Serampang Pinang Muda Lima Puluh Tahun Lalu

Serampang Pinang Muda Lima Puluh Tahun Lalu

Oleh : Budiono Santoso

Suatu Senin siang di bandara Sydney, saya menulis cerita ini. Transit dalam perjalanan dari Pasifik. Malam nanti menuju Hongkong. Cerita tentang kenangan semasa Sekolah Rakyat kurang lima puluh tahun lalu. Tadi pagi sempat buka email sebelum berangkat ke bandara. Ada beberapa pesan mengenai tulisan saya sebelumnya tentang Ibu Guru Itu Bernama Noenoek. Cerita yang ini terjadi dalam kurun waktu sesudah kisah tentang ibu guru Noenoek, hanya selang beberapa bulan saja.

Entah dalam rangka apa waktu itu saya lupa, kalau tak salah ulang tahun sekolah kami, SR Masehi Ngampin. Saya saat itu kelas empat. Guru menunjuk kami berdelapan untuk menari serampang Pinang Muda. Sebagian anda pasti pernah mengalami masa masa seperti itu. Dalam acara perayaan sekolah kemudian harus ikut atraksi sesuatu. Saya tak bisa melupakan peristiwa itu walau telah lama berlalu. Kenangan yang sangat indah yang dapat saya ceritakan untuk cucu.

Guru kami namanya pak Pringgo, berkumis tebal, suka cerita, suka senyum, suka seni. Kendaraannya sepeda motor Ducati kalau nggak salah. Beliau yang memilih dan melatih kami menari. Kami yang terpilih ada empat pasang. Saya berpasangan dengan Sisu. Kemudian, Arief Priyadi bersama Purwani, Yatno bersama Warti, Woyo bersama Datiek. Bagi kami semua, ini pertama pengalaman menari. Sangat kikuk ok sebagian besar kami yang laki laki sore hari kerjanya menggembala ternak, sapi, domba atau kuda.

Pak Guru sangat sabar. Tak bosan bosan mengingatkan gerakan langkah atau ayunan tangan kami yang sangat kaku. Seorang pemain musik, tetangga kami, Tanto almarhum sering komentar waktu itu, “Dasare cah angon sapi, ngarit karo macul kok kon nari (dasarnya pelihara lembu, merumput atau nyangkul, kok suruh menari). Tak membuat kami kecil hati. Ini tugas yang harus dilaksanakan dengan baik.

Irama langkah serampang itu sangat dinamis, sesuai dengan kayalan kami selaku anak anak waktu itu.

Pinang muda pinang muda dibelah dua
Pinang muda pinang muda di belah dua
Manis manis sekepal digenggam berkilau bersinar gemilang
Manis manis sekepal digenggam berkilau bersinar gemilang
Sekepal manis manis sekepal digenggam berkilau bersinar gemilang
Sekepal manis manis sekepal digenggam berkilau bersinar gemilang.

Beberapa minggu kami harus berlatih setiap habis pelajaran sekolah. Tak berarti kerjaan rumah selesai. Sore tetap harus menggembala ternak sambil cari rumput. Persis pada harinya, saya ingat ada beberapa acara dari murid. Rombongan kami dapat yang pertama. Begitu tegang. Di barisan tamu paling depan, Penilik Sekolah berdampingan dengan Kepala Sekolah. Ayah saya juga diundang dan duduk bersama mereka. Ayah saya juga seorang guru.

Mereka bertiga semua pakai kaca mata tebal dan nggak satupun yang tersenyum. Mungkin juga tegang, terutama Kepala Sekolah. Hanya pak Pringgo, guru dan pelatih kami yang nampak senyum kesana kemari. Sesekali mengingatkan 鸑angkah dan lambaian tanganmu buat seringan mungkin. Nggak usah takut””

Begitu musik mulai, serentak aba aba diberikan oleh guru. Kami keluar dari dua pintu, putra dari kanan dan putri dari kiri. Irama langkah langkah itu begitu bergairah, riang. Bergerak melangkah lurus, membelok, memutar dan tangan melambai dengan pola yang telah kami hapal. Setiap berputar, membelok, meliuk atau jongkok, pandangan beradu dengan pasangan masing masing. Namun tak sempat tertawa atau tersenyum. Semua serius dan mungkin tegang. Dalam waktu beberapa menit, kami selesaikan serampang Pinangmuda itu dengan sempurna. Saya ingat guru guru saya berdiri bertepuk tangan meriah sekali.

