Nyêmêk Yang Selalu Dikangeni

Nyêmêk Yang Selalu Dikangeni

Oleh : Abi Hartomo

Buat saya yang lahir dan berkehidupan jauh dari Ambarawa atau Ngampin khususnya, tempat ini hanyalah sekitar tujuh hari saja dalam setahun dalam hidup saya. Itupun kalau ikut mudik lebaran. Tidak banyak yang saya tahu dan kenang tentang Ngampin dan Ambarawa kecuali sekitar tujuh hari itu saja. Paling utama tentu saja makanan.

Sejak saya kecil, remaja sampai dewasa, saya tidak pernah terlalu antusias pulang ke Ambarawa. Buat saya seperti berhenti memutar roda hidup. Sesampai di Ambarawa juga tidak banyak yang saya bisa lakukan. Satu-satunya kegiatan menyenangkan selain berjumpa saudara adalah makan.

Selain jajanan, tentunya makanan rumah yang dimasak sendiri juga istimewa. Seingat saya setiap ‘rumah’ di antara keluarga-keluarga punya ‘jago’ sendiri-sendiri di saat hidangan lebaran. Hidangan lebaran jelas harus istimewa – tetapi sejujurnya – terkadang melihat penyajiannya yang melimpah ruah sedikit mengurangi selera. Masakan harian di luar suasana lebaranlah yang biasanya terngiang-ngiang di lidah.

Bertahun yang lalu, setiap pulang ke Triworo’s Mansion, tiada yang lebih istimewa daripada nasinya. Saya baru menyadari belakangan bahwa itu disebabkan cara masak yang tradisional. Ditanak. Kompor kayu bakar pula. Entah pengaruh berasnya, tapi kepulenannya juga berbeda. Belum lagi adanya sejenis aroma yang saya tidak bisa jelaskan mungkin dari kayu bakarnya. Dimakan keringan ataupun teman kuah tetap sama enak. Belakangan, nasi sudah dimasak dengan rice cooker sehingga terasa biasa-biasa.

Jeroan tak terlupakan. Sejak jaman di-host oleh bulik En maupun bulik Ning-Gondo, gorengan iso dan babatnya sangat istimewa. Secara visual tampak kecoklatan gelap mungkin berbumbu bacem dan berkilat-kilat/glossy akibat dibumbui gula serta menandakan waktu goreng yang pas – tidak ‘overcook’ yang biasanya tampak kusam. Saya masih ingat rasanya yang dominan manis, tidak ada aroma amis, dan karakter ‘nyakrek’ – liat-kenyal tetapi tanpa perlawanan ketika dikunyah, menandakan bahan jeroan yang masih segar ketika dimasak. Belum lagi dengan teman sambal terasinya. Dua piring nasi kadang tidak cukup mengantar jeroan tadi ke dalam lambung.

Ayam goreng. Bertahun yang cukup panjang lampaunya, ketika ayam goreng yang disuguhkan masih ayam kampung. Secara visual juga istimewa, kuning keemasan juga berkilat-kilat. Permukaan yang biasanya lengkap dengan kulit terasa lengket tanda digoreng dengan suhu tidak terlalu tinggi, mungkin kompor minyak tanah atau malah kayu. Aromanya juga khas, saya lagi-lagi tidak tahu aroma apa, tapi jelas berbeda walaupun dengan ayam kampung goreng di Bandung sini. Kalau boleh menebak mungkin aroma kesegaran daging ayam yang hanya berjarak ‘jam’ dari proses disembelih hingga disajikan. Rasa jangan ditanya. Khas betul! Saya tidak paham benar tapi terasa ada gurih dari air kelapa atau santan yang digunakan merebus. Ada sayup rasa manis. Tekstur daging ketika disajikan panas sangat lembut dan ‘juicy’ berbeda dengan ayam goreng kampung dagangan di kota yang lebih kering. Jadi ingat dik Arif putra bulik Ambar yang senang mengaduk sambal merata pada nasinya ketika menyantap ayam goreng. Cara yang aneh mengingat buat saya sambal lebih enak dicocol saja.

Brongkos. Ini termasuk yang istimewa. Betul-betul hanya di Ngampin saya bisa mengkonsumsinya. Secara visual sangat jelek, kuah kelam dengan campur aduk aneka ‘isi’ mulai dari tetelan, kacang talo(?), tahu, kadang ada tempe, kentang, dan irisan cabai. Kuahnya ‘nyêmêk’. Semua bahan di dalamnya lembek dimasak lama. Rasa sangat khas. Ada gurih (dari santan?), ada semburat pahit seperti rawon, tentunya juga pedas. Menyiramkannya di atas nasi terlebih dengan teman emping goreng benar-benar ‘ngamplêng’.

