Cerita UMRAH: Bu Bran Prayitno, Bu Ambar, Pak Gondo, Pak Kenthut & Nyonya (Bu Win), dan Arief

Cerita UMRAH: Bu Bran Prayitno, Bu Ambar, Pak Gondo, Pak Kenthut & Nyonya (Bu Win), dan Arief

Oleh : Edy Prasetyo Utomo

Keinginan / Krentek Sama

Kira-kira satu bulan sebelum berangkat, kami semua secara kebetulan punya niat sama, yaitu pergi untuk menyepi dan beribadah. Saya pribadi, memang merasakan ada sesuatu yang jenuh menghadapi rutinitas, sehingga muncul keinginan RETREAT (apapun namanya) untuk merubah mode, menyegarkan suasana bathin dan lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Dari sinilah saya memutuskan untuk bergabung pergi UMRAH. Diantara kami mungkin saya yang paling kurang rekaman sholatnya, dan berangkat hanya bermodal ikhlas (lillahi Ta’ala).

(Foto 1: Siap melakukan UMRAH setelah ber-IHRAM di King Abdul Aziz Airport)

Jadual Mundur

Tidak menduga bulan April 2007, orang pergi UMRAH luar biasa banyak. Agen perjalanan UMRAH sampai kewalahan, dan baru OK dapat ticket pesawat untuk pemberangkatan 7 Mei. Di bulan ini sudah berkurang orang pergi UMRAH dibanding bulan sebelumnya. Mungkin karena pengaruh suhu udara di Makkah Al -Mukarromah mencapai 45 derajat Celcius, terlalu panas bagi orang Indonesia. Suhu di bulan Juni, Juli & Agustus bisa lebih dari itu (50 derajat Celcius ??, konon ceritanya). Penerbangan dari Jakarta ke Jeddah membutuhkan waktu 9 jam tanpa transit. Pesawat Garuda Boeing 747 yang kami tumpangi tidak ada satu kursipun yang kosong, padahal waktu itu satu hari ada 2 penerbangan. Bisa dibayangkan betapa banyak orang bepergian ke Arab Saudi dari Indonesia, apakah itu TKI, UMRAH, business dll. Bisa diprediksi Garuda untung besar pada route ini. Waktu Jeddah adalah 4 jam dibelakang waktu Jakarta. Berangkat jam 13.30 siang dari Jakarta dan tiba di bandara King Abdul Aziz – Jeddah jam 18.30 atau 22.30 WIB. Sewaktu masih di Jakarta sebelum berangkat ke Cengkareng sudah melakukan mandi besar untuk niat UMRAH.

Miqoot di King Abdul Aziz Airport

Setelah mengambil barang bagasi, langsung wudlu dan ganti pakaian IHRAM di dalam lobby kedatangan di Airport dan mulai sholat untuk segera melakukan prosesi UMRAH. Saat IHRAM harus dalam kondisi bugil, baik pria dan wanita. Setelah sholat selesai dengan bus yang sudah disediakan agen travel, kami berangkat ke Makkah. Jarak Jeddah ke Makkah kira-kira 100 km, atau 1.5 jam melalui highway. Selama perjalanan dibimbing membaca doa-doa oleh Mutawif. Jam 22.30 tiba di Makkah; langsung masuk hotel, menaruh barang bawaan /koper pakaian di hotel, makan malam dan jam 00.00 mulai masuk Masjidil Haram. Jarak hotel ke Masjidil Haram hanya 50 meter, sangat comfort untuk melakukan ibadah. Pada saat pertama melihat Ka’bah di Masjidil Haram terasa kagum dan sejuk. Kami semua langsung melakukan Thawaf (jalan sambil berdo’a mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali), kemudian berdoa di belakang Maqam Ibrahim lurus dengan Ka’bah. Setelahnya minum air Zamzam, dan dilanjutkan melakukan Sa’i 7 kali dimulai dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Setelah selesai Sa’i di bukit Marwah dilanjutkan dengan Tahallul (dengan memotong rambut). Pada saat ini selesailah satu kali ibadah UMRAH. Pakaian IHRAM bisa ganti pakaian biasa. Selesai UMRAH waktu sudah menunjukkan jam 03.30 pagi. Jam 03.30 pagi adzan Fajar dan jam 4.30 Shallat Ma’muman Fajar/Subuh. Suara adzan dan doa di Masjidil Haram sangat memukau dan menyejukkan suasana hati saat mengikutinya. Ini saya perkirakan best of the best dari suatu intonasi doa dan membuat kangen kesana. Kami semua melakukan UMRAH lebih dari satu kali. Artinya memulai prosesi UMRAH lagi dari luar tanah HARAM menuju Masjidil Haram.

Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Hijir Isma’il dan Rukun Yamani

Tempat ini adalah yang sangat didambakan oleh jamaah untuk dapat mendekati, memegang atau menyentuh sambil berdoa apa yang diinginkannya. Ratusan ribu orang bahkan jutaan orang selalu mendambakan hal tersebut. Bagaimana dengan kami, dapat ditanyakan ke-masing2 pengalamannya.

Udara panas

Hampir semua dari kami tidak familiar dengan suhu tinggi. Ini menimbulkan sedikit gangguan kesehatan. Saya sendiri sempat off tidak ke Masjidil Haram karena badan panas dan pusing, tetapi untung cepat bisa menyesuaikan suhu tinggi dan sehat untuk beribadah.

Wisata ZIARAH

Setelah UMRAH dan memperbanyak doa di Masjidil Haram selesai, kami melakukan kunjungan ke Jabal Nur & Gua Hira (tempat Nabi Muhammad SAW menyendiri, tafakkur & beribadat. Terletak 6 km utara M.Haram), Jabal Tsur (tempat Nabi berlindung dari kejaran orang kafir Quraisy, 6 km selatan M.Haram), Arafah (seluruh jamaah Haji tgl 9 Dzul Hijjah melakukan wukuf), Jabal Rahmah (tempat pertemuan Nabi Adam dengan Siti Hawa), Muzdalifah (jamaah mengambil batu kerikil untuk melontar jumrah di Mina), Mina & Jabal Qurban (Tempat lempar Jumrah dan Qurban). Perjalanan dilanjut ke Ji’ranah untuk UMRAH berikutnya.

Madinah

Setelah acara di Makkah selesai dan disudahi dengan Thawaf Wada’ (perpisahan), kami berangkat ke Madinah dengan Saudi Arabia Air. Pesawat ini bagus tetapi pelayanannya tidak lebih baik dari penerbangan Indonesia. Bahkan saya punya kesan maskapai penerbangan ini semau gue. Delay 5 jam tanpa ada pemberitahuan dan tanpa memberikan kompensasi makan, sehingga kami terpaksa jajan di Airport & cukup mahal.

Inti ke Madinah adalah berdoa di Masjid Nabawi dimana terdapat makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Khattab.

Setelah di Masjid Nabawi selesai, acara dilanjutkan dengan kunjungan ke makam Baqi’ (lokasi di Madinah yg sangat bagus untuk makam, karena bebas batu dan kerikil), Masjid Quba (pertama kali didirikan atas dasar Taqwa), Masjid Qiblatin (terdapat dua Qiblat), Makam Syuhada Uhud (makam mereka yg gugur dalam perang Uhud). Kunjungan akhir ke Percetakan Al-Qur’an.

 

Foto 2: P.Gondo di depan Percetakan Al-Qur’an

JEDDAH

Setelah semua acara selesai, perjalanan lanjutan ke Jeddah, ini merupakan kota industri dan pusat kegiatan perekonomian di Saudi Arabia. Lumayan bersih kotanya dan banyak orang bisa bahasa Indonesia, demikian juga di Makkah. Bahkan bahasa daerah Jawa pun OK. Kota ini terletak di tepi laut Merah.

Foto 3: Masjid Terapung di Laut Merah, Jeddah

Dari pengalaman ini, yang penting jika akan melakukan UMRAH
– Dari Jakarta, gunakanlah pakaian yang paling simple (mudah dilepas dan dibawa: sandal jepit dan baju koko)
– Latihan fisik terutama jalan kaki tanpa alas
– Semua dilakukan ikhlas, apa yang akan terjadi terjadilah
– Hati-hati dan menjaga jangan sampai terasa buang air kecil atau besar di Masjidil Haram. Lokasi toilet agak susah dicari bagi yg belum familier
– Tidak boleh punya pikiran jelek sekalipun hanya dalam bathin

Salam,
Pak Kenthut

Leave a Reply