Edy Prasetyo Utomo – Senang Sebagai Naturalist

Edy Prasetyo Utomo – Senang Sebagai Naturalist

Oleh : Edy Prasetyo Utomo

Hal yang saya ceritakan ini muncul dari saat saya masih kecil, mungkin taman kanak kanak desa Ngampin (1962). Mengapa didepan rumah terlihat pegunungan, naik sedikit kearah utara terlihat rawa pening yang masih sebagian besar adalah air waktu itu , bukan enceng gondok seperti terlihat sekarang. Lembah Ambarawa bagaikan baskom alam yang dikelilingi pemandangan pegunungan mempesona dari kejauhan. Adakah hal tersebut mempunyai arti lebih dalam ??. Pernah suatu saat waktu masih SD latihan lari marathon sampai ke desa Kelurahan; disana melihat ada susunan batu seperti kueh lapis di perbukitan yg membatasi sawah. Masih bermain disekitar Ngampin tepatnya dusun Ngampin Kulon, disana ada Kali Soca yang mata airnya cukup besar keluar dari dalam tanah. Ini menjadikan banyak pertanyaan yg menumpuk tidak terjawab. Pertanyaan ini selalu ada di benak saya sampai melanjutkan di SMA SantoYoseph, Solo (1972-1974). Pada waktu SD, SMP dan SMA, pelajaran yang terkait dengan alam rasanya seneng untuk mendengarkan dan membacanya. Mungkin waktu SMP nama pelajarannya ilmu bumi alam dan di SMA mata pelajaran geografi dan alam falak ?? (lupa-lupa ingat). Diceritakan oleh seorang guru SMP yang mungkin aslinya dari Gunung Kidul, bahwa disana banyak gua dan kotoran binatang di gua-gua. Walaupun bukan guru ilmu bumi, tetapi beliau suka cerita banyak tentang alam. Saya hanya menyimak dalam-dalam dan berkeinginan melihat suatu saat entah kapan, apakah bisa ?. Sewaktu di SMA pada suatu pelajaran diceritakan bahwa di Sangiran ada tengkorak manusia purba yg konon umurnya jutaan tahun. Waktu itu belum tahu arti fosil, tetapi hanya berpikiran mosok jutaan tahun lalu ada kehidupan manusia. Setiap ada pelajaran dan cerita tentang alam, rasanya yg tadinya ngantuk berubah jadi ingin memperhatikan.

Di Ngampin, sewaktu masih tinggal disana, banyak dijumpai aneka tanaman yg saat ini ternyata sulit dijumpai, misalnya midro, garut, rumput cowekan, kapulogo, rumput teki, gembili, bunga bangkai, aren, daun cing-cau (untuk minuman), brotowali dll. Rasanya ingin saat itu bisa mengenal lebih jauh tentang tanaman tersebut.

Masih di kehidupan Ngampin, kami semua anak-anak dipaksa harus tahu bagaimana beternak sapi, ayam, kambing, kuda dan babi sekalipun. Maklum peliharaan tersebut adalah sekaligus menjadi sumber biaya sekolah kami.

Akhir perioda sekolah SMA sudah dekat, pada saat tersebut ayah saya bertanya mau melanjutkan ke sekolah mana ??. Untuk hal ini saya dapat memilih secara demokratis tanpa ada tekanan orang tua, dari yang biasanya hanya harus nurut dan strict. Masih ingat jika sampai terlambat bangun, berarti ciloko dan ciloko. Biasanya jam 3.30 pagi sudah harus siap memerah susu sapi, susu kambing & persiapan yang lain.

Pemilihan sekolah yang tidak pernah dikenali sebelumnya. Geologi adalah jurusannya. Saya tidak memilih jurusan lain yg populer seperti kedokteran, elektro, pertanian, sipil, Biologi dll. Bahkan jurusan ini termasuk kering, langka dan tidak diminati waktu itu karena sulit cari pekerjaan ??. Kalau mengenai alam yang menyangkut tanaman dan hewan (hayati) perasaan sudah sering bergelut, tetapi kalau yang non-hayati rasanya masih buta sama sekali. Ini sebabnya saya memilih jurusan geologi, yang mungkin dapat menjawab tumpukan pertanyaan saya sejak kecil. Teknik Geologi UGM saya masuki di tahun 1975. Untuk menuju lulus di UGM waktu itu masih sulit, artinya diperlukan waktu cukup lama sekolah, ada yg 8 th, 10 th bahkan 15 tahun baru selesai. Rata-rata antara 8 s/d 9 tahun baru selesai. Siapa cepat menyelesaikan tugas akhir, ya akan cepat selesai. Saya bukan mahasiswa dengan nilai tertinggi, tetapi saya berhasil menjadi lulusan kedua tercepat di angkatan saya yg selesai dalam 6 tahun. Segera setelah lulus 2 minggu kemudian saya mulai ngantor di LGPN (Lembaga Geologi & Pertambangan Nasional) – LIPI waktu itu dan sekarang berubah menjadi Pusat Penelitian Geoteknologi-LIPI

