Para Penjahit Di Negeri Siam

Para Penjahit Di Negeri Siam

Oleh : Budiono Santoso

Salam hangat dari Manila. Akhir pekan lalu saya ke Bangkok bersama Nyi Ageng. Memanfaatkan tiket gratis dari frequent flyer. Dari pada hangus. Beberapa tahun lalu pernah hangus dua tiket ok nggak sempat memanfaatkan.

Berangkat hari Kamis, 17 Mei, malam jam 2030, tiba di bandara Suvarnabhumi jam 2245. Bandara ini baru diresmikan bulan September 2006 lalu. Sangat megah. Terminal nya konon terbesar di dunia, lebih besar dari bandara Hongkong. Suvarnabhumi (Tanah Emas) saat ini dapat menampung 45 juta penumpang per tahun. Jika rencana semua selesai, dapat menampung seratus juta penumpang. Berkaitan dengan ambisi Thailand untuk menjadi daerah tujuan dan persinggahan utama di Asia Tenggara.

Megah dan menakjubkan. Saya benar benar kagum dengan arsitek yang merancangnya. Saya memang pengagum arsitektur. Karya cipta arsitektur spektakuler dan penuh imaginasi. Tak berlebihan bila bandara ini merupakan bandara kebanggaan Asia, di samping Hong Kong. Memberikan kesan kemegahan bangsa Siam sejak ