Mbah Soemijarso Purwo – Mbah Salatiga dalam Kenanganku…

Mbah Soemijarso Purwo – Mbah Salatiga dalam Kenanganku…

Oleh : Abyuta Wiksa Pranandira (Yuta)

Dalam tiga setengah tahun kehidupanku, mungkin baru sedikit yang kutahu tentang Mbah Salatiga Kakung – Mbah Soemijarso Purwo. Tetapi yang sedikit itu Insya Allah akan membekas di relung hati dan ingatanku, sampai aku dewasa nanti.

Tiga setengah tahun yang lalu (sekitar bulan Maret 2001), pertama kali aku ketemu sama Mbah Salatiga Kakung. Saat itu Mbah Salatiga sekalian menyempatkan rawuh ke Bogor untuk menyambut kelahiranku. Sayangnya, pertemuan pertama kami dibatasi oleh kaca Ruang Perinatologi RS. Mitra Internasional Jatinegara, Jakarta. Pasalnya, karena lahir terlalu cepat (usia kandungan 7 bulan), aku harus tinggal selama 45 hari di inkubator untuk menguatkan badanku yang saat lahir cuma seberat 1.25 kg. Untung sekali, paru-paruku sudah bisa bekerja sempurna, jadi aku tidak perlu lagi bantuan respirator, yang biaya sewanya Rp. 1 juta per hari. Meski setiap bezoek suasananya tidak selalu ceria (misalnya kalau berat badanku nggak naik2), kelihatan sekali bahwa Mbah Salatiga Kakung sangat bahagia dengan kelahiranku.

Bahkan malam menjelang kelahiranku, Mbah Salatiga-lah yang pertama kali ditelpon Bapakku. (tanggal 8 Maret dini hari. Jam 03.00). Karena Bapak-Ibu tidak sampai hati menyampaikan langsung pada Mbah Kung/Mbah Uti Wiratno tentang kemungkinan kelahiranku yang ‘kurang bulan’.

Nggak tahu kenapa, tiba-tiba nama Mbah Salatiga-lah yang terpikir oleh Bapak-Ibu saat itu. Bapak-Ibu minta tolong Mbah Salatiga untuk menyampaikan pada Mbah Kung dan Mbah Uti, tentu dengan bahasa yang lebih tenang, dibandingkan kalau Bapak-Ibu sendiri yang menyampaikan.

Pertemuan2 selanjutnya selalu diwarnai dengan gelak tawa karena Mbah Salatiga Kakung memang humoris. Setiap ada beliau, pasti suasana menjadi sangat meriah. Sering Mbah Salatiga nggangguin aku sampai aku ‘marah’. Beberapa pertemuan yang kuingat : saat sama-sama menghadiri pernikahan Pak Agung Widyarto di Jakarta, Lebaran 2002 di rumah Pakdhe/Budhe Wignyo/Kun di Ambarawa, slup-slup-an rumah baru Pak Danto Indrasworo di Bogor, lamaran dan pernikahan Pak Awang di Jakarta, pas nengok Mbah Yut Pratik Putri sakit di Semarang, dan terakhir tentu saja pada saat kelahiran adik perempuanku, Dik Niken Prama Anindhita, di Bogor. Bersamaan dengan rawuhnya Mbah Kawi sekalian – Mbah Soekarno Purwo.

Tepat sebulan sebelum beliau berpulang, Mbah Salatiga rawuh dalam rangka acara aqiqah aku dan Dik Dhita di Bogor (5 September 2004). Memang, sudah beberapa hari Mbah Salatiga ada di Bogor. Nengok kelahiran Dik Dhita dan tentu saja sambil sekalian nengok Pak Danto, Bu Ria dan Bu Vina, putra-putrinya, yang bekerja di Bogor dan Jakarta.

Saat itu kondisi Mbah Salatiga terlihat sangat pucat dan rapuh. Badannya panas terus dan dhaharnya tidak banyak. Sempat beliau ditawari untuk menggunakan termometer digital punyaku untuk mengukur naik turun suhu tubuhnya (supaya lebih mudah dan cepat), tetapi beliau tidak mau. Malahan memilih termometer air raksa yang konvensional. Hari-hari beliau di Bogor diisi dengan berobat alternatif. Meski dalam kondisi sakit, tetap saja kelucuan beliau tidak berkurang. Panggilanku ke Mbah Salatiga-pun dijadikan bahan becandaan dan dilagukan : Mbah … Sa .. la .. ti .. ga ..! Sambil mukul2 gendang.

Pada saat Pak Agung Widyarto dan Mbah Kudus (Mbah Mintarsih) nengok Dik Dhita, Mbah Salatiga juga rawuh ke rumahku (beliau menginap di rumah Pak Danto, sekompleks dengan rumahku). Pertemuan tersebut ternyata menjadi pertemuan terakhir ku, Bapak dan Ibu dengan Mbah Salatiga karena sebelum beliau pulang ke Salatiga, Bapak-Ibu dan aku sempat datang ke rumah Pak Danto, tetapi Mbah Salatiga sekalian dan Pak Danto sedang tidak di rumah. Kami hanya sempat ngobrol lewat telepon.

Kepergian Mbah Salatiga untuk selamanya sama sekali tidak pernah kami duga. 40 hari sebelumnya beliau bahkan masih sempat melayat Mbah Sri Rahayu yang seda dan disemayamkan di rumah Pak Ifak dan Bulik Wien. Malam sebelum Mbah Salatiga berpulang, kami semua tidak ada yang tidur. Bahkan Dik Dhita yang baru berumur 2 bulan pun ikutan bangun. Pak Tunggul secara berkala mengabarkan kondisi terakhir Mbah Salatiga ke Bapak dan Ibu di Bogor. Sampai akhirnya, Innalillahi Wa Innaillaihi Rojiun, Pak Tunggul mengabarkan kepergian Mbah Salatiga pada tanggal 5 Oktober jam 6.20 pagi.

Selamat jalan Mbah Salatiga. Semoga Mbah tenang di sisi-Nya. Banyak pelajaran yang Mbah berikan yang mungkin baru akan aku mengerti setelah aku dewasa nanti. Hidup dengan optimisme yang tinggi, positive thinking namun tetap easy going.

Untuk mengenang beliau, Bapak membuat VCD yang berisi cuplikan-cuplikan peristiwa yang sempat direkam oleh Bapak. Kalau kangen, aku suka nyetel VCD tersebut dan melihat Mbah Salatiga sedang menyanyi campursari di salah satu acara Halal BiHalal, kalau tidak salah judulnya ‘Randa Kempling’. Tidak terasa, air mataku menetes …

Bogor, 20 Desember 2004.
Cucunda, Abyuta Wiksa Pranandhira (Yuta).

Leave a Reply