Kenangan Mudik Lebaran

Kenangan Mudik Lebaran

Oleh : Abi Hartomo

Saya teringat bertahun lalu dikala perayaan-perayaan Idul Fitri saya alami di kampung ayah di Jawa Tengah dan tradisi sungkemannya secara khusus. Menjelang lebaran, bagi saya ketika masih anak-anak adalah waktu yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Kesenangannya tentu semua sudah memahami, jadi tak perlu diceritakan.

Kesebalannya terutama karena kira-kira H -4 kami sekeluarga sudah harus bersiap ‘mudik’ ke Ambarawa, Jawa Tengah. Puji syukur ayah kami merantau ke Bandung sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri (yang katanya) terkemuka di negeri ini, sehingga kami bisa mudik dan berpartisipasi memenuhi jalur Pantura dengan mobil pribadi (mulai dari Land Rover-long Chasis, hingga Daihatsu Taft HiLine-long chasis pula)

Kesebalan pertama, sebagai anak bungsu, saya harus duduk di kursi terbelakang, yang posisinya menghadap samping (seperti angkot-angkot di kota Bandung) bersama tumpukan barang serta oleh-oleh dari Bandung. Kesebalan kedua adalah perjalanan yang melelahkan, mulai pagi hari dari Bandung, Sumedang, Cirebon, dan biasanya saya sudah muntah pertama kali di sekitar kota Tegal sebelum makan siang. Lalu Pekalongan, Kendal, Semarang dan akhirnya Ambarawa di malam hari. Itupun kalau tak macet di Pantura dengan pasar-pasar Lebaran dadakannya. Kadang kamipun lewat jalur selatan yang sama saja menyebalkan.

Sesampainya disana, kesebalan ketiga muncul karena saya teringat kawan-kawan di Bandung yang masih bisa bersama-sama tarawih dengan kawan sekompleks (bahkan kadang mereka mencibir, “mudik? kaya’ babu aja!”) Sementara disini saya tidak punya teman sebaya. Kalaupun dekat, kira-kira sudah 4 tahun lebih tua atau 4 tahunan lebih muda.

Kesebalan berikutnya adalah tidur ‘umplek-umplek’an. Walaupun rumah kakek cukup luas, namun cukup repot juga untuk menampung ke 9 putra-putrinya berikut keluarga mereka. Terlebih cuaca disana yang panas tapi lembab, sehingga bergerak sedikit saja pasti sudah bersimbah keringat, apalagi buat saya yang terbiasa di kota Bandung.

Kesebalan berikutnya (yang keberapa ya?) karena tidur ‘umplek-umplek’an tadi, kami yang anak-anak tidur dimana saja, kadang di lantai pendopo dilapisi tikar atau kasur. Pagi hari dalam suasana lebaran, kira-kira pukul 5 atau 6 sudah dibangunkan (paksa) karena pendopo sudah akan dipakai terima tamu yang akan ‘sowan’ ke kakek, lalu tidak bisa pindah tidur. Walhasil bengong-bengong saja sambil terkantuk.

Kesebalan berikutnya adalah karena kamar mandi yang hanya tersedia dua buah. Kami harus antri mandi, kami yang anak-anak harus menunggu setelah kaum tua selesai mandi. Namun ketika mereka selesai dan melihat kami belum mandi, pasti akan ada bentakan, “bukannya cepat mandi!!” “…lho bukannya tadi dipake sama bapak-bapak dan ibu-ibu?”. Hal demikian terulang di kala makan, setrika baju dll. O ya mengenai cuci baju, nantinya di saat pulang kembali ke Bandung, kadang saya kehilangan baju-baju baru yang dibeli untuk berlebaran, atau malah membawa pulang baju baru milik sepupu atau saudara lainnya.

Yang paling menarik adalah tradisi sungkeman, apabila dilakukan acara halal bi halal, seluruh keluarga besar berkumpul untuk kemudian mengadakan sungkeman. Bukan hanya dari keluarga kakek secara lurus, melainkan juga dari keluarga lain dari garis ayah kakek saya. Hari itu ada (kira-kira) 150 – 200 orang yang berkumpul, mungkin lebih. Pada saat yang ditentukan, kami berbaris, didahului oleh para tetua, kemudian generasi anak, kemudian generasi cucu (generasi saya), antriannya mungkin bisa mencapai puluhan meter. Nah yang kala itu menyebalkan adalah ‘mlaku ndhodhok’ alias jalan jongkok menuju kursi para tetua, yang menyenangkan bagi saya sebagai anak-anak adalah saat itu kami bisa menjahili saudara lain, bisa dorong-dorongan atau menjorok-jorokkan kepala ketika antri. Mlaku ndhodhoknya betul-betul bikin pegal.