Kenangan Tugas Akhir Pemetaan Geologi di pelosok-pelosok desa di Kec. Karanggayam, Kab.Kebumen & Kab.Banjarnegara tahun 1979. Diwajibkan seluruh mahasiswa menyelesaikan pemetaan geologi dengan luas wilayah 9 x 9 km2. Daerah ini secara geologi sulit dipetakan, karena keanekaragaman batu dan struktur geologi-nya. Selama sebulan tinggal di ibu Lurah desa Clapar (kepala desa-nya wanita) yang baik hati, dan tiap hari berjalan kurang lebih 16 km melewati sungai dan jalan setapak naik turun gunung. Tidak ada jalan aspal, semua harus berjalan kaki. Makanan pokok penduduk disini adalah budin/oyek (berasal dari singkong/cassava), dan sayur selalu pedas (cabe rawit). Saya sering nangis kalau tidak bisa mengenali nama batu, terutama batu yang sudah termetamorfosa. Saking bingungnya saya kasih nama batu koplo-01, 02, 03 dst. Setiap ada batu bernama tersebut berarti saya bingung. Nama batu baru dapat dipastikan setelah saya sayat sampai 0.1 mm dan dilihat dibawah mikroskop polarisasi. Di lapangan waktu itu setelah makan pagi pasti perut sakit karena tidak terbiasa dengan oyek. Setiap pulang dari lapangan, ransel selalu penuh dengan batu dan berat. Dalam kondisi seperti ini saya tetap punya motivasi bahwa sekolah harus selesai seberat apapun.

Perubahan strategi

OK, saya tahu arti fenomena alam yang sering menjadi pertanyaan sejak kecil. Tetapi apa artinya ini kalau hanya stop disini & tidak memberikan nilai lebih. Makanya benar jurusan ini disebut kering, langka dan tidak diminati. Gaji pegawai negeri yang hanya cukup untuk 1 minggu tidak menjajikan hidup tenang. Itulah kenyataan yang ada. Timbul pertanyaan apakah salah kalau saya senang sebagai naturalist. Pada waktu masih mahasiswa, rasanya puas jika sudah dapat menerangkan fenomena alam, tetapi tidak demikian setelah terjun di masyarakat.

Tahun 1979 saya memetakan geologi di desa tersebut diatas yang tujuannya hanya untuk menyelesaikan tugas akhir dan tidak tahu manfaat yang lebih besar. Tahun 2001 saya dihadapkan pada kebutuhan lain yang memerlukan dukungan fund lebih. Disinilah saya harus merubah strategi apa yg saya punyai untuk dapat di LINK dengan dunia yang lebih membanggakan secara pribadi, colleagial dan kelembagaan. Dengan sangat nekat, saya membuat training on Petroleum Geology dengan studi kasus daerah yang saya petakan geologinya di tahun 1979. Ternyata tanggapan sangat positif dari dunia industri migas. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sejak tahun tersebut hingga sekarang saya selalu membuat event sejenis dengan fokus daerah yang berbeda termasuk keluar Jawa. Dengan dukungan dari banyak kawan termasuk kawan lama yang saat ini sudah menduduki posisi penting di dunia industri perminyakan dan kenal betul saya luar dalam sejak mahasiswa di Kampus Biru, rasanya event ini belum akan berakhir dan akan tetap diperlukan.

Kagum “Junghun”

Sejak SD sering dengar nama Junghun, diperkenalkan sebagai penanam kina di bumi Periangan. Saya punya buku karangannya, sayang berbahasa Belanda. Mungkin Pak So, atau Pak Hadi bisa menterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya dapat sedikit tahu buku tersebut karena diterjemahkan oleh senoir dan guru geologi saya yg fasih bahasa Belanda. Nama lengkap Franz Wilhelm Junghun, hidup antara 1809 – 1864. Hanya 55 tahun hidup, tetapi karyanya luar biasa. Di tahun-tahun tersebut ybs. Sudah keliling P.Jawa, melukis daerah di Pegunungan Seribu, Semanu & Rongkop, Taman Satwa Meru Betiri daerah Blambangan, Jatim. Gunung-gunung di Jawa dia kunjungi dan diulas. Dia juga menguraikan satu-satunya batu tertua yg terdapat didesa Gunung Gamping, Yogya. Kondisi sosial dan alam dikemas dalam cerita yang menarik. Sekali lagi saya hanya mendengarkan waktu diterjemahkan, sayang tidak saya rekam. Saya hanya membayangkan pada tahun dia berkunjung dan menulis tentang Rongkop dan Semanu Gunung Kidul, pasti tidak ada jalan aspal dan kendaraan bermotor menuju lokasi tersebut. Hanya berjalan kaki ber-hari2 diselingi berkuda. Tetapi ybs berhasil menulis cerita tentang yg diamatinya dengan menarik.

Akhir kata, naturalist adalah impianku hingga kini, mereka akan melahirkan harmoni seiring perjalanan waktu dan ruang. Ambarawa memberikan inspirasi kehidupan dan kenangan yang tidak terlupakan.

Salam,

Pak Kenthut (Edi Prasetyo Utomo)

Leave a Reply