Desaku Yang Kucinta

Desaku Yang Kucinta

Oleh : Budiono Santoso

Tulisan2 dan komentar tentang kopi, mengingatkan saya ke masa lalu. Masa kanak kanak yang indah di desa. Saya melalui masa kecil di desa, di lembah yang indah di Ambarawa, paling tidak untuk waktu itu, di tahun limapuluhan sampai pertengahan enam puluhan. Di desa Ngampin, di tepi jalan Ambarawa Magelang. Di sebelah kebun kami ada gereja tua yang dibangun awal abad lalu. Desa itu sekarang mungkin tak lagi seindah dulu ok penduduk semakin padat. Jika anda membuka webnya CIA, mudah sekali menentukan lokasi desa ini. Hanya satu yang sama, sampai sekarang makanan srabinya masih tetap dikenal (ini yang nggak bakalan masuk databasenya CIA).

Kami sekeluarga tinggal di tengah kebun kopi. Rindang, sejuk dan terawat baik. Tidak hanya tanaman kopi, oleh karena ada kebun vanilli, kebun kelapa, kebun kapuk dan jelas ada banyak tanaman buah, seperti mangga, sawo, jeruk, pisang, jambu, papaya dll. Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, saat kopi berbunga adalah masa yang sangat menyejukkan terutama di sore hari. Begitu harum, lembut dan semerbak. Tetapi masa memetik kopi adalah yang paling membosankan buat saya sama adik saya. Kita harus ikut memetik, sepulang sekolah sampai sore. Nyamuknya luar biasa ganas.

Orang tua saya juga memiliki pemerahan susu. Jumlah sapi juga tak seberapa, tergantung musimnya ok sebagian dititipkan ke petani. Mungkin sekitar dua puluhan. Juga beberapa kambing, yang baunya minta ampun. Saya dan adik saya, dengan dua pembantu selalu harus bangun pagi paling tidak pukul 0400 untuk memerah sapi. Kalau kesiangan biasanya volume susu menurun. Biasanya kicau burung srigunting yang pertama terdengar membangunkan kami. Burung burung ini yang bangun paling pagi. Sayang sekarang sudah tak lagi dijumpai.

Susu segera harus diantar ke pelanggan di Ambarawa, mulai jam setengah enam. Saya tidak tahu persis, tetapi saya tak pernah berminat ikut mengantar susu. Tetapi adik saya senang sekali ikut mengantar susu sambil mengumpulkan uang langganan. Pemerahan susu yang didirikan di tahun lima puluhan harus berhenti beroperasi karena di pertengahan enampuluhan, tunggakan salah satu pelanggan besar macet. Saya masih ingat tunggakan tersebut sampai menumpuk enam bulan lebih. Belakangan sewaktu saya menginjak mahasiswa, ganti haluan ke ternak babi, yang resikonya relatif lebih kecil. Putaran uang lebih cepat untuk kebutuhan sekolah kami.

Pagi pagi sesudah memerah sapi, kami hanya punya waktu sangat singkat antara tiga perempat jam, untuk mengawinkan bunga2 vanili. Karena bunga vanili akan segera layu jika terkena matahari sebelum dikawinkan. Jika terlalu pagi masih remang2 tak bisa melihat putik bunganya, dengan baik. Di seluruh desa berpenduduk lebih dari 5000 orang waktu itu, hanya ayah saya, saya dan adik saya, ditambah seorang tetangga yang mampu mengawinkan bunga vanili dengan baik. Sudah berusaha melatih, namun hasilnya selalu jelek. Ayah saya memutuskan untuk mengawinkan sendiri ok resikonya mahal jika gagal..

