Cinta Monyet Yang Tak Pernah Lengket

Cinta Monyet Yang Tak Pernah Lengket

Oleh : Budiono Santoso

Saya nggak tahu apa arti cinta monyet. Mengapa orang menyebut cinta monyet. Ini nggak ada kaitannya dengan monyet. Sewaktu ada teman maya yang menanyakan riwayat cinta monyet, saya bingung apa yang akan saya ceritakan. Tak ada cerita yang romantis, jika tidak malah menyedihkan. Malapetaka yang melanda bangsa kita, menghancurkan impian dan masa depan anak anak muda. Termasuk masa depan dia, Sutanti, teman dekat sewaktu di Sekolah Menengah Pertama.

Saya mengenalnya semenjak di kelas dua SMP di tahun 1963. Dia di kelas 2C sedangkan saya di kelas 2B. Anaknya pendiam. Wajahnya sendu dan bibirnya sangat sensual. Dia memiliki mata yang paling bagus dan bibir paling seksi di antara teman teman putri di sekolah kami di Ambarawa. Awalnya saya juga tak banyak perhatian. Anak laki laki tak pantas terlalu banyak ngobrol atau bergerombol sama anak putri. Salah salah bisa dianggap wandu.

Kami tidak pernah bertegur sapa secara langsung. Hanya kenal kenal anjing, kalau ketemu saling menggonggong terus pergi. Hei hei, hanya itu. Dia suka warna hijau muda. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Hanya kadang2 kalau pas bergerombol ramai ramai, saya dan dia sok ikut ikutan omongan ke sana kemari. Hubungan datar itu berubah ketika kami naik kelas tiga. Saya di kelas 3A dia di kelas 3 C.

Suatu pagi saya duduk sendirian di halaman belakang sekolah. Dia menyapa lembut “Ki”. Tak ada teman satupun yang menyebut suku depan nama belakang saya. Kedengaran merdu dan indah. Dia tersenyum, bibirnya indah sekali. Setiap pagi saya duduk di tempat itu dan menunggu dia lewat. Penantian penuh khayalan penuh impian. Sapaannya membuat saya terbuai melayang dalam khayalan. Hanya itu, tak pernah ngobrol, tak pernah ngomong langsung. Saya memujanya dalam kesenyapan luar biasa. Nama tertulis di buku buku saya.

Sampai suatu ketika seorang teman meminjam catatan saya dan membaca coretan coretan itu. Malu sekali ketika berita itu mulai menyebar. Rasanya seperti telah mencoreng muka sendiri. Ketika ada acara tamasya/gerak jalan ke Gunung Kendalisodo, saya juga tak punya nyali untuk menyapa dan bicara dengannya. Tetapi saya tahu dia selalu melempar senyumnya yang indah dan penuh misteri. Saya hanya bisa memandang jauh ke hamparan lembah di bawah sana.

Suatu pagi sewaktu istirahat salah seorang teman dekatnya tanya ke saya. “Ki kok nggak pernah mau ngomong sama Tanti ?”. “Saya malu dan nggak bisa ngomong”. “Kalau gitu tulis saja surat, nanti saya sampaikan”. Berhari hari saya berpikir, apakah layak untuk menulis surat ya ?

Ini malah bisa jadi bukti otentik, bisa kacau nanti kalau tersebar. Saya tidak ingin kejadian konyol seperti yang dialami tetangga saya Karto. Dia tergila gila sama anak Jambu yang sering lewat desa kami, dan sekolah di SMP sore Marsudi Rini. Mungkin karena nggak bisa nulis, dia minta saya yang menuliskan. Kalimat suratnya aneh. Antara lain yang saya ingat ” Dikau yang cantik rupawan. Wajahmu selalu terbayang setiap malam. Untuk menghilangkan bayang bayang, sudilah adik memberi foto padaku. Dari sang Kelana Dina”.

Surat itu ternyata ditunjukkan ke mana mana oleh si penerima, tersebar di sekolah. Tetapi Karto memang tahan banting. Beberapa kali saya diminta menulis surat serupa. Nggak ada yang berhasil. Saya dengar kemudian, Karto menjadi tenaga ahli pijat professional untuk atlit atlit nasional di Jakarta. Kawin sama gadis Jakarta dan hidup mapan. Sayang dia menderita retinitis pigmentosa, sehingga kehilangan penglihatan kemudian.

Setelah kira kira seminggu, saya beranikan menulis surat itu. Surat pertama saya untuk seorang gadis. Saya cari buku di toko buku di muka gedung bioskop Garuda, lupa nama tokonya. Yang punya sudah kenal baik. “Wah sampeyan mulai jatuh cinta ya ?”. Surat itu saya titipkan teman saya mBak Narsih. “Jangan kuatir pasti dibalas nanti “. Betul kata dia, dua hari kemudian saya mendapat balasannya. Tertulis indah di kertas warna hijau muda. Surat pertama dari seorang gadis. Saya masih ingat persis, dia menuliskan kutujukan untuk Ki. Tetapi dia menulis “”KuV49kan” (Ku akar 49 kan).

Tulisannya singkat, satu halaman penuh, kata katanya sangat romantis. Dia cerita tentang langit, tetang bintang, tentang bukit dan lembah, dan tentang air. Waktu itu banyak sumber air yang indah di Ambarawa. Ada beberapa surat yang saya kirim kemudian dan saya terima darinya.

Pada waktu ujian akhir, saya lulus dengan gemilang. Sedih sekali dia harus mengulang setahun. Saya harus pindah kota untuk meneruskan SMA, ke Solo. Surat surat darinya saya simpan dibawah kasur. Satu saat ketahuan bapak saya, yang juga Kepala Sekolah di SMP saya tadi. Saya kena damprat sewaktu akan berangkat ke Solo. Saya hanya diam.

Di Solo saya masih menulis surat beberapa kali ke Tanti. Dia cerita sering malu oleh karena selalu disindir di kelas sewaktu pelajaran bapak saya. Hanya beberapa bulan kemudian di Solo, surat surat saya tak lagi terbalas. Seperti hilang tak berbekas. Semua komunikasi terputus. Ternyata dia harus keluar meningalkan sekolah. Membantu ibunya untuk bekerja demi adik adiknya. Toko sepatu milik ayahnya tutup. Ayahnya hilang “diamankan” dalam peristiwa G30 S. Tak tentu rimbanya.

Saya merasa kecil. Merasa tak mampu berbuat apa apa. Hanya doa saya semoga semuanya baik. Pada waktu acara reuni SMP saya diberitahu kalau Tanti masih di Ambarawa. Dia single mother. Saya tetap menghargainya walau suara suara miring tentang dia. Setiap kali Nyi Ageng tanya, siapa Tanti, saya jawab, teman dekat saya sewaktu SMP. Salam untuk semua, juga Tanti di Ambarawa.

Ki Ageng Similikithi

(Telah dimuat dalam Love Talk, Kompas Cyber Media 7 Juni 2007)

Leave a Reply