Ambarawa..

Ambarawa..

Oleh: Abi Hartomo

Dalam suasana lebaran tahun ini, kembali saya tidak ‘mudik’ ke Ambarawa untuk berlebaran. Mungkin karena status saya yang dulu ‘anak’ kini sudah otonom menjadi ‘suami’ dan juga ‘ayah’. Dulu, keluarga dimana status saya masih sebagai ‘anak’, senantiasa pulang berlebaran ke Ambarawa, kampung halaman ayah saya. Bukan karena alasan ‘patrilineal’, tapi karena keluarga dari ibu walaupun berasal dari daerah pantai utara jawa tengah, semenjak 1930’an sudah tinggal di Jakarta maka berarti tidak ada istilah ‘mudik’ jika berkumpul berlebaran di Jakarta dengan keluarga ibu.

Tentang Ambarawa, kota ini kecil saja kalau tidak salah sebuah kota kecamatan. Berkembang sepanjang jalur jalan raya antara Semarang dan Yogyakarta. Lebih detailnya antara Ungaran dan Magelang. Jarak pasti dari Semarang tidak tahu benar, tapi kira-kira setengah jam perjalanan di luar kemacetan. Hitung-hitungan dengan rata-rata kecepatan kendaraan 60 km/jam, mungkin jarak dari Semarang ke Ambarawa sekitar 30 km.

Kecuali yang tinggal di sekitar Ambarawa, orang mungkin hanya mengenal Ambarawa lewat Museum Kereta Api atau Palagan Ambarawa begitupun jika anda meng’google’ Ambarawa, hasilnya tidak jauh berbeda. Saya ingin cerita sedikit tentang kota kecil ini, pasti lebih lengkap daripada ‘google’ tapi pasti lebih awam atau malah mungkin berbeda daripada cerita mereka yang tinggal atau pernah tinggal disana. Tidak akan saya ceritakan tentang museumnya atau palagannya. Just ‘google’ it kalau anda ingin tahu.

Kesan paling kuat bila anda mampir dan menyempatkan diri tinggal beberapa hari di kota ini adalah waktu yang seolah tidak bergerak. Hampir tidak ada perubahan semenjak pertama saya ‘mengingat’ datang ke kota ini tahun 1980’an hingga terakhir berkunjung tahun lalu. Tidak hanya bentuk kota, irama pergerakan manusianya juga tetap sama. Melihat jenis mobil keluaran terbaru yang lalu lalang lewat di jalan antar kotanya merupakan satu-satunya hal yang mengingatkan bahwa waktu juga bergerak di kota ini.

Kalau di internet disebutkan bahwa hawa kota ini segar layaknya hawa pegunungan, kabar itu bohong besar. Memang posisi kota ini ada di punggung sebuah gunung, tetapi hawanya sama sekali tidak segar, cenderung menyesakkan buat saya yang terbiasa dengan hawa gunung di kota Bandung. Mungkin akibat kelembaban tinggi yang disebabkan keberadaan sebuah danau besar yang secara geografis berada di bawah kota Ambarawa. Akibat kondisi ini pula, konon penyakit umum yang diderita penduduk kota ini adalah gangguan pernafasan.

Mungkin keberadaan danau tadi pula yang dulu memberi ide penamaan kota. ‘Amba’ berarti luas dan ‘rawa’ yang berarti genangan air. Cerita rakyatnya, danau ini adalah hasil genangan air yang keluar dari sebuah lubang bekas tancapan sebatang lidi. Saya tidak ingat benar, tapi cerita rakyat ini juga menceritakan tentang seekor ular besar yang merupakan anak dari seorang pembesar. Ketika mencari pengakuan dari ayahnya, sang ayah meminta ular tadi melingkarkan tubuhnya mengelilingi sebuah gunung. Kelak setelah bertapa bertahun-tahun, ketika ular tadi mencoba melingkari gunung dengan tubuhnya, panjangnya kurang sedikit dan kemudian lidahnya dijulurkan untuk menyentuh ujung ekornya. Sayang seribu sayang, sang ayah malah memotong lidahnya. Tokohnya bernama Baru Klinthing, tetapi kaitan ular tadi dengan lidi yang ditancapkan tidak saya ingat lagi. Konon lagi, potongan lidah ular tadi menjelma menjadi sebuah mata tombak yang kini tersimpan di kraton Yogyakarta.

Memasuki Ambarawa dari arah Semarang dimulai dari persimpangan Bawen, yang bila terus ke selatan akan menuju kota Salatiga kemudian seterusnya ke Surakarta, berbelok ke barat akan menuju Magelang dengan sebelumnya melalui Ambarawa. Ciri khas dimulai dengan melewati sebuah pekuburan cina besar yang berhadapan dengan pasar hewan yang besar pula. Di hari tertentu, pasar hewan akan penuh oleh aneka ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Sedikit berkelok, dengan pemandangan sawah di kiri dan kanan jalan dengan latar belakang gunung mengerucut, akhirnya akan memasuki jalan kota yang lurus khas kota-kota di Jawa Tenga. Bersih, trotoar lebar dan sesekali pot-pot tanaman besar. Tak lama jalan melalui pasar. Sangat macet dari pagi hingga sore. Maju sedikit ada sebuah persimpangan, lalu maju sedikit lagi akan menemui sebuah jembatan besar kemudian sebuah persimpangan lagi yang disana terletak monumen Palagan Ambarawa, berbelok ke kanan dan keramaian kota akan diakhiri sebuah gereja besar dengan patung ayam jago logam di puncak menaranya. Habis sudah kota Ambarawa. Keramaian lebih kurang sepanjang dua kilometer saja.

