Cerita Cinta dari Keremangan Pohon Jambu

Cerita Cinta dari Keremangan Pohon Jambu

Oleh : Budiono Santoso

Tak bermaksud menghujat atau melecehkan siapapun. Hanya satu ungkapan episode singkat perjalanan cinta yang telah lewat di makan waktu. Kisah masa muda. Bukan pula cinta pertama. Kisah cinta monyet itu pernah saya ceritakan sebelumnya. Terjadi semasa SMP. Ini kisah singkat pengalaman pacaran yang pertama kali.

Masa masa SMA di Solo, tak ada pertemanan dengan wanita. SMA St Josef yang muridnya semua laki laki. Jika berbaris rapi, semua pakai tongkat. Tak ada cerita romantis. Tak ada dalam kamus waktu itu pertemanan dengan wanita. Baru sesudah masuk perguruan tinggi, masa pancaroba langsung mulai. Mula mula pada waktu perplocoan, tak ada yang menarik. Semuanya kusam dan kuyu. Yang laki gundul seperti tuyul. Yang wanita tanpa tanpa gincu, wajah sayu. Rambutnya diikat tanpa aturan.

Hanya pas pesta penutupan baru mata bisa memandang. Wajah wajah ceria lepas dari dera perploncoan yang tak manusiawi. Ternyata banyak yang cantik dan menarik. Dunia tak selamanya kusam dan kuyu. Boleh tahan istilah di negeri jiran. Orang Jakarta bilang ‘siip deh lu’. Tetapi orang Yogya biasanya malah berdoa kalau lihat orang cantik ‘amit amit wolo wolo kuwato” (semoga kuatlah hati ini). Kelompok kami yang dari Solo selalu tenang. Masih asing di Yogya. “Aja kagetan, aja gumunan” (Jangan kaget, jangan gumun). Walaupun baru pertama bertemu wanita. Harus tahan harga dan tahan banting. Tetapi hidup mulai terasa bergairah sesudaj depresi karena perploncoan Mamakonga (Masyarakat Mahasiswa Kompleks Ngasem).

Ada kejutan kultural awalnya. Di Solo kalau bicara dengan kenalan wanita, memakai bahasa Jawa halus, kedua tangan di depan. Sangat formal dan sopan. Apalagi dengan gadis njeron mbeteng di lingkungan kraton. Ada dua gadis yang sangat anggun dan berwibawa, Sekartaji dan Saraswati. Memandangpun saya selalu kalah wibawa, walau hati berdesir. Di Yogya, masuk UGM kumpul mahasiswa dari berbagai pelosok tanah air. Sangat langsung dan terbuka. Masih ingat pagi pagi, kami berdua dengan seorang teman dari Solo, Amad, cari tempat duduk paling depan untuk kuliah kimia. Gurubesarnya kalau ngomong hanya bisik bisik.

Kami harus berangkat subuh untuk menaruh buku di kursi barisan depan. Nanti jam 6 kembali ke kost untuk mandi dulu. Kuliah baru mulai jam 700. Ada teman putri yang lihat kami belum mandi. “Bung, tampangmu semrawut bangun pagi. Bujang lapuk” Gadis Solo nggak akan ngomong gitu. Tapi ini Yogya, lain kota lain kata. Teman saya hanya bicara pelan. “Belum tahu siapa kita. Dia akan datang minta tolong” Kami sangat percaya diri. Ujian akhir SMA rangking satu dan dua dari seluruh SMA di SOLO jurusan Pengetahuan Alam. Jika tak istimewa betul gadis secantik apapun nggak masuk kamus.

Sewaktu mata pelajaran semakin sulit, terutama fisika, praktis mahasiswa harus saling belajar kelompok. Saya selalu taat bersama teman2 dari Solo sampai satu saat seorang teman wanita bernama Nana ngajak kami main sekaligus belajar bersama. Rumah kostnya di Bintaran. Saya di Gerjen. Dia bersama kelompoknya, salah satu yang mengatakan kami bujang lapuk itu. Ini seolah pucuk dicinta ulam tiba, bagi saya. “Bung Nana sama kelompoknya pengin ngajak kita belajar bersama”. Apa kata Amad, teman dri Solo ?. “Ki, kita ini bukan laki laki murahan. Tahan harga.” Dia pengagum fanatik putri Solo. Nyanyian nyanyian kecilnya hanya sekitar lagu Putri Solo, Bengawan Solo dan Tirtonadi. Gemar nonton wayang kulit semalam suntuk, terutama jika sinden dan dalangnya dari Solo. Kadang kadang saya dengar pelan melantun Hei Jude, dari the Beattle. Lagu Indonesia Raya dia tak hapal benar, kena setrap waktu plonco.

