Berlari Hingga Hilang Pedih dan Peri

Berlari Hingga Hilang Pedih dan Peri

Oleh : Budiono Santoso

Beberapa tulisan tentang pendidikan, sekolah ujian nasional telah mengingatkan masa masa masa saya menempuh pendidikan sekolah, Setiap orang pernah mengalami, tak ada yang istimewa. Namun saya ingin mengungkapkan pengalaman2 emosional yang larut di dalamnya. Guru dan orang tua selalu menanamkan bahwa belajar adalah berjuang, berlari dan berpacu untuk masa depan. Pacuan yang tak kenal lelah. Berpacu dengan semangat, dengan gairah, dengan kecerahan dan keindahan. A thing of beauty is a joy forever. Seburuk apapun fasilitas tempat untuk belajar itu.

Saya selalu ingat untaian kata dalam puisi Chairil Anwar, Aku. Tak hapal semuanya. Sebagian berbunyi seperti ini. ” Tak perlu sedu sedan itu. Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya yang terbuang. Biar peluru menembus kulitku. Aku tetap berlari. Berlari hingga hilang pedih peri.” Saya mengenal puisi ini di kelas dua SMP, di Taman Siswa Ambarawa, kota kecil yang saya cintai.

Binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang. Tak pernah paham maknanya. Di awal tahun enam puluhan itu, saya masih terbiasa memelihara dan menggembala binatang, entah sapi, entah biri biri, entah kuda. Yang paling tak jinakpun selalu setia pada saya. Tak ada satupun yang jalang. Tak ada yang terbuang. Binatang2 itu seperti teman setia di padang gembala yang senyap. Bagian dari lingkungan alam indah di sekitar saya. Yang memberikan semangat, kesejukan dan imaginasi impian masa depan.

Sulit untuk mengerti makna untaian kata dalam puisi itu. Saya telah berusaha keras, tetapi tetap samar samar pengertian saya. Hanya suatu ketika secara tak sengaja kesan datang, sewaktu mengikuti ujian ketangkasan badan. Waktu itu semua siswa dianjurkan ikut ujian ini, dengan berbagai tingkat kesulitan. Ujian dilakukan bersama dengan siswa sekolah lain di lapangan dekat stasiun kereta api. Sayang lapangan tersebut kini sudah banyak surut. Kami harus latihan beberapa minggu menghadapi uiian ini. Ujian berlangsung selama 3 hari. Hanya atletik saja yang diujikan.

Pada hari pertama saya harus ujian lompat tinggi, lompat jauh dan lari cepat 80 meter. Untuk lompat tinggi, loncatan harus 1.20 m untuk dapat lulus. Dalam latihan saya berhasil sekali dua kali. Atlet sungguhan biasanya sampai 1.80 m. Atlit RRC, Nee Che Chin, waktu itu mampu meloncat 2.25 m, di olimpiade Roma. Baru loncatan sampai 110 cm, saya gagal, walau mengulang sampai tiga kali. Bukan mencari alasan. Celana pendek saya begitu panjang (kombor). Celana drill itu begitu berat dan selalu menyangkut. Mangkel saya. Ayah saya selalu melarang saya pakai celana pendek yang agak ketat. Malu dan merasa kecil sekali saat itu, ingin rasanya saya lempar celana kombor itu.

Giliran lompat jauh. Saya nggak tahu berapa jauh loncatan saya. Tetapi di loncatan kedua benik celana lepas dan susahnya saya nggak pakai ikat pinggang. Ini lebih memalukan lagi. Teman saya meminjamkan peniti untuk mengikat kembali celana saya. Pada loncatan ketiga rasanya seperti jatuh tersuruk terjerembab di pasir. Harga diri saya terpuruk berat.

Pas lari cepat kami dipasang bertiga. Dengan semangat yang masih tersisa, saya ambil start dan berlari sprint secepat mungkin. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Baru setengah jalan, peniti pejepit celana tadi lepas dan menusuk kulit perut saya. Rasanya sakit dan pedih sekali. Saya hanya berpikir ingin lari secepat mungkin menyelesaikan jarak yang tersisa. Batin saya berteriak “Berlari hingga hilang pedih dan peri. Aku bukan binatang jalang. Aku nggak mau terbuang”.

Rasanya jauh dan lama sekali. Saya mencapai finish terakhir. Waktu saya terjelek di antara kami bertiga. Jika tidak salah 12.5 detik. Sedangkan teman2 saya sebelas detik kurang. Saya merasa marah dan merasa kecil. Tetapi tak ada yang dapat saya lakukan. Hanya saya mengerti makna puisi tadi. Saya hanya bergumam, tak dapat sertifikat ketangkasan badan juga nggak apa. Saya genjot pelajaran lain, aljabar, ilmu ukur dan ilmu alam.