Ada tari Sarinande, dari kelas 3. Saya nggak ingat siapa yang menari, salah satunya tetangga saya bernama Jiti. Koreografer dan pelatih tarinya ibu Kas, guru TK pengganti bu Noenoek yang saya ceritakan dulu. Tarian ini juga sangat indah dan bagus. Tepukan penonton sangat meriah. Tari kotek kotek dari kelas dua. Lucu, saya ingat betul salah satu penarinya berpipi bulat, wajahnya kelihatan ngantuk, tepuk dan geleng2 kepalanya begitu bersemangat dan agak tak seirama tetapi malah kelihatan lucu.

Lupa lupa ingat kemudian rombongan adik saya Ambar dari TK menari dengan iringan lagu lincah,

Berloncat loncat jalan klinciku,
Telinganya bergerak selalu,
Kukejar kejar sampai aku penat,
Tak tertangkap karena cepat.

Saya ingat mereka berpakaian kodok warna putih dan topi kelinci. Ibu guru Kas membawa banyak ide baru di sekolah maupun di kampung kami. Dia lah koreografer yang sangat saya kagumi.

Guru saya begitu bangga waktu itu. Selesai acara kami dikenalkan dengan Bapak Penilik Sekolah. Datiek adalah putri Kepala Sekolah. Yatno dikenalkan kalau bapaknya punya beberapa ekor kuda. Memang ayahnya punya kuda dan andong. Sisu bapaknya bekas tentara, kami kenal sebagai pak Kopral. Petani ikan yang sukses, ok pernah masuk koran Suara Merdeka dengan ikan gurameh seberat 5 kg. Woyo bapaknya adalah Carik. Warti putri kepala dukuh dan Arief dikenalkan jika bapaknya punya sawah luas.

Saya merasa guru sedikit melebihkan dalam memperkenalkan kami. Mungkin karena bangga kami menari dengan bagus. Dia memperkenalkan saya kalau ayah saya punya pemerahan susu dengan sapi lebih dari dua puluh lima. Padahal saya ingat persis sebelum menari dia tanya dan saya beritahu jumlahnya hanya lima belas. Pak penilik sekolah selalu manggut manggut. “Berapa ekor lembunya?” Sekalian saya bilang “Empat puluh pak ” Beliau tak mempermasalahkan. Pak Guru yang melebihkan, sekalian saya tambahi. Dialah yang memulai, saya hanya mengikuti.

Sejak keluar dari Sekolah Rakyat jarang sekali kami kontak kembali. Arief Priyadi sekarang tinggal di Jakarta. Saya bertemu tahun 2000 sesudah puluhan tahun tak bertemu. Pertemuan dengan kesedihan yang mendalam. Anak lelakinya. Wawan tertembak di Semanggi di tahun 1998. Purwani tinggal di Yogya, mempunyai rumah makan yang berhasil. Sisu di kantor kejaksaan Purworejo, saya pernah kontak di tahun 2001. Yatno ikut bapaknya transmigrasi di awal tahun enam puluhan, saya tak tahu kabar beritanya. Datiek saya juga tak tahu tinggal di mana. Woyo bernasib tragis. Saya diberitahu adik saya kalau dia ikut jadi korban kapal tenggelam saat menengok anaknya di Kalimantan akhir tahun 2006 kemarin. Warti tinggal di Ambarawa.

Setiap kali saya menari ballroom saya selalu ingat mereka. Ingin rasanya menari bersama kembali bersama mereka. Irama Pinangmuda itu hanya menjadi kenangan yang tak pernah layu, walau sebagian dari kami telah tiada. Waktu memang bukan milik kami, kami hanya sekedar berjalan menuruti waktu masing masing.

Walau lima puluh tahun telah berlalu, saya selalu ingat siang hari itu. Kami melangkah mengalun dan berdendang pinang muda. Walau tak ada tawa tak ada canda kami taat melangkah dan melenggang menurut irama lagu itu. Hanya itu yang kami bisa. Hanya itu yang kami tak akan lupa, Pinang muda.

Salam untuk Sisu, Arief Priyadi, Yatno, Datiek, Warti dan Purwani. Mari ajari cucu cucu kita Pinang muda.

(Tulisan dimuat di Kolom Kita – Kompas Cyber Media Community)

Leave a Reply