Kresno – Cerita dari Bedono

Kresno – Cerita dari Bedono

Oleh : Budiono Santoso

Saya hanya mengenalnya lewat cerita yang tersisa. Cerita sepatah sepatah dari bapak atau famili famili lain. Tentang Kresno. Kisah ini saya tulis berdasarkan penjelasan dari Bp Subroto Djojosastro. Perasaan saya larut di dalamnya sewaktu menulis catatan ini.

Catatan kecil ini hanya untuk mengingatnya kembali. Terutama untuk generasi muda Djojosastro, yang sebagian besar mungkin tak pernah tahu tentang dia. Tak ada siapa yang terdekat dengan Kresno yang bisa membantu untuk mengingatnya. Karena tak ada lagi yang tersisa dari keluarganya. Garis keturunan hilang karena kematiannya. Hanya keiklasan hati para generasi muda Djojosastro yang dapat membantu untuk tetap mengingatnya dalam sejarah keluarga. Agar dia tak hilang begitu saja. Dia pernah ada diantara cucu cucu terdahulu Djojosastro. Dia telah mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan republik ini. Kenanglah dia.

Dia meninggal lebih dari enampuluh tahun lalu. Tahun 1945 dalam pertempuran heroik melawan pasukan Sekutu di Bedono, di desa tempat tinggalnya, tempat kelahirannya. Dia dimakamkan di makam pahlawan Kusuma Bantolo, Bedono. Dekat dengan tempat kelahiran dan kematiannya. Saya merasa bersalah seolah melupakannya, dan belum pernah menjenguk makamnya. Nama lengkapnya Sukresno. Dia adalah cucu Djojosastro, putra tunggal ibu Soewidji dan bapak Satrowardojo almarhum. Tak ada foto atau dokumentasi lain mengenai Kresno atau keluarga mereka. Keluarga itu seperti hilang, musnah termakan perjalanan waktu. Tak ada yang tersisa dari mereka.

Kresno lahir di tahun 1928, tak tahu kapan tepatnya. Dia sekolah sampai kelas VI di HIS Ambarawa. Dia kawin dalam usia muda, suatu kebiasaan yang biasa ditemukan waktu itu. Isterinya adalah Soenarti. Dia masih pengantin baru ketika gugur, baru kawin beberapa bulan sebelumnya.

Seperti yang diceritakan Bp. Subroto, Kresno beserta teman temannya, anggota kelompok angkatan muda waktu itu, telah merencanakan operasi penghadangan konvoi pasukan Sekutu. Pasukan Sekutu bergerak dari arah Magelang menuju Ambarawa setelah melucuti pasukan Jepang yang menyerah. Gerakan pasukan Sekutu ke Ambarawa disebabkan karena desakan dari pasukan dibawah komando jenderal Sudirman. Konvoi sampai di desa Bedono sore hari menjelang malam, entah tanggal persisnya. Gerakan konvoi terhanbat oleh karena barikade telah dipasang oleh para pemuda tadi. Pohon pohon ditebangi dan ditaruh di jalan untuk menghambat konvoi yang lewat. Kresno yang pada waktu itu baru berumur tujuh belas tahun bersama kurang lebih tiga puluh lima anggota Angkatan Muda, melakukan operasi penghadangan di sekitar lokasi rumah makan kopi Eva sekarang. Hanya ada beberapa pucuk senjata.

Semasa masih hidup dia selalu bercerita bahwa dia sangat bangga akan granat tangannya. Dalam angan angannya, dia selalu cerita jika dia akan menghadang pasukan musuh dengan geranat tangan itu. Dia akan tertembak dari belakang dan gugur. Tetapi para bidadari akan menyambutnya di alam sana. Kelakar itu menjadi kenyataan. Ada kendaraan Sekutu yang berhasil diledakkan memang. Jelas jatuh korban di pihak mereka, tetapi tak jelas berapa persisnya. Namun pertarungan berjalan tak seimbang. Anak anak muda yang hanya berbakat semangat dan beberapa pucuk senjata, melawan konvoi pasukan Sekutu yang didalamnya ada tentara Gurkha dan Jepang yang menjadi tawanan Sekutu. Kresno dan kawan kawannya terjepit oleh karena musuh mengambil jalan pintas melalui rel kereta api dan menyerang mereka dari belakang. Mereka mundur lewat jurang. Pasukan musuh terus mengejar dan menjepitnya. Malam itu anak anak muda itu gugur di tanah mereka, di desa mereka sendiri.

Pagi harinya, ayah Kresno, Bp. Sastrowardojo, telah merasa bahwa anaknya telah meninggal. Dia beberapa kali mengungkapkan kata kata bahwa Kresno telah gugur. Pagi itu Bp. Lurah Bedono yang juga mertua Kresno ditangkap bersama putranya Nardi. Mereka sedang berusaha mengibarkan bendera merah putih di halaman kelurahan ketika itu. Mereka diinterogasi mengenai penghadangan dan pemasangan barikade itu oleh tentara Sekutu. Beberapa kali ayah Kresno dipanggil ke kelurahan, tetapi berkata, “”Nanti dulu baru nggak enak badan”. Dia memang gelisah memikirkan kehilangan putra satu satunya malam itu. Pasukan Sekutu masih bertahan di desa Bedono.

Pak Sastrowardojo, akhirnya menuju kelurahan lewat jalan belakang, tanpa menyadari kalau pasukan musuh masih berada di semua titik. Dia tertangkap. Bersama dengan pak Lurah dan putranya Nardi, pak Sastrowardojo dibunuh secara keji oleh musuh. Dipancung. Ibu Kresno, Ibu Suwidji meninggal beberapa tahun kemudian. Dari beliaulah cerita saat saat terakhir tentang Kresno dan ayahnya sempat dituturkan ke sanak saudara. Sunarti, isteri Kresno, kemudian menjalin rumah tangga dengan pak Tjipto sampai akhir hayatnya. Mereka kemudian terkenal dengan kopi Evanya.

Catatan ini sama sekali belum lengkap. Mungkin ada putu atau buyut Djojosastro yang akan melengkapi. Marilah kita kenang Kresno. Tak ada yang tersisa dari dia dan keluarganya. Kunjungilah peristirahatannya yang terakhir, makam pahlawan Kusuma Bantolo di Bedono. Anak anak muda Djojosastro, lengkapilah kisah ini. Saya yakin banyak catatan bisa digali kembali. Kita tak punya apa apa lagi untuk mengenangnya. Hanya catatan itu yang bisa kita cari.

Saya menutup kisah ini dengan kesedihan yang mendalam. Merasa bersalah. Tak pernah menjenguknya. Tak pernah mengungkap ceritanya.

Budiono Santoso

Leave a Reply