Bebek

Bebek

Oleh : Hadiwaratama

Telur

Telur kami biru muda warnanya. Lebih dikenal warna itu sebagai biru “telur asin”. Memang telur kami itu terkenalnya sebagai telur asin. Biru telur asin ini pernah menjadi “icon”, warna paling disuka, pada tahun-tahun 1967-1968 untuk mobil Mazda yang mirip kotak sabun bermesin. Suaranya berisik, katanya mesin 2 silinder (?). Ada warna “icon” lagi sesudah itu, biru juga, tapi “biru benhur” untuk mobil FIAT 1300, warna itu paling laku.

Telur kami enak juga bila diceplok mata sapi sekalipun agak amis, tapi umumnya didadar. Kadang-kadang digunakan untuk bikin kue-kue juga. Yang paling lazim untuk martabak, itu paling enak. Martabak sekarang, apalagi di kota-kota besar pakai telur ayam, lebih lemes kali. Orang tetap lebih senang martabak pakai telur bebek.

Dulu, di kota-kota besar, orang jualan telur bebek dan telur ayam kampung pakai pikulan, belum ada telur ayam negeri. Telur ayam kampung kan kecil-kecil, maka untuk lauk orang lebih suka telur bebek, besar-besar !

Bikin telur asin umumnya pakai bubukan bata merah, campur abu dapur dan diaduk dengan air campur garam. Hasilnya untuk membungkus telur bebek itu. Setelah didiamkan 2-3 minggu, jadilah telur asin. Bersihkan dan rebus dulu kalau mau dimakan ! Bila terlalu lama didiamkan, telur terlalu asin. Yang sudah direbus bila disimpan terlalu lama jadi keras telurnya. Ada juga yang bikinnya direndam air garam, biasanya lembek, kurang legit dan tidak tahan lama. Tandanya, kulit telurnya seperti pakai bedak putih.

Sekarang ada telur ngon-ngonan dan telur kandhangan. Telur bebek yang di-ngon/digembala ini lebih laku, kuning telurnya lebih merah, beda dengan yang dikandang, kuning telurnya pucat.

Meri

Sebagai bebek, kami hanya suka bertelur, tetapi tidak bisa mengeraminya. Bila ada pejantannya, untuk menetaskan, telur-telur kami biasanya dititipkan pada ayam atau enthok yang lagi mengeram. Yang kasihan bila induk semangnya ayam. Ketika momong anak-anaknya suka kebingungan dan teriak-teriak, karena sebagian anaknya ada yang nyemplung di kolam. Lari-lari ngejar dipinggir kolam, tidak berani nyemplung, karena tidak bisa berenang. Kasihan deh !

Kalau sekarang telur-telur tersebut dierami oleh mesin, sekaligus bisa banyak, tanpa diasuh seekor induk semang lagi.

Anak-anak kami disebut Meri, bulunya halus kuning kecoklat-coklatan. Makin besar bulu aslinya mulai tumbuh, ada yang coklat kemerah-merahan, kehitam-hitaman, keabu-abuan, dan ada yang kekuning-kuningan.

Yang umum warnanya coklat muda. Bila bulu lehernya biru kehitam-hitaman itu tandanya jantan. Yang betina bila menginjak dewasa disebut bayah. Sebentar lagi bisa bertelur.

Bebek

Di desa, bila perlunya hanya untuk konsumsi sendiri orang hanya piara 5-6 ekor. Bebek dilepas saja, tidak digembala, dikasih 1 pejantan sebagai pemimpinnya. Sore juga bebek pulang sendiri. Telur yang tidak dikonsumsi dijual, untuk beli bumbu dan lain-lain kebutuhan dapur, tempe, tahu, ikan asin. Orang desa jarang sekali beli daging, tak terjangkau. Tidak heran kalau di gunung ada orang tidak doyan daging, lebih milih ikan asin !

Bebek yang digembala, biasanya lebih dari sepuluh ekor. Yang efisien sekitar 40 ekor. Kalau terlalu banyak susah ngendalikannya. Maklum menggembalakannya umumnya di sawah-sawah. Yang dekat rawa lebih luas lahannya, tapi harus pakai prahu. Apalagi kalau yang nggembala anak-anak, jangan banyak-banyak jumlahnya, susah menghitungnya. Terlalu banyak suka dimarahi yang punya sawah, ngrusak tanaman. Sawah yang pohon padinya sudah tinggi menghijau itulah yang paling aman.