Pelas Tempe. Inilah ‘most wanted’ setiap saya pulang ke Ngampin. Irisan tempe yang dibumbui lalu dibungkus daun pisang kemudian dikukus. Ketika bungkusnya dibuka, semuanya tampak ‘lêthêk’. Tidak menarik. Aromanya jangan ditanya tempelengannya. Aroma masakan santan dengan bimbingan aroma pete. Perut kenyang pun bisa mendadak kosong. Tekstur tempenya sangat lembut. Terkadang santannya ada yang ‘mengerak’ seperti putih telur yang direbus. Sedikit kuah yang menemani juga luar biasa. Pengalaman suapan pertama biasanya paling istimewa, begitu digigit dan dikunyah, rasanya tak bisa diceritakan – terlalu bercampur baur. Gurih, ditambah pedas, ada rasa ‘penguk’ khas dan juga tiupan-tiupan rasa pete. Belum lagi aromanya yang ikut naik ke hidung ketika dikunyah. Orgasmic experience istilahnya Bondan Winarno petualang kuliner itu. Tiada yang lebih indah apabila datang kiriman dari ‘selatan’, tepatnya dari mbah Kip-mbah Broto. Pelas tempe masakan beliau ini betul-betul kehabisan kata-kata untuk diceritakan kenikmatannya, betul-betul bulat! Menurut bapak saya, kemungkinan besar tempenya lebih dahulu di’bosok’kan.

Selain menu, ada hal lain yang menyebabkan makan di Ngampin terasa nikmat. Yaitu pak Gondo! Setiap melihat beliau makan, rasanya semua berkah duniawi sedang dicurahkan ke atas piringnya. Pasti saya segera ‘nimbrung’, apapun kondisinya. Apapun yang beliau makan semua tampak nikmat. Belum lagi komentar dan ekspresinya ketika makan. Di Triworo’s house sendiri ada istilah yang mungkin cukup kasar tetapi akrab yaitu “badoger” buat para tukang makan. Tidak bermaksud kurang ajar, urutan teratas tentunya pak Gondo, lalu ada dik Bagas dan (dulu) Bolo kakak saya, lalu saya. Sayangnya pak Gondo belakangan agak menjaga makan karena mungkin hipertensi. Mudah-mudahan pak Gondo dapat normal permanen kembali tensi darahnya seperti di masa jaya. Supaya bisa kembali makan-makan tanpa kuatir. Amin.

Tanpa mengurangi penghargaan dan rasa terima kasih telah disuguhi, semenjak adanya dapur modern di Triworo’s house, masakannya jadi agak berbeda. Tidak se’ndeso’ dahulu. Masih sama enak tapi ada sesuatu yang hilang. Paling terasa pada masakan yang biasa dimasak ‘nyêmêk’ seperti pada beberapa masakan bersantan dan berkuah kehilangan karakter ‘nyêmêk’nya. Dulu masak Indomie rebus saja bisa ‘nyêmêk’ di Ngampin.

Menurut saya, definisi ‘nyêmêk’ itu sulit. Bahasa Indonesia maupun Engles tidak memiliki kata yang mewakili. Buat saya, yang paling mendekati, ‘nyêmêk’ adalah kondisi masakan berkuah yang ‘content’nya seolah meluruh ke kuahnya. Biasanya cenderung kental. Tapi kental tidak berarti ‘nyêmêk’.

By the way, beberapa waktu lalu saya hampir tidak tahan untuk ‘misuh-misuh’ di restoran ‘Bakmi Jawa’ di Bandung sini. Mengapa? karena ‘Bakmi Rebus Nyêmêk’ yang mereka cantumkan pada menu tak lebih dari bakmi rebus yang kuahnya sedikit dibuang. Ini penipuan besar-besaran. Ini pendangkalan makna kata ‘nyêmêk’! Akhirnya saat itu tak ada yang bisa saya lakukan kecuali SMS, curhat sama dik Aryo putra pak So yang langsung usul buat restoran ‘Bakmi Godok’ yang sanggup ‘nyêmêk’ betulan di Bandung. Sementara saya cenderung ingin buka warung ‘Lontong/Kupat Gule’ resepnya bulik Imung pak So yang betul-betul ‘mak nyussss…’

Salam ngecés… cés… cés…

Leave a Reply