Hal ini terus dilakukan tiap tahun-tahun berikutnya dan yang menarik adalah perubahan ‘kaca mata’ saya terhadap hal tersebut.

Ketika anak-anak, hal tersebut menyebalkan karena harus antri lama untuk melakukan hal yang saat itu nggak jelas maksudnya. Ketika saya agak dewasa, sekitar SMP sampai SMA, masih menyebalkan tapi mulai menyenangkan karena yang umuran sekitar itu, ketika sungkeman mendapat ‘salam tempel/wisit’ baik dari kakek (nenek sudah wafat ketika saya belum terlalu ‘ingat’), om-om, tante, dan ayah sendiri. Jumlahnya lumayan. Pokoknya pulang ke Bandung bisa mengantongi uang sekitar Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung rejeki pemberi ‘wisit’ sebelumnya. Bila ada om yang rejekinya bagus, bisa memberi hingga Rp 20 ribu perorang, tapi minimal Rp 5 ribu perorang pasti di tangan.

Ketika makin dewasa (awal masa kuliah), hal tersebut kembali makin menyebalkan, terutama ketika dogma-dogma modern masuk ke kepala. Sungkeman saya pandang sebagai hal simbolis yang membuang waktu. Terutama ditambah fisik saya yang cukup manis berlemak yang menyulitkan mlaku ndhodhok. Wisit sudah mulai ditolaki karena malu. ‘Profit margin’ berlebaran sudah tidak terasa lagi. “Ndak usah Paklik/Bulik” begitu kalau ditawari uang wisit, kadang sambil berpikir sesal juga menolak uang 20 ribuan.

Kemudian setelah kakek wafat, acara sungkeman tidak dilakukan lagi. Terus terang saya senang, tidak usah melakukan hal ‘aneh-aneh’. Sebetulnya masih ada di rumah tetua lain ‘sisa’ generasi kakek. Tetapi saat itu saya sudah punya hak ‘veto’ untuk tidak ikut sowan atau sungkem. Bahkan saya sudah punya hak veto untuk tidak ikut mudik, baik alasan kuliah maupun tugas-tugas.

Saat ini dikala ‘sisa’ generasi kakek sudah mulai ‘habis’, kelihatannya buat ayah sudah tidak ada kewajiban lagi untuk mudik, sehingga keluarga saya sudah kira-kira 3 tahun belakangan ini tidak mudik.

Sekarang kok anehnya saya kangen dengan suasana itu.

Saya mulai merasakan ‘kerinduan’ untuk mudik, untuk macet-macet’an di Pantura, untuk sungkem, untuk tidur ‘umplek-umplek’an dengan sepupu dan hal lain-lainnya yang dulu menyebalkan di kala saya masih anak-anak. Saya mulai menyadari bahwa saat sungkeman itu adalah saat dimana tetua bisa menyaksikan generasi penerusnya tumbuh sehat dan siap melanjutkan ‘trah’ mereka. Saya yakin mereka sangat bahagia di kala itu. Saya yakin bahwa saya tidak akan pernah lagi merasakan suasana sungkeman lebaran. Kelak saya juga tidak bisa memaksakan sungkeman kepada keturunan saya, mengingat hak veto dan hak demokrasi yang semakin besar dan juga kemajuan yang akan membuat anak-anak sedari kecil telah membenci tradisinya sendiri lebih awal lagi.

Hal yang menarik adalah bagaimana ‘kaca mata’ saya memandang sebuah hal yang terus menerus berubah, suatu waktu sebal, waktu lain sebal plus senang, di waktu lain tambah sebal, dan saat ini rindu ingin merasakan kembali, dan hal itu semata-mata dipengaruhi sekedar oleh perubahan umur dan cara saya memandangnya. Kemudian saya teringat lagi bahwa itulah fitrah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Manusia bisa sekeras batu, bisa pula semudah angin merubah arahnya. Mungkin lebaran tahun depan saya sudah punya pikiran lain, bahkan mungkin bulan depan atau mungkin minggu depan atau mungkin besok pagi?? Saya cuma manusia.

Terima kasih untuk telah membaca sampai pada bagian ini.

Salam sejahtera,
(Bandung, Januari 2000)

Leave a Reply