Bapak Mubyarto – In Loving Memory of My Dad

Bapak Mubyarto – In Loving Memory of My Dad

Oleh : Satriyantono Hidayat

Betapa saya tidak menyangka Bapak akan secepat ini meninggalkan kami. Sampai saat terakhirpun saya percaya Bapak akan survive dan sembuh dari gangguan sesak napas dan serangan jantung yang dideritanya saat itu. Bapak sudah sering mengalami keadaan seperti ini, dan Bapak selalu menunjukkan kehebatan daya tahan tubuhnya, karena saya sangat tahu Bapak sangat disiplin menjaga kondisi tubuh dengan berolah raga rutin maupun menjaga menu diet makanannya, walaupun saya tahu Bapak harus menyuntik insulin 2 kali sehari selama hampir 3 tahun ini.

Tidak terasa baru hari Jumat 4 hari lalu saya mengantar Bapak ke bandara Adisucipto pergi ke Jakarta untuk keperluan seminar dalam rangka hari kebangkitan nasional pada hari itu. Hari Sabtu pagi saya bersama Ibu mengantar Bapak ke UGD RS Sardjito setelah Bapak mengeluh dada sesak sepulang dari jogging pagi itu. Dokter merujuk ke ICCU untuk rencana perawatan paling tidak selama 5 hari karena gejala paru-paru basah dan serangan jantung ringan yang menyerang Bapak. Tidak terasa baru kemarin saya membantu menyuapi Bapak makan bubur sambil berbaring di tempat tidur ruang ICCU, hari sabtu malam dan minggu pagi saya masih membantu Bapak, yang sedang kangen dengan Fasha, cucu laki-laki dari Dadit di Madison, US, untuk ‘webcam-an’ dari ruang ICCU memakai laptop saya, baru kemarin pula Bapak masih sempat menanyakan kabar proyek saya di Bontang, Kaltim, dan hingga hari Selasa jam 9 pagi ketika saya tiba-tiba ditelpon Ibu untuk segera berangkat ke rumah sakit tanpa tahu alasannya, dan sesampai di sana Bapak terlihat telah dalam keadaan tak sadarkan diri dengan alat bantu pernapasan telah terpasang di mulutnya. Pada saat-saat terakhir saya masih sempat membisikkan rangkaian kalimat tahlil di telinga Bapak, dan hingga dokter menyatakan Bapak meninggal, sekujur badan saya lemas, spontan saya menangis dan hanya bisa mengatakan, “nyuwun pangapunten Bapak…, innalillahi wainnailaihi rojiun”. Semoga ini adalah jalan terbaik yang telah ditentukan Allah untuk Bapak. Hari itu, Selasa, tanggal 24 Mei 2005, pukul 13.50 WIB, Allah SWT menunjukkan kuasa Nya, Bapak Mubyarto bin Martodinoto, dalam usia 66 tahun, dipanggil menghadap Nya.

Rasanya tak cukup kalimat untuk melukiskan betapa banyak pengalaman dan kenangan indah yang pernah saya rasakan bersama Bapak. Rasanya sulit untuk membatasi kata-kata ungkapan kasih sayang saya untuk Bapak. Sosok seorang Bapak yang sabar, sederhana, rendah hati, namun juga berdisiplin dan selalu bekerja keras menjadi panutan dan teladan bagi kami sekeluarga.

Bapak yang saya kenal adalah orang yang selalu bersemangat, bekerja keras, dan disiplin mengerjakan sesuatu yang menjadi cita-cita dan keyakinannya. Betapa Bapak telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk ilmu pengetahuan dan bagaimana menerapkannya semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. Di manapun dan kapanpun Bapak tidak akan lepas dari buku ataupun ballpoint dan kertas tulis tempat untuk menuliskan semua refleksi, gagasan, dan pemikiran mengenai berbagai persoalan yang terlintas dan Bapak ketemukan. Bagi Bapak, membaca dan menulis adalah kegiatan sehari-hari. Sebagai seorang peneliti Bapak jarang sekali melakukan penelitian dengan hanya mengolah data sekunder, Bapak selalu menemui secara langsung obyek telitiannya, sehingga untuk itu Bapakpun tak segan-segan menempuh perjalanan berhari-hari memasuki daerah-daerah di pelosok dan pedalaman. Bapak senantiasa mengerjakan semuanya tanpa mengeluh walau kadang-kadang rasa capek dan lelah menghinggapi. Kerja keras Bapak semata-mata adalah untuk memperjuangkan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan penerapan kebijakan yang memihak kepada keadilan dan kesejahteraan masyarakat banyak, hal yang kadang terasa semakin jauh dari harapan yang dirasakan sebagian besar bangsa Indonesia. Bagi Bapak senjata ampuh yang dimiliki untuk modal perjuangannya adalah kemampuan menulis dan kemampuan bicara yang dilandasi wawasan bacaan, pengalaman empirik, ideologi, konsistensi, dan ketegasan sikap yang meyakinkan. Semua ini tidak hanya menjadi kekaguman saya kepada sosok Bapak, tetapi juga mendapat tempat di berbagai forum dan organisasi baik yang sifatnya ilmu pengetahuan, politik, pemerintahan, ataupun sosial kemasyarakatan.

