mBah Soerjati Djojosastro – Potret Wanita Tegar

mBah Soerjati Djojosastro – Potret Wanita Tegar

Oleh : Budiono Santoso

Sewaktu melihat foto foto keluarga Djojosastro, saya melihat wajah yang sangat familier. Wajah almarhum mbah Soerjati yang tinggal di Sumowono. Kami memanggil beliau Budhe Lurah Sumowono. Saya nggak tahu pasti sebabnya, waktu itu selalu jabatan atau tempat yang menjadi nama panggilan. Mungkin karena kebiasaan saja. Di negeri Belanda pun orang sering dikenal dengan nama asalnya.

Beliau sering datang ke rumah di Ngampin, kadang menginap di rumah adiknya di tengah ( rumah Pakdhe Amin) atau di rumah kakaknya di timur ( Pakdhe Tajib). Ayah saya adalah adiknya selang satu. Bicaranya selalu pelan dan berat. Kadang nampak tanpa emosi. Beliau wanita yang kuat , keras dan tegar.

Kami selalu siap menjawab pertanyaan pertanyaan yang kadang di luar dugaan. “Nang sekolahan ki ya diwarahi bedigasan So ?” Pertanyaan itu sebenarnya menyindir, kalau kami sedang ramai ramai bergurau dan bermain di halaman. Saya memang tidak biasa disindir, dengan entheng ya menjawab “Injih Budhe”. Pertanyaanya biasanya berlanjut “Gurumu jenenge sapa le ?” Jika saya sebutkan nama guru saya, beliau akan menggumam “Muride wong edan.” Kemudian baru saya terpikir kalau beliau mungkin sedang tidak berkenan, karena kami ramai main dan bergurau. Mau langsung marah mungkin nggak enak. Yang jadi sasaran kok guru saya yang nggak tahu apa apa. Anyway, it is not my problem.

Waktu berjalan terus. Di tahun lima puluhan beliau sering datang ke rumah. Pasti membawa sesuatu. Kadang kami merasa kangen kok lama beliau tidak kelihatan. Pernah suatu ketika bertanya, saya masih kelas tiga atau kelas empat. “Wis diwarahi ilmu bumi le ?” Jelas saya jawab sudah, peta Jawa hapal. “Ngerti Sumowono?”. Pertanyaan yang sangat naďf, masak Sumowono ditanyakan. Kesulitan saya waktu pelajaran ilmu bumi peta buta, hanya membedakan mana Malang, mana Madiun. Mana Purbalingga, mana Probolinggo. Sewaktu saya jawab jelas tahu pertanyaannya berlanjut “Nek wis ngerti kok ora tau dolan nggonku. Aku sing kok kon rene terus.” Sekali lagi pertanyaan itu hanya menyindir.

Saya berkunjung ke rumah beliau pertama kali saat di kelas lima. Saya lupa sama siapa, kalau tidak salah berdua. Naik opelet dri Ambarawa Bandungan, di sambung Bandungan ke Sumowono. Saat itu seperti bepergian sangat jauh. Banyak pertanyaanya, biasanya yang lajim untuk basa basi “Pakmu gek ngapa ?” Saya nggak banyak bicara dengan beliau, hanya menjawab pertanyaanya. Bahasa Jawa halus saya selalu menjadi sasaran empuk. “Sing ngajari basa Jawa, gurune jenenge sapa ?” Retorika akan terulang “Gurumu ora nggenah.” Namun saya sangat menikmati masakan beliau, makanan khas Sumowono. Pasti selalu makan jika ke sana, jam berapapun. Saya tak hapal berapa kali waktu itu ke Sumowono.

Saya tidak tahu persis kapan, tetapi di tahun 1961 atau di tahun 1962, saya sudah bisa naik sepeda. Sepeda torpedo tua merk BSA. Torpedo artinya remnya tidak di tangan tetapi di kaki, dan sepedanya nggak bisa mundur. Saya sore2 mau beli gula di Ambarawa. Lewat rumah tengah, tempatnya pakdhe Amin, almarhum mas Pram sedang duduk di boek di tepi jalan. Dia menghentikan saya. “Budhe Sumowono wis suwe nunggu andong ora entuk entuk. Boncengna di derekke nang Mbahrawa.” “Pitku ora nggo boncengan je mas.” “Ora apa apa, wis kulina nang ndalangan.” Dhalangan adalah penghubung antara sadel dan setang. Biasanya kalau nggak ada dudukan boncengan, kalau boncengan ya duduk di depan di dhalangan itu.

Saya pelan pelan menuju ke timur dan berhenti di tempat Budhe menunggu andong dimuka rumah Pakdhe Tajib. Saya bicara hati hati sekali dalam bahasa Jawa halus. “Dalem derekaken budhe.” “Pitmu ora ana boncengane, aku kok kon lungguh ngendi?” Saya bilang katanya mas Pram budhe sudah biasa duduk di dhalangan sepeda. Dia menggumam tanpa emosi “Nengklek-e Pram bejad, aku kon lungguh nang dhalangan.” Saya hanya diam dan pamit untuk terus. Beberapa hari kemudian saya ketemu mas Pram, saya bilang “Jarene Budhe, nengklekmu bejad je mas, Budhe kon boncengan nang ndalangan.” Jawabnya entheng “Kono sing gebleg, ora isa le matur.” It is not my problem. Dia pasti akan kena semprot sebulan lagi.

Kunjungan saya ke Sumowono terakhir saat beliau masih sehat di tahun 1975. Saya baru saja kawin, datang dengan Imung. Masih seperti dulu beliau masak makanan kesukaan saya. Saya ingat benar, makan dengan keluban dan ikan asin. Sangat nikmat dengan hawa Sumowono yang dingin waktu itu. Imung mengingatkan saya untuk tidak makan terlalu banyak.

Budhe punya 3 putra (lihat http://djojosastro.info/images2/_2_Soerjati.gif), mbak Sri Oetari, mas Supomo dan mas Hadisuwarno. Saya tidak tahu persis cerita tentang mas Supomo. Saya ingat mbak Srie, seorang aktivis wanita. Dia hilang diambil tentara di huru hara di pertengahan tahun enam puluhan. Mas Suwarno, tentara, pangkat terakhir mayor, komandan batalyon di Purwokerto, meninggal di tahun 1959. Saya tak pernah bertanya mengenai putra putri beliau. Beliau rapi menyimpan dan menahan perasaannya.

Saya yakin sebagai seorang ibu, beliau pasti sangat sedih dan terpukul kehilangan putra putrinya semua mendahului. Beliau wanita yang tegar dan kuat. Saya melihatnya terakhir waktu beliau sakit karena jatuh. Dirawat di RS DR Suharso Solo. Saya lupa tahun berapa persisnya. Dia mengungkapkan kesedihannya ditinggal duluan oleh putra dan putrinya. Saya tak bisa menahan air mata melihatnya tak berdaya. Beliau yang nampak sedih kehilangan putra dan putrinya. Beliau berkata sudah siap untuk pergi. Dan memang akhirnya beliau pergi selamanya di tahun itu, saya lupa persisnya. Saya akan selalu mengingatnya dengan rasa hormat dan kagum. Saya menutup catatan ini dengan tetesan air mata, membayangkan kesedihan beliau kehilangan putra putrinya. Saya juga mengalaminya tetapi tidak setegar beliau.

Manila, 21 April 2007

Leave a Reply