Di Ambarawa hanya terdapat dua pasar besar sepanjang jalan raya tadi, yang satu saya lupa namanya, dan yang satu bernama pasar ‘Lanang’. Menurut ayah saya, di pasar-pasar inilah dijual peralatan pertanian tradisional yang tinggi kualitasnya. Terutama pacul dan gagangnya. Pacul dari daerah ini cukup khas terutama bila dibandingkan dengan pacul di Jawa Barat. Bentuk mata paculnya lebih pipih atau persegi panjang dengan bentuk lebih memanjang dari mata pacul umumnya yang hampir berproporsi bujursangkar. Gagang dan mata pacul bersudut kecil, lagi-lagi tidak serupa dengan pacul umum yang sudut antara gagang dan matanya bersudut hampir 90 derajat. Menurut ayah yang masa kecilnya hidup susah sehingga memiliki pengalaman berpacul dalam derita, bila terbiasa memakai pacul jenis ini, akan sangat melelahkan bila menggunakan pacul bersudut lebar. Selain alat pertanian, alat rumah tangga tradisional juga menarik untuk diperhatikan, barang-barang dari gerabah atau anyaman bambu dengan bentuk khas masih terlihat bergelantungan bersaing dengan barang-barang plastik.

Bila pulang ke Ambarawa, kami menghabiskan waktu lebih kurang satu minggu. Hampir tidak pernah kami pergi berwisata ke tempat-tempat yang disebut sebagai tempat tujuan wisata Ambarawa seperti Museum K.A., Monumen Palagan, Danau yang bernama Rowo Pening, atau napak tilas jalur K.A. bergerigi yang konon salah satu dari dua saja rel sejenis di Indonesia. Kami lebih semangat untuk berwisata kuliner. Ada beberapa makanan yang terdapat di Ambarawa, hampir tidak dapat ditemui di tempat lain.

Bagi saya yang paling istimewa adalah ketupat tahu campur ‘Pak Samino’, letaknya di sebuah jalan setelah berbelok ke selatan dari pertigaan pertama yang ditemui dari arah Semarang. Warungnya kecil saja, tidak lebih dari empat kali empat meter. Ketupat tahunya sangat khas, terutama bumbu cair manis dengan tumbukan kacang tanahnya, bila agak siang, masih kebagian sedikit potongan semacam bakwan di atasnya. Rasanya luar biasa, ketupatnya wangi, irisan kolnya masih segar, lalu tahunya dalam kondisi ‘medium rare’, terlebih bila dipesan pedas kemudian ditemani kerupuk ‘kampung’. Tahu campur jawa (tengah) yang menjadi genre-nya, tidak saya temukan yang lebih enak di tempat lain, meskipun di warung tahu campur yang konon terenak di Yogyakarta. Hambar saja bila dibandingkan racikan ‘Pak Samino’.

Berikutnya adalah warung makan ‘Bu Sri’ letaknya sedikit ke utara dari arah warung tahu campur ‘Pak Samino’, masakannya sederhana, yaitu masakan-masakan cina yang diadopsi lidah jawa berupa nasi goreng, mi goreng atau bihun dan lain-lain. Kekhasannya pada bumbu dan aksesori jeroannya. Entah karena ada pasar ternak di kota ini, tampaknya jeroan sangat berlimpah dan digemari dibandingkan dagingnya sendiri. Nasi goreng babat ususnya belum saya temukan padanannya di tempat lain. Ada lagi bakso kakap yang konon sangat nikmat, tetapi saya yang tidak menyukai makanan laut tidak tahu apa kelebihannya, bagi anggota keluarga lain, bakso kakap ini tidak pernah dilewatkan.

Serabi tradisional yang dijual di pinggir jalan pun memiliki kekhasan dibanding serabi di tempat lain. Rasanya didominasi gurihnya serpihan kelapa dan bumbunya betul-betul manis gurih tanda kemurnian gula merahnya. Mungkin inilah resep asli kue serabi.