Di kemudian hari saya menyadari bahwa di sekolah ini saya mendapat bekal tak ternilai harganya. Saya dididik untuk percaya diri, untuk menghargai sesama, untuk menghargai perbedaan, untuk bangga mencintai profesi dan pekerjaan masing masing. Dan yang paling penting kami belajar mengenai nasionalisme. Ini yang memberikan bekal tak ternilai sewaktu saya berkarya di dunia global. Di salah satu acara reuni lima belas tahun lalu, kami sempat bertemu banyak teman. Ada yang insinyur, dokter, guru, pejabat, pedagang sapi dan lain lain. Hati saya bergetar ketika kami bersama menyanyi lagu perguruan Taman Siswa yang indah itu.

Di tahun ketiga saya lulus dengan rata rata nilai 8. Juga ujian nasional. Tak ada protes dan tak ada kontroversi berkepanjangan, walau semua tahu, salah satu soal ilmu ukur dalam ujian tersebut telah dibuat secara salah, sangat salah. Misi tercapai. Pacuan belum selesai. Perjalanan masih jauh.

Dengan bekal ijazah itu, saya pergi ke Solo. Datang dengan gairah, dengan semangat dan harapan anak muda. Saya belum pernah hidup di kota. Saya datang ke Solo dengan semangat tinggi. Veni, vidi, vici. Saya datang, melihat dan menang. Ini kata kata Romawi yang saya tahu dari pelajaran sejarah. Tetapi Solo yang cantik rupanya tak mau ramah sama saya. Tak ada satu sekolah negri pun yang mau menerima saya dengan berbagai alasan. Ijazah sayapun nggak pernah dilihat sewaktu mendaftar. Saya terpukul berat. Namun tak ada waktu untuk meratap.

Saya diterima di SMA St Josef, salah satu sekolah unggulan di Solo. Gedungnya baru dan megah sekali waktu itu. Angkatan saya adalah yang pertama memasuki sekolah itu. Saya merasa bangga sekali dalam upacara penerimaan. Selamat datang anak muda. Di sinilah kamu berpacu, disinilah kamu berjuang dan belajar. Kepala Sekolah, Bruder Bonifacio selalu menanamkan disiplin dengan ketat. Kadang kami harus berdiri di tengah lapangan, seorang diri atau satu kelas sekaligus jika melanggar disiplin itu.

Di sekolah ini saya mendapat bekal tak ternilai di samping mata pelajaran. Terutama disiplin dan rasa toleransi, entah agama entah etnis. Saya memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. . Kami diajar oleh guru guru terbaik yang pernah saya jumpai. Terutama mata pelajaran kimia, pak Sutarso dan mata pelajaran fisika, pak Mudjono. Kami bersahabat erat tetapi kami bersaing ketat dalam belajar.

Di tahun 1968, saya lulus dengan gemilang. Mission accomplished. Nilai ujian saya rata rata 8.8, urutan kedua di antara sekolah sekolah di Solo. Uurutan pertama diraih oleh siswa Muhamad Munawar dri SMA Margoyudan. Ketiga oleh Hwie Swan (Susi Widjayanti) dari SMAWarga. Saat pengumuman ujian, tak ada hiruk pikuk naik motor keliling kota. Tak ada corat coret warna warni.

Saya bersama teman sekelas, Sunoko, makan bakmie di warung yang sangat sederhana di sebelah STM di Manahan. Nikmat sekali. Kami boncengan sepeda sehari suntuk mengelilingi kota Solo. Ingin mengucapkan selamat tinggal untuk kota yang cantik itu. Tak banyak waktu untuk hura hura. Pacuan belum selesai. Masih harus menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Kami mendaftar di empat universitas, UGM, ITB, UNDIP dan IPB. Setelah ujian ujian yang melelahkan, kami diterima di empat2nya. Kami berdua masuk di FK UGM, demikian juga Muhamad Munawar yang kemudian saya kenal dan berteman akrab di UGM.

Kini pacuan itu sudah lama berlalu. Sudah berlalu puluhan tahun lalu. Saya mempersiapkan masa masa pensiun saya, menikmati sisa perjalanan waktu. Dokter Sunoko berdomisili di Yogya, dia ahli bedah pembuluh darah yang tekun. Dr Muhamad Munawar di Jakarta, ahli jantung. Saya tak bisa mengatakan satu per satu teman di SMA dulu, beberapa teman akrab masih sering mendengar kabar beritanya. Daniel Budi Nursentono, teman belajar bersama di SMA memimpin salah satu perusahaan multinasional di Jakarta. Budi Andrianto, dokter, tetapi menjadi pengusaha yang berhasil, juga di Jakarta.

Akhirnya pembaca sekalian. Pesankanlah agar anak anak muda itu belajar dan berpacu dengan semangat dan gairah persahabatan. Berpacu berlari hingga hilang pedih peri, tanpa harus menjadi binatang jalang. Apalagi menjadi manusia jalang seperti koruptor yang pasti kelak akan terbuang. Dan yang penting lagi jangan keliru pilih masuk sekolah jalang seperti di Jatinangor itu. Katanya mencoba menanamkan disiplin dengan cara layaknya binatang jalang, siapa yang kuat siapa yang menang dan kalau perlu pakai uang.

Ki Ageng Similikithi

(Dimuat di Kompas Cyber Media 30 April 2007)

Leave a Reply