Kalau sudah keluar padinya, atau masih baru-baru ditanam itu dihindari, bisa ngrusak atau makan padinya. Pada musim-musim begitu ya di parit-parit saja kami digembalakan. Sesudah panen adalah yang paling baik, bisa dapat rontokan padi.

Pada waktu sawah digarap juga bagus, cari amis-amisan. Kalau kami teriak-teriak gaduh, biasanya ada ular sawah. Jauhkan diri dari ular, bisa dibelit !

Kami selalu jalan baris satu-satu, mengikuti pemimpin, tinggal diarahkan saja, mau disuruh kemana. Bila digembala di daerah yang itu-itu terus, biasanya kami tahu sendiri kemana harus menuju. Alur jalan kami mirip jalan setapak yang terbangun karena kami lewati tiap hari. Kami selalu menyusuri parit atau pematang sawah, menghindari nyabrang jalan raya. Pulangpun demikian. Sampai di rumah dikasih makan, baru dikandangkan. Bila tembolok kami sudah montok-montok berarti sudah banyak makan di sawah, bila kempes perlu dikasih makan, biar malamnya bertelur.

Sarang bertelur kami di tempat-tempat yang empuk, dan sedikit cekung, biasanya beralas jerami. Kami bergantian bertelur di sarang itu, kemudian kami tutupi jerami sehingga tidak terlihat. Kalau tempat-tempat bertelur semacam itu tidak ada, dimanapun kami bisa nelur, apalagi kalau sudah tak tertahan. Namanya juga KBL, Kebelet ! Pagi-pagi sesudah kami dikeluarkan dan dikasih makan di halaman, telur-telur diambil oleh yang empunya.

Bila terlalu pagi digembalakannya, diantara kami ada yang belum sempat nelur. Biasanya lantas nelur di sawah atau di parit, “ngenthit” namanya. Telur enthit menjadi milik penggembala. Saat jaman susah, di desa telur itu makanan mewah. Makanan kami bisa jagung, dedek, ketela, bahkan bekicot yang sudah dikupas. Toh di sawah kami juga makan ikan, keong, cacing dan sebangsanya.

Kami berhenti bertelur bila bulu-bulu kami mulai rontok. Bertelur lagi sedikitnya 2 bulan kemudian, bila bulu-bulu kami sudah tumbuh kembali. Padahal selama itu kami tetap harus makan. Bila demikian biasanya kami dijual, murah memang harganya. Orang lantas beli lagi yang sudah hampir bertelur (bayah) atau yang sedang bertelur, memang harganya mahal, tetapi menghasilkan.

Daging

Kalau kami ini sudah sampai lebih dua kali rontok bulu, maka dianggap sudah tua, bertelurnya berkurang, tapi tetap makan. Biasanya bebek demikian berakhir di penggorengan ataupun belanga. Kalau sebelum dimasak dagingnya dibungkus dulu dengan daun pepaya, maka daging tua pun jadi empuk. Bau amisnya berkurang atau juga bisa hilang, kalau bumbunya dikasih banyak jahe ditambah lengkuas.

Di desa-desa yang banyak beternak bebek, masaknya biasanya diopor. Desa-desa disekitar rawa, opor bebek adalah sajian yang selalu ada disetiap hajatan. Ada juga daging diungkep ataupun dibacem dulu, baru digoreng. Kalau di Banjarmasin populer sekali soto bebek Banjar. Sate bebek juga ada antara lain di daerah Gombong – Kebumen.

Yang paling istimewa ya Peking Duck, bebek Peking, tapi mahal, ratusan ribu harganya di rumah-rumah makan Cina terkenal. Yang umum bebek panggang atau roast duck. Yang ala Hongkong disukai. Roast duck hot plate dengan saus khusus agak manis-manis seperti kecap Inggris, itu kenikmatan kuliner tersendiri. Pasti mahal harganya, tapi mak nyus kata Bondan Winarno di Wisata Kuliner. Timbul Srimulat bilang uee…nak tenaa…n !

Tapi jangan tanya harganya, di Zurich seporsi reguler bisa Rp. 300.000,-, pas untuk seorang. Porsi yang sama di Indonesia sudah Rp. 65.000,-.

Bebek-bebek panggang yang digantung-gantung utuh di restoran-restoran itu pasti bebek-bebek muda yang diternak khusus. Gemuk-gemuk, empuk dan memang betul-betul istimewa. Ngeri juga ya, bangsa kami, bebek, lebih banyak berakhir di meja makan !

