Bu Poer – Siti Roewijah

Bu Poer – Siti Roewijah

Oleh : Dwi Kuntjoro GP (Gagan)

Siti Roewijah Dilahirkan di Desa Ngampin, Kecamatan Ambarawa pada tanggal 23 Mei 1938. Putri keempat dari lima bersaudara keluarga Mbah Tjarik ini menempuh pendidikan terakhir di SGKP Semarang.

Sebelum menikah dengan Pak Poeng pada tanggal 11 Februari 1960, mengajar di beberapa sekolah ketrampilan putri menjadi kegiatan utamanya. Kegiatan ini ditinggalkan setelah menikah karena tugas Pak Poeng yang harus berpindah tempat setiap beberapa tahun sekali.

Oleh karena itu, keempat putra-putrinya lahir di empat tempat yang berbeda pula; Ambarawa, Rembang, Tawangmangu, dan Tegal. Sewaktu tinggal di Tegal inilah, Pak Poeng meninggal karena kecelakaan, sehingga bersama keluarga, Bu Poer kembali ke Ngampin pada tahun 1968.

Setelah berpindah beberapa tempat tinggal (Dukuh Panjang, Kalipawon, Temenggungan), pada tahun 1984 kembali ke Ngampin untuk merawat Mbah Tjarik Kakung yang ditinggalkan Mbah Tjarik Putri karena sakit. Beliau tinggal di Ngampin sampai akhir hayatnya pada tanggal 7 Aprill 1999 dan dimakamkan si makam keluarga Penggung, di sebelah Mbah Tjarik Bedono (Ibu Soewidji) dan Mbah Lurah Banding (adik dari Mbah Amin Putri ?), serta berdekatan dengan makam Mbah Tjarik, Mbah Soerjati, Mbah Triworo dan Mbah Amin.

Mewarisi bakat Mbah Tjarik Putri, kemampuan memasaknya sangat dikagumi. Banyak menu khas Bu Poer yang tidak bisa disamai. Walaupun kedua putrinya, Pipiek dan Etty, juga pandai memasak, tetapi “sentuhan tangan Bu Poer” tetap tidak tertandingi, seperti pada gudheg dan bumbu “dressing” garang asem. Namanya sama, tetapi beda dengan garang asem ayam ala klaten, yang ini berupa sambal santan untuk dituang keatas sayuran rebus.

Bu Poer adalah sosok wanita pejuang yang hampir tidak mengenal kata menyerah. Setelah menjanda, tidak pernah menikah lagi karena konsentrasi membesarkan keempat putranya. Perjuangan dan semangat hidupnya masih tetap tinggi walaupun sudah dalam kondisi lemah akibat digerogoti kanker payudara. Kemauan berobat dan untuk sembuh tetap tinggi.

Satu lagi yang tetap dijaga; penampilan dan kebersihan. Walaupun sudah dalam kondisi lemah, sakit, dan ingatan yang termakan oleh morfin pengurang sakit, Beliau masih tetap selalu meminta air untuk membersihkan diri pagi dan sore, berdandan, bahkan ke toilet sendiri tanpa mau dibantu. Pernah dalam kondisi lemah,dengan suara yang sudah hilang, beliau ke toilet sendiri. Mungkin karena terlalu banyak tenaga dikeluarkan, maksud untuk kembali ke tempat tidur tidak kesampaian, beliau berbaring menggeletak di lantai samping tempat tidur.

Walaupun sudah disediakan bel untuk memanggil, beliau tidak mau mempergunakan. Pada waktu ditemukan tergeletak, beliau hanya tersenyum dan dengan isyarat minta dibantu naik untuk berbaring di tempat tidurnya.

Makanan terakhir yang diminta pada malam sebelum meninggal adalah buah peer Cina warna putih oleh-oleh dari Pak Wiek (Wiratno) dan Ibu Kutik (Ibu Soemijarti) sekalian. Wafat tanpa pesan apapun karena sudah kehilangan suara dan kemampuan menulis sejak dua atau tiga minggu sebelumnya.

Keterangan Foto:
1) Foto bareng setelah menikah tahun 1960.
2) Kalipawon, 1973
3) Bandung, awal 1996. Sudah terdeteksi sakit kanker payudara, tetapi tidak berterus terang. Menenangkan diri dengan menunggu cucu pertamanya; Manggala, di rumah Bibien selama 3 bulan.

Leave a Reply