Yang istimewa bagi saya, ada dua ekor kuda kesayangan. Saya gemar naik kuda sewaktu di Sekolah Rakyat. Sayang, kakek saya selalu bilang ke ibu agar saya tidak naik kuda. Dia takut betul ok ada keponakannya yang pernah jatuh terseret kuda sampai puluhan meter, untung selamat. Dia juga gemar naik kuda, punya kuda warna putih albino, meski tak sebagus milik kami. Saya sangat mencintai dan mengagumi kakek saya, mantan lurah di jaman Belanda, sangat sabar dan mencintai kami. Dia tidak pernah bicara bahasa Jawa ngoko ke kami. Selalu menggunakan bahasa halus. Dia meninggal di tahun enam puluh empat. Sebelum meninggal dia hanya ingin bertemu cucu2nya, sayang kami datang terlambat waktu itu.

Pengalaman yang tak pernah lepas dari ingatan, saya tak tahu kapan persisnya, mungkin di pertengahan lima puluhan. Saya masih kelas 2 Sekolah Rakyat. Pagi2 jalan sama kakek saya di desa tempat tinggalnya di Kalijambe, sekitar 7 km dari Beringin, Salatiga. Saya bangga sekali ok dia begitu dihormati penduduk di sekitar desa itu. Setap orang bertemu selalu mengangguk hormat sekali.

Satu saat kami bertemu dengan seorang tua, lebih tua dari kakek saya, berpakaian Jawa dan sangat sederhana. Saya nggak ngerti kenapa kakek saya yang begitu berwibawa waktu itu, tiba tiba sangat menunduk dan memberi salam dalam bahasa Jawa yang sangat halus. Orang tua ini bicara dengan tenang dalam bahasa Jawa biasa, ngoko. Aneh batin saya. Setelah pulang kakek saya bilang dia adalah Pangeran Suryamentaram, atau lebih dikenal dengan Ki Ageng Suryomentaram, pamannya HB IX yang tinggal mengasingkan di desa di daerah itu (lihatlah http://www.geocities.com/kramadangsa/riwayat.htm ).

Sejak itu saya selalu mengagumi tokoh2 Jawa yang bergelar Ki Ageng (saya nggak tahu siapa sebenarnya yang memberikan gelar ini ok ini juga bukan gelar kebangsawanan dari keraton).

Sewaktu di Sekolah Rakyat, tak banyak kesulitan transportasi ok lokasi sekolah dekat rumah. Tetapi begitu masuk SMP, harus jalan kurang lebih 3 km ke Ambarawa. Saya sekolah di Taman Siswa di mana ayah saya mengajar. Beberapa teman harus berjalan lebih jauh atau naik sepeda sampai pululan kilometer. Dari kota2 kecil sekitar Ambarawa, beberapa teman harus naik kereta api kluthuk, misalnya dari Beringin, Bedono, Tuntang, Telogo, Gogodalem . Rangkaian kereta kluthuk ini merupakan peninggalan antik yang banyak dikenang orang sampai sekarang (lihatlah http://www.internationalsteam.co.uk/ambarawa/museum.htm )

Sore hari sering masih harus membantu mengumpulkan rumput untuk makanan sapi. Ada rumput yang khusus ditanam di kebun, tetapi ini hanya untuk cadangan pada masa sulit rumput. Jika diingat, masa masa itu di awal tahun enam puluhan adalah masa masa sulit dan berat. Ayah saya seorang guru, kepala SMP Taman Siswa di Ambarawa waktu itu. Jelas gaji nggak mencukupi untuk membeayai sekolah kami bersaudara. Praktis kebutuhan sekolah kami ditutup dari kebun dan ternak. Kami bersaudara selalu dibiasakan kerja keras sejak kecil. Saya tidak pernah menyesali kerja keras yang ditanamkan oleh ayah saya waktu itu.

Buat anda anda yang pernah tinggal di desa, walau kini hidup di metropolis, lagu indah ini mungkin dapat membawa kembali kenangan anda, Desaku Yang Kucinta..

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai.

Para pembaca, jika sempat datanglah dan mampirlah ke Ambarawa. Mungkin tak seindah dulu lagi, tetapi banyak yang bisa dilihat, museum kereta api, Candi Gedongsongo, museum Palagan Ambarawa, Rawa Pening yang menyusut dari waktu ke waktu.

Ki Ageng Similikithi

(Tulisan dimuat di Kolom Kita – Kompas Cyber Media Community)

Leave a Reply