Sebagai seorang kepala keluarga, Bapak ingin selalu memanfaatkan kebersamaan kapanpun saat kami semua bisa berkumpul di sela-sela kesibukannya. Waktu yang banyak Bapak manfaatkan adalah saat makan malam di meja makan dimana kami dapat saling bertukar cerita dan pengalaman. Sepanjang hidup saya, terasa sosok seorang Bapak yang selalu mengayomi, menasehati, dan membimbing kami dalam menjalani segala tantangan hidup di dunia ini, baik dalam hidup berkeluarga, bersaudara, bersosialisasi, berinteraksi, dan bermasyarakat. Bapak membimbing kami dengan teladan dan kesabaran. Keramahan, keakraban, kerendahhatian, kesahajaan, dan kesederhanaan Bapak menjadi teladan yang tidak akan pernah dapat kami lupakan. Bapak tidak pernah secara eksplisit memaksakan kehendaknya kepada kami, tetapi secara implisit memberikan petunjuk bagaimana kita menjalani hidup ini dengan selalu bersyukur atas apa yang bisa kita miliki sampai hari ini.

Ajaran Bapak yang selalu tertanam adalah bagaimana menjalani hidup ini dengan selalu bersyukur dan senantiasa melihat ke orang-orang di sekitar kita yang masih hidup dalam kondisi yang masih serba tidak cukup. Apabila Bapak bertugas untuk mewawancarai orang miskin atau meninjau desa-desa terpencil di pelosok pedalaman, kami, anak-anaknya, senantiasa untuk sedapatnya diajak serta. Kota-kota kecil dan desa-desa terpencil di Yogyakarta, Jawa Tengah, Kepulauan Seribu, hingga Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Irian Jaya menjadi daerah dimana saya pernah diajak dalam kunjungan Bapak ke daerah-daerah yang menjadi obyek penelitiannya. Kami tahu benar, tujuan Bapak mengajak kami adalah untuk selalu mengingatkan mengenai kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia yang bersahaja, sederhana, dan tidak berlebihan di kampung-kampung pinggiran kota maupun di pelosok-pelosok pedesaan. Melihat orang yang masih hidup dalam kemiskinan, Bapak ingin selalu mengingatkan kami, betapa kita sekarang ini masih lebih beruntung dari mereka, dan betapa merekalah yang justru harus pertama kali kita tolong dan perhatikan. Bapak telah menunjukkan teladan kepada kami mengenai kepercayaan diri dan ketegasan sikap dalam membela keyakinannya untuk senantiasa menegakkan keadilan dan kebenaran.

Bapak membimbing kepribadian kami dengan kesabaran. Bapak tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada saya, walau saya tahu terkadang Bapak kurang sependapat dengan pilihan yang akhirnya saya jalani. Bapak sangat percaya kepada kedewasaan kami, anak-anaknya, dalam memilih yang terbaik untuk kami sendiri. Bapak tidak memaksa kami belajar di Fakultas Ekonomi walaupun kami tahu benar Bapak sangat menginginkan salah seorang dari kami menjadi penerusnya menjadi seorang ekonom. Bapak tetap mendukung sepenuhnya ketika saya memutuskan keluar dari kemapanan pekerjaan dengan gaji tetap untuk kemudian menjalankan bisnis yang saya yakini akan berkembang nanti. Bapak tetap dengan sabar menunggu saya mengambil keputusan untuk segera hidup berkeluarga, walau saya tahu benar Bapak tidak ingin menunggunya lagi terlalu lama.

Bapak, aku mohon maaf atas tingkah laku dan kata-kataku yang kadang tanpa sengaja justru membuat Bapak sedih. Aku masih belum sempat menunjukkan betapa besar terimakasihku kepada Bapak yang telah memberikanku kehidupan yang menyenangkan dan penuh makna. Aku masih belum sempat membuktikan keberhasilan didikan dan ajaran yang telah Bapak berikan selama ini kepadaku.

Ya Allah rasanya Engkau terlalu cepat memanggil Bapak yang sangat aku sayang dan hormati. Berilah aku kekuatan untuk ikhlas melepas kepergian Bapak, tunjukkan aku jalan untuk selalu dekat dengan Mu melengkapi peninggalan Bapak sebagai anak yang sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya, tunjukkanlah aku kemudahan untuk dapat meneruskan selalu teladan-teladan yang telah Bapak ajarkan di sepanjang hidupku ini.

Selamat jalan Bapak, semoga Bapak tetap tersenyum dan berbahagia di rumah barumu sekarang.

Ya Allah, berikanlah Bapak kemudahan dalam perjalanan pulangnya ke rumah Mu, terimalah Bapak di tempat yang nyaman di sisi Mu.

Amin.

Ditulis Oleh : Satriyantono Hidayat

[1 Juni 2005]

This Post Has One Comment

Leave a Reply