Terakhir yang memang belum pernah saya jumpai di tempat lain adalah ‘pecel semanggi’. Saya lebih senang menyebutnya pecel ‘kere’ karena konon inilah pecelnya orang miskin di sana, dedaunan di dalamnya tidak ada yang dijual di pasar karena tidak memiliki nilai jual dan karenanya, aneka sayur di dalamnya konon dipetiki sendiri dari tanaman kebun dan tanaman liar atau pagar. Daun yang saya kenali cuma daun semanggi. Daun lainnya tidak saya kenali. Satu porsinya ditemani ketupat kecil yang berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisi lebih kurang empat atau lima centimeter, tebal lebih kurang satu centimeter. Bungkusnya pun entah daun apa. Teman lainnya adalah tempe ‘gembos’ goreng, lagi-lagi tempe ‘kere’ karena dibuat dari sisa ampas tahu. Setelah disajikan di atas selembar daun jati atau malah mungkin daun randu, racikan sayur tadi disiram saus kacang kasar untuk kemudian dimakan dengan ‘pincuk’ atau daun yang dilipat sebagai sendok. Tahun lalu harganya hanya Rp. 250,- per porsi. Saya anggap cukup bila sudah mengkonsumsi tiga atau empat bungkus. Istimewanya, pedagangnya datang membawa pikulan gendong layaknya tukang jamu di halaman rumah, ‘delivery service’ dipadu dengan ‘fresh cooked by order’.

Bicara kemiskinan, penduduk pedesaan di sekitar kota Ambarawa didominasi buruh tani yang kelihatannya cukup banyak yang hidup di bawah batas garis kemiskinan. Mengherankan bila kemudian kekurangan ini tampaknya mereka anggap sebagai kebersahajaan dibanding kemiskinan. Saya banyak melihat mereka yang kekurangan menyikapi hidupnya dengan ‘nrimo’ dan tampak bahagia. Masih banyak senyum dan sapaan akrab di antara mereka. Tapi itu bertahun lalu, entah hari ini dengan himpitan ekonomi yang makin berat.

Bila anda penggemar produk ‘bakery’ dan ‘pastry’ sempatkan mampir ke toko roti ‘Pauline’ tepat di seberang persimpangan jalan menuju kota wisata Bandungan dari Ambarawa. Saya kurang paham bagaimana menjelaskan kekhasannya, tetapi kenikmatan khas roti kelapa, roti susu dan roti basonya, tidak dapat ditemui pada roti produksi tempat lain.

Selain kulinari, kekhasan Ambarawa adalah buah-buahan yang istimewa. Terutama kelengkengnya, tidak ada yang menyamai kualitasnya. Kelengkeng Ambarawa sangat enak, aromanya sangat kuat dan manis, walaupun dagingnya tidak tebal. Berbeda dengan kelengkeng impor dari Cina yang berdaging tebal, manis namun hambar. Dengan banyaknya pohon-pohon kelengkeng ini, madu dari Ambarawa menjadi sangat istimewa, karena lebahnya menghisap sari bunga kelengkeng. Jauh lebih nikmat dari madu manapun di Indonesia yang merupakan sari bunga hutan atau kapuk seperti di Indonesia timur.

Buah lain yang istimewa adalah nangka dan sawonya, rasanya begitu kuat di samping manisnya, sangat berbeda dengan buah serupa dari daerah lain yang mungkin manis, tapi hambar rasanya. Tempat membeli buah-buah ini umumnya di sepanjang jalan setelah kota Ambarawa ke arah Magelang, atau tepatnya di daerah ‘Jambu’, yang dari namanya saja sudah cukup ‘buah’. Biasanya kita bisa juga membeli di kelas pengumpul atau malah pemilik pohon buahnya bila waktunya tepat saat pemetikan.

Satu kekhasan lain dari kota Ambarawa ini, hampir seluruh prianya merokok! Tidak peduli datang dari golongan mana. Rokok yang termurah mulai dari kelas rokok jagung sampai sigaret kretek lalu tembakau linting yang pedagangnya banyak ditemui di berbagai penjuru kota.

Jangan bayangkan kota ini sebagai kota romantis untuk ‘rendesvouz’, bilapun ada, di utara kota Ambarawa terdapat lokasi wisata pegunungan Bandungan, dan sebuah kompleks candi bernama ‘Gedong Songo’. Secara visual, lokasinya memang romantis, pegunungan berhawa dingin dengan panorama danau menghampar di bawahnya, tapi awas, legenda mengatakan, siapapun yang memadu kasih di kompleks candi ‘Gedong Songo’ akan segera bubar kisah kasihnya.

Bila kebetulan anda kelak mampir ke kota Ambarawa, selain tujuan wisata utamanya, sempatkan naik andong atau delman untuk berkeliling kota. Silakan buktikan bagaimana ‘waktu’ berhenti di kota Ambarawa.

Gambaran saya barangkali tidak seindah gambaran orang lain akan kota-kotanya masing-masing tempat tujuan kemana mereka ‘pulang’. Kebutuhan akan oase sosio-spiritual untuk ‘pulang’ dan menyandarkan identitas diri di sana selalu menjadikan gambaran ‘rumah’ begitu indah, mungkin jauh lebih indah dari realitanya. Bila ini yang terjadi dari cerita saya, saya mohon maaf.

Selamat berlebaran, mohon maaf lahir dan batin.

[November 2006]

(Dimuat juga di http://abihaha.blogspot.com/)

Leave a Reply