Guru Inggris semasa SMA, seorang pastur, selalu mengingatkan “Jangan sekali sekali menolak uluran seorang wanita. Akan kecewa seumur hidup”. Nasehat ini lebih menarik dari pada masalah tahan harga. Setelah berbagai manuver akhirnya sepakat, ada tiga laki laki termasuk saya. Satu dari Palembang Achdy dan satunya dari Riau, Rusli. Keduanya belum paham mana putri Solo mana bukan. Dan tiga rekan wanita, Nana, Ria dan Eni. Tiga tiganya dari luar Yogya. Sepakat belajar bersama.

Bahasa mereka lugas dan lepas. Kami cepat akrab. Selalu ramai ramai bersama, praktikum, belajar, kuliah. Gadis gadis manis, ceria. Kuliahpun suka cekikikan. Amad dan kawan kawan dari Solo sewaktu lihat kami sering bersama mereka, komentarnya langsung ‘Ki kok anda punya kelompok Tiga Dara Sitombut”. Memang secara fisik ketiganya agak sedikit subur untuk ukuran Solo. Mereka ini selalu bilang mbodi (amba tur gedhi; lebar dan besar). Tak perlu saya jelaskan, malah dikira melecehkan ukuran tubuh. Mau setumbut mau silinder, mau amba mau gedhi, bukan urusan saya.

Lagu Putri Solo menggambarkan gadis Solo yang gemulai, berjalan seperti harimau lapar, lambaian tangannya seperti lambaian daun kelapa terterpa angin. Suaranya mengalun berbisik lembut. Bahkan dulu guru saya di SR bilang, “Anak anak, yang namanya putri Solo itu, kalau nginjak tahu ayam pun nggak akan penyet”. Begitu halus, mungkin kayak Lembayung. Lagu putri Solo di tahun enampuluhan sampai memberi kan kesan begitu dalam terhadap penggemarnya, walau mungkin nggak selamanya benar. Nyatanya teman saya dri Solo yang sekarang jadi anggota cabinet itu, galaknya bukan main, tukang becak seluruh Mangkubumen takut sama dia.

Mulanya biasa saja. Berjalan normal platonis. Belajar kadang bergurau. Tak tahunya, lama lama kok makin asyik. Sering saling meledek, memasang masangkan (macokke, Jawa). Mulai berubah suasana. Achdy, merasa nggak enak, lalu jarang ikut. Sementara Nana sama Rusli semakin asyik. Saya sama Eni, rasanya kok berdesir setiap ketemu (ambil istilah dari La Rose). Nggak ada capeknya ketemu. Kadang saya berpikir, jangan jangan ini katuh cinta. Something was not normal. Tetapi saya terus diam.

Sampai satu saat Nana bilang. ‘Ki kok kamu pasif amat. Proaktif dhong. Kasihan Eni”. Proaktif gimana, pikir saya. “Datanglah ke rumah Eni Sabtu malam, dia pasti senang”. Kalau dipikir pikir, nggak ada jeleknya juga. Belum pernah main ke teman wanita, Sabtu malam. Persiapan berminggu minggu. Akhirnya suatu Sabtu sore, saya beranikan datang. Dia tinggal bersama embahnya. Saya masih ingat berpakaian baju putih warna kesayangan waktu itu. Tak lupa bawa sangu permen atau pastiles, seperti pesan Nana. Katanya ini modal apel hari Sabtu. Taruh di meja, sebagai kode, kalau dia ambil, pasti mau itu. Dan jangan grusa grusu, harus tenang. Ini nasehat Nana. Nana sama Rusli sudah jelas dalam tahap berpacaran, walau belum tetap.

Seperti malam malam Minggu sebelumnya, Eni selalu ditemani neneknya. Malam itu juga, kami ngobrol bersama beliau. Kelihatan sayang sekali sama Eni. ‘Sokur sampeyan main ke sini, bisa nemani Eni, nggak sepi”. Kami asyik ngobrol kesana kemari. Kata katanya selalu teratur, tenang tak meluap luap. Wajahnya semakin sendu merayu. Matanya selalu redup menerawang romantis. Semakin malam semakin tambah kelihatan cantik. Sewaktu lihat kotak permen itu saya taruh di meja, dia diam tak bereaksi. Malah neneknya yang berulang kali ambil sambil cerita. Saya mulai keder. Saya nggak konsentrasi lagi ngobrol. Dengan permen ini jangan jangan salah umpan.

Lewat jam sembilan saya pamit. Hati lunglai. Dia nggak bereaksi dengan permen itu. Ini pengalaman pertama tertolak walau saya nggak bicara apa apa tentang cinta. Lebih baik action dari pada omong cinta. Sepeda tua saya saya taruh dibelakang. Dibawah pohon jambu. Di tempat gelap, biar aman. Nggak ada kunci, nggak ada lampu. Sepeda tua itu teman setia di Yogya. Nggak punya brompiet atau udhug, kayak Josh Chen. Modal sepeda tambah permen.

