyarakat sekitar pemakaman mempersiapkan nasi dan lauk di rumah untuk dibawa kembali kepemakaman. Setiap keluarga peserta biasanya membawa satu tempat yang disebut ‘wakul’ atau dalam satu paket yang lebih banyak dalam “Jodhang”. Setelah dilakukan doa bersama, makanan ini sebagian disantap dan sebagian lagi dibawa pulang sebagai ‘berkat’.

Keluarga Djojosastro biasanya ikut nyadran di pemakaman Penggung (Ngampin Kulon) dengan menu khusus masakan lebih banyak, bukan berupa berkat dalam satu wakul, tetapi beberapa berkat dalam besek atau kotak kardus yang dibawa dalam Jodang, yaitu suatu kotak kayu besar yang bisa dipikul 2 orang. Sewaktu sesepuh-sesepuh Djojosastro masih sugeng, ada paling tidak 6 keluarga yang mengirimkan Jodhang, yaitu keluarga Mbah Carik, Mbah Amin, Mbah Triworo, Mbah Wir, Mbah Broto, dan Pak Lurah Manten Pratno. Jodhang Mbah Carik sangat terkenal karena kepandaian memasak Mbah Carik Putri. Setelah beberapa sesepuh meninggal, tradisi jodhang dilanjutkan penerusnya; Mbah Carik digantikan oleh Ibu Siti Roewijah, Mbah Amin dilanjutkan oleh Om Hardono, sedang Mbah Triworo dilanjutkan oleh Bulik Indrat dan Om Gondo. Sudah lama saya tidak ikut serta dalam nyadran, jadi tidak tahu ada berapa jodhang akhir-akhir ini.

Berkat kathokan menjadi menu khusus yang wajib diperoleh karena jarang ada, dan memiliki rasa yang …mungkin hanya sugesti …paling OK. Pokoke…uenuak tenaaan. Berkat ini merupakan campuran nasi dan lauk pauk yang ditempatkan dalam anyaman daun kelapa tua berbentuk seperti “pampers” masa kini, sehingga disebut “kathokan”. Anyamannya segi tiga atau empat dengan sisa daun memanjang di keempat sudutnya, sudut ini akan diikat menjadi satu setelah diisi nasi. Nasi dan lauk tadi berasal dari “berkat” bakulan yang dibawa peserta nyadran yang kemudian dikumpulkan dan dicampur bersama diatas bentangan memanjang daun pisang. Setelah dilantunkan doa bersama, campuran nasi dan lauk ini akan dibagi peserta nyadran untuk dibawa pulang. Kalau tidak sempat ikut berebut berkat, biasanya berkat kathokan diperoleh dengan menukar satu berkat besekan dari jodhang, dengan orang yang berani berebut.

Kenangan menarik dari nyadran pada era sebelum tahun 1980-an, perebutan biasanya seru sekali. Maklum, pada waktu itu masih banyak masyarakat yang masih belum sesejahtera sekarang. Masih banyak yang menjadikan bahan makanan lain menjadi makanan pokok (seperti gondem dan thiwul), karena belum mampu membeli beras. Oleh karena itu, nyadran menjadi satu kesempatan baik untuk memperoleh nasi dan lauk. Banyak orang yang datang untuk berebut ‘berkatan’. Mereka biasanya tidak ikut membawa ‘wakul’ dari rumah dan tidak ikut dalam doa, tetapi berkerumun di belakang barisan pelantun doa, dengan membawa aneka macam tempat nasi, mulai dari tenggok, kathokan, sampai karung (waktu itu belum musim tas plastik). Payahnya, ada juga yang bawa sabit. Nah,…waktu paling seru datang pada waktu menjelang selesainya doa. Mereka berdiri, atau jongkok, siap dengan tempat nasi di tangan (dan sabit), begitu doa selesai, langsung loncat berebutan. Kasihan peserta ‘resmi’ yang membawa modal wakul dari rumah, kadang hanya bisa mengambil satu atau dua genggam untuk dibawa pulang. Takut apabila ikut berebut, sabit akan mampir di badan.

Tradisi 3: Sya’ban

Sya’ban merupakan satu tradisi yang diadakan menjelang bulan Ramadhan/puasa beberapa hari setelah Nyadran. Tidak tahu sejak kapan ritual ini dilakukan. Tujuan utamanya adalah untuk mensucikan diri menjelang dilaksanakannya puasa. Dilakukan secara simbolik dengan berjalan pada malam hari setelah maghrib dari Ngampin ke Desa Jambu di sebelah barat yang jaraknya sekitar 5 km, dilanjutkan dengan mandi beramai-ramai di sumber air Kali Condong. Kali Condong bisa dicapai dengan berjalan kaki memasuki gang kecil di samping jembatan sekitar 200 m sebelah barat Pasar Jambu, belok kekanan dan masuk sekitar 200 m juga.

Disamping untuk mensucikan diri, acara ini juga mempunyai tujuan sampingan yang menjadi tradisi, yaitu mencari jodoh. Dengan mandi atau cuci muka bersama bercampur antara laki-laki dan perempuan (tidak dengan telanjang, lho!), muda-mudi bermain air saling bergurau dan berkenalan. Tetapi ada juga yang iseng bukan mencari jodoh, melainkan mencari musuh. Mungkin karena rebutan kenalan, tetapi lebih sering karena akibat saling mengejek atau jalan bersenggolan. Kalau tidak salah, dahulu Mas Afiat pernah jadi sparring partner Dik Basuki (Baran). Pak So, Pak Gondo dan Pak Kenthut punya sparring partner yang namanya Ceguk. Pak Kenthut juga pernah dengan Pak Tomo putra Pak Lurah Manten Pratno.

Karena yang ikut meramaikan acara tidak hanya masyarakat sekitar Ngampin, tetapi juga dari desa sekitar, maka jalan raya Ngampin – Jambu biasanya akan penuh dengan orang jalan kaki. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar jalan raya untuk berjualan, baik mainan maupun makanan. Yang khas dari Desa Ngampin adalah serabi. Dahulu serabi hanya dijual pada acara tertentu seperti Sya’ban ini. Namun sekarang kita bisa membeli serabi Ngampin setiap hari dari bakul yang berderet di sepanjang tepi jalan raya.

Mbah Carik Putri dahulu juga suka iseng berjualan, tetapi selain serabi, beliau menambahkan Pipis Kopyor kedalam menunya. Pipis kopyor dibuat dari campuran roti tawar, serutan kelapa muda, dan gula merah yang dituangi santan dan dibungkus daun pisang. Bungkusan ini dikukus, dan….hmmm, kalau ingat…wah uenake. Di Bogor ada makanan yang hampir sama, disebut Jojongkong. Hanya ada sedikit perbedaan, yaitu roti tawarnya diganti dengan adonan tepung beras. Mbah Carik biasanya hanya meracik bahan, memberi aba-aba dan mengawasi di dapur, tetapi yang menjual di bawah pohon pule adalah Mbok Mumbuk dan kawan-kawan. Ada cerita lucu pada saat menjualnya. Ada pembeli yang suka curang dalam hitungan dengan mengaku lebih sedikit dibanding dengan yang dimakan. Suatu saat ada pembeli makan pipis kopyor, minta dihitung untuk membayar sesuai yang dimakan. Karena pengalaman sebelumnya, Mbok Mumbuk ngotot minta dibayar sesuai jumlah bungkus yang dibuang dibawah tempat duduk si pembeli. Terpaksa si pembeli membayar, padahal sebenarnya sampah itu dari pembeli sebelumnya yang tidak sempat dibersihkan.

Leave a Reply