Cerita dari Balik Rumpun Bambu

Cerita dari Balik Rumpun Bambu

Oleh : Budiono Santoso

Peristiwa ini terjadi sewaktu saya duduk di kelas tiga sekolah rakyat. Mungkin di tahun 1958 atau 1959. Persisnya kapan saya sudah lupa. Kejadian itu sudah lebih tiga puluh tahun. Dalam kebijakan rahasia negara, sudah boleh diungkapkan ke umum. Namun tak dapat saya lupakan karena melibatkan seorang tokoh senior desa Ngampin waktu itu. Namanya mBah Suro Jaeni.

Interaksi saya dengan mBah Sura Jaeni, atau singkatnya Wa (siwa) Jaeni, begitu intensif di awal2 sekolah rakyat. Dia selalu datang ke rumah, ikut mengawasi para pekerja, terutama para pencari rumput untuk makanan sapi atau pencari makanan kambing. Jaman sekarang mungkin istilahnya field supervisor.

Dia sudah renta, umur mungkin sudah di atas 70 tahun. Bicaranya masih jelas, dan memang suka bicara dan memberi nasehat. Giginya sebagian besar sudah rontok, tinggal beberapa biji di baris depan, sehingga selalu kesulitan menempatkan rokok klobotnya. Walau fisik masih cukup kuat, langkahnya tidak begitu teratur lagi.

Saya merasa dekat dengannya. Dia selalu cerita dan memberikan banyak petuah mengenai perilaku utama. Terutama yang bersumber pada cerita wayang Mahabarata. Dia selalu bangga sekali mempersonifikasi dirinya sebagai Pendeta Durna, guru para ksatria Pandhawa dan Ngastina, dalam cerita Mahabarata. Wajahnya memang mirip seperti yang tergambar dalam komik2 wayang. Jika bicara mengenai perilaku utama ksatria dia tidak pernah bisa berhenti dengan tawa yang berderai.

Suatu siang dia memberitahu saya dan Gondo untuk ikut ke desa Bedono, Ada urusan penting mengenai jual beli kambing jantan yang perlu diselesaikan. “Kamu berdua harus ikut, bapakmu yang suruh. Biar jadi saksi”. Rupanya ada transaksi pembelian kambing jantan yang belum beres. Kambing tidak kunjung datang, padahal uang panjar sudah dibayarkan.

Kami bertiga naik kereta api dari Jambu ke Bedono, berabgkat jam 2 siang. Tidak sulit mencari rumah si penjual. Wa Jaeni sejak dari rumah begitu bersemangat. Bicaranya tak pernah berhenti. Banyak kali menggumam, akan memberi pelajaran ke penjual yang tak mentaati janji tersebut.

Sampai di rumah penjual tersebut, segera disambut dengan basa basi ucapan selamat datang. Bagaimana kabar di Ngampin, bagaimana cerita perjalanan dan sebagainya. Saya rasakan basa basi itu terlalu panjang. Tuan rumah nampak berwibawa. Pada waktu sampai ke pokok persoalan ternyata Wa Jaeni tak segarang sebelumnya. Dia selalu di bawah angin dalam pembicaraan dan negosiasi. Dia nampak grogi, bimbang dan ragu.

Jam empat lebih kami pulang dengan tangan hampa. Seharusnya kami membawa kambing jantan itu. Negosiasi macet. Misi gagal. Not accomplished. Kami jalan dari Bedono ke Ngampin lewat jalan lama yang curam tetapi lebih singkat. Wa Jaeni menggerutu sepanjang jalan karena kegagalan itu. Sampai rumah sudah malam. Dia melaporkan hasil perundingan ke bapak saya. “Saya marah marah di sana. Untung masih bisa mengendalikan emosi”, demikian bilangnya ke bapak saya. Tak sesuai dengan apa yang saya lihat. Namun saya diam saja.

Seminggu kemudian, kami kembali lagi ke Bedono. Saya ikut Wa Jaeni bersama bapak saya. Dia membawa tongkat bambunya, nggak tahu untuk apa. Kami naik kereta yang sama. Perasaan saya agak was was jika negosiasi tak berhasil lagi. Tapi Wa Jaeni begitu percaya diri saat itu, tak seperti minggu lalu. Entah karena dia bersama Bapak saya atau karena tongkat bambu itu yang tak nampak istimewa sama sekali.

Sesampai di tempat penjual, perundingan tak berjalan lama. Wa Jaeni nampak sangat di atas angin. Bicara lantang dan berapi api. Sesekali menyisipkan petuah petuahnya mengenai kejujuran kepada tuan rumah. Saya bingung. Kok berubah sekali dan gampang sekali. Jam setengah lima kami membawa kambing jantan itu. Naik kereta api sampai di Jambu. Dalam perjalanan Wa Jaeni banyak tertawa dan bicara. “Untung ada saya”. Misi terselesaikan.

Di satu hari Minggu saya bersama Wa Jaeni, memetik kopi di kebun sebelah barat. Di tepi jurang pemisah kebun kami. Dibawah ada aliran air kecil dan ada sumur di tepi dasar jurang. Saya sering melihat tetangga sebelah barat jurang itu mandi dan mengambil air di situ. Pemandangan biasa dan tak ada pengaruh apa apa bagi saya.

Dari balik rumpun bambu itu saya melihat seorang wanita muda sedang mandi. Dia adalah isteri dari bapaknya Muharso yang tinggal di situ. Memang masih muda ok dia isteri sambungan, sedangkan bapaknya Muharso sudah tua dan sakit sakitan. Kalau nggak salah Muharso bekerja sebagai supir andong.

Saya beritahu Wa Jaeni yang sedang memetik kopi, ada wanita madi dibawah. Dengan sigap dia memberi tahu saya untuk menjauh. ” Ora ilok cah cilik ora kena weruh wong wedok adus”. Dia dengan tenang, jongkok di balik rumpun bambu. Asyik mengintip orang mandi itu. Kebiasaan Wa Jaeni selalu pakai celana hitam kombor, dengan sabuk kulit lebar. Tak pakai rangkapan pakaian dalam.

Sewaktu pekerja pemetik kopi pada datang, dia masih jongkok di balik rumpun bambu Wanita itu sudah selesai mandi, berpakaian dan berjalan ke atas pulang ke rumahnya. Para pekerja itu semua ketawa ketika mengetahui ada wanita yang selesai mandi dan Wa Jaeni, terjongkok tak kunjung bisa berdiri.

Insiden itu tak pernah menyurutkan hasrat dan kesukaan Wa Jaeni bercerita tentang perilaku utama para ksatria Pandhawa. Saya tak penah mencapnya hipokrit. Toh Mahabarata juga hanya sekedar cerita. Dan dalam cerita Mahabarata tak pernah ada kisah atau skenario wanita mandi di balik rumpun bambu. Itu dua dunia yang berbeda. Yang satu dunia wayang, satunya dunia nyata. Wa Jaeni hanya menjalani kisah dunia nyata saat itu. Dan dia tetap percaya diri menceritakan cerita cerita perilaku utama Mahabarata.

Ki Ageng Similikithi

Leave a Reply