Lain lagi di Perancis, hati bebek yang sengaja dibengkakkan justru menjadi makanan istimewa. Namanya keren Foie Gras de Canard. Yang tidak biasa makan hati bebek, pasti tidak tertarik. Baunya huamis ! Hiperbolis boleh kan ?! Harganya muahal bila direstoran terkenal seperti Paul Bocusse, apalagi kalau makan sambil nonton Cabaret LIDO dekat Champs Elysees di Paris yang termashur itu.

Pangon

Penggembala kami disebut “pangon”. Bisa anak-anak umur sepuluh tahunan atau orang tua.

Pangon dilengkapi dengan “ancur” sepotong pucuk bambu seperti tongkat panjang 2 meteran, dicowak di pangkalnya. Ini untuk ngambil tanah sawah yang dilemparkan ketempat kami, bila kami menyimpang terlalu jauh. Pangon-pangon sering adu jauh lempar lumpur/lendut antar sesama pakai ancur ini, salah satu hiburan pangon rupanya.

Di musim hujan pangon dilengkapi dengan “kowangan”, jas hujan desa dari rangka bambu ditempeli slumpring bambu, layaknya atap sirap. Seperti tameng lebar melengkung diatas, digendong di punggung dengan tali penyangga dan bagian lengkungnya nempel diatas kepala. Berat untuk ukuran anak-anak, tapi lumayan daripada pakai peneduh atau payung daun pisang atau talas.

Bila ada sawah yang belum digarap dan kering, pangon-pangon bisa main sepak bola debok pohon pisang disitu. Kalau ada sawah bekas ditanami ketela rambat, yang tersisa bisa ditandai dari pohon-pohon muda yang muncul. Ketela sisa biasanya kecil-kecil, dan manis bila dimakan mentah, lebih-lebih bila perut pangon lagi lapar. Asyik juga !

Kadang-kadang pangon itu juga dapat siput sawah (keong), langsung dibakar, nikmat kenyil-kenyil katanya. Kadang-kadang juga dapat kodok ijo, pangon yang doyan membawanya pulang. Pangon kalau sekolahnya pagi, giliran angonnya siang/sore, kalau sekolahnya sore angonnya pagi. Gilir gumanti namanya.

Kaki pangon suka pecah-pecah, karena keluar masuk lumpur. Pasti pedih rasanya ! Sepatupun tidak bisa dipakainya, sakit. Sepatu karet untuk bertani ? Belum ada ! Di desa atau kota-kota kecil, murid SMP pun waktu itu masih cakar ayam. Awal-awal pakai sepatu, kakinya kan diangkat kalau jalan, seperti jalan ditengah sawah !

Soal penanda waktu ? Jam tangan tak terbeli saat itu, untuk pangon tergolong barang mewah. Penandanya ya matahari, tapi diwaktu hujan yang lebih dinanti-nanti pekik lokomotif yang tertentu saja waktu lewatnya. Kalau keretanya telat ya ikut telat pulangnya. Kami sih sudah apal kapan waktunya pulang, naluri saja.

Kami dipelihara awal-awal tahun 1950 di desa Ngampin kecamatan Ambarawa, jadi ada kereta api yang melintas di daerah itu. Jalur kereta api Ambarawa-Magelang. Jalur ini terkenal karena relnya tiga, antara stasiun Jambu dan Bedono. Rel yang tengah seperti rantai sepeda, sedang giginya ada di lokomotif, bikinan Zultzer Brothers dari Swiss. Rel tiga semacam itu ada lagi di Sumatra Barat. Rel tiga itu untuk daerah-daerah pegunungan yang agak terjal tanjakannya. Kalau sedang nanjak lokomotif dibelakang, bila lagi turun lokomotif didepan rangkaian lagi seperti biasa. Biar tidak meluncur sendiri kalau rangkaian terlepas.

Sekarang kereta itu hanya kadangkala jalannya, untuk turis. Stasiun Ambarawa sekarang dikenal sebagai musium kereta api. Isinya loko-loko uap yang dulu pernah dipakai.

Begitulah kisah kami, bebek, tertib hidupnya, disiplin perilakunya, rajin mandi tiap hari, dan memberi rejeki pada pemiliknya.

Bandung, 10 Nopember 2007
Hadiwaratama

Leave a Reply