Eni mengantar saya ke belakang. ‘Kok cepet amat, masih sore ?”. Hati saya masih penuh teka teki, rancu. Saya ambil sepeda di bawah pohon jambu itu, dalam kegelapan. Tiba tiba Eni, memegang tangan saya erat sekali, menyebut nama saya lirih Ki. Dia memeluk saya mesra. Saya tak bisa bereaksi normal, tangan saya pegang sepeda. Tetapi hati saya melayang ke awing awing. Ciuman pertama saya rasakan dalam hidup saya. Hanya beberapa menit. Saya terpana. Gemetar dan sewaktu tangan saya ingin menggapainya, suara keras ‘gubraaaak’, sepeda lepas dari pegangan ambruk menimpa pot bunga. Tak siap benar, jika tahu ada kejutan, pasti sepeda itu saya taruh dulu. Sang nenek teriak dari dalam. ‘Eni, ada apa?”. Saya bergegas pergi. Hati bernyanyi, naik sepeda seperti naik permadani terbang.

Saya masih ingat sampai di rumah ada cap merah di baju saya. Cemaran cat kimia, tapi tak apa dari gincu Eni. Nggak mikir merknya apa. Apapun merknya saya bahagia. Sekarang ibu ibu yang suka pakai gincu bermutu tidak baik, biasanya selalu ngecap di bibir cangkir atau gelas. Baju saya lipat dan taruh di atas meja belajar. Maksudnya sih mau disimpan dulu, ada capnya untuk kenangan. Tahunya sewaktu saya pergi kuliah, dicuci sama pembantu. Kecewa tapi nggak bisa apa apa. “Gus bajunga kelunturan warna merah. Sudah saya cuci”. Saya hanya diam. Cap ini susah dicari lagi.

Hari hari kemudian hanya terasa indah. Bersemangat. Beberapa minggu kemudian ada perayaan sekaten. Pengin keluar sama Eni, ternyata nggak diijinkan sang nenek. Mungkin kawatir mungkin curiga. Nggak tahu. Teman saya yang lain dari Solo, Ben yang kemudian minta ijin ke neneknya. Diijinkan, dan kami bertiga jalan jalan. Menyusuri jalan sekitar alun alun utara, kantor pos dan Malioboro. Makan satai di utara alun alun.

Pulang naik becak bertiga. Hujan rintik rintik hingga becak harus ditutup. Bolak balik Ben manggil saya “Ki are you OK”. Mungkin dia curiga. Sial, lewat kampung Langenastran, becak terbalik masuk parit. Saya di bawah, ketindih becak bersama Eni nggak bisa bergerak. Ben bisa loncat duluan. Eni tanya”Are you OK dear, sambil mencium cepat cepatan. Tukang becak bloon itu payah betul. Kaki saya yang ditarik, bukan becaknya yang dibalik. Pulang Ben menggerutu, kamu sama Eni bikin tukang becak itu nggak konsentrasi.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Awalnya serba indah. Di tahun kedua hubungan merenggang. Akhirnya terasa meynyesakkan. Di akhir pekan dia banyak dikunjungi karbol (taruna Akabri). Mereka memang gagah. Pakaian lengkap, sepatu bersih dan kinclong. Ayahnya memang pejabat tinggi militer. Saya pikir, ya sudahlah enaknya nggak seberapa, malah stress nggak tenang. Rusli dan Nana sudah nggak lagi pacaran. Nana pacaran sama karbol, Rusli dapat mahasiswa KG, sampai ke pelaminan.

Ah hanya cerita masa lalu. Di keremangan pohon jambu. Amad kawin dengan gadis Solo sampai sekarang. Kesenangan lagunya sudah banyak berkembang. Katanya seneng musik klasik. Ahli jantung terpandang, tak cuma di Indonesia . Eni bahagia dengan suami tercinta. Nana terakhir kirim email setelah puluhan tahun tak kontak. Dia diundang sebagai seorang ahli dari Indonesia dalam konsultasi antar negara di badan dunia di Geneva . Suaminya ternyata dari sipil. Nyi Ageng tahu cerita ini, walau tak detil. Yang berat kalau menantu saya, bisa cerita ke cucu saya, Rio yang pasti akan tanya. Tetapi jamannya memang jaman keterbukaan dan transparansi. Masa telah berlalu bersama perjalanan waktu.

Salam damai
Ki Ageng Similikithi

(Dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber Media, 21 Juni 2007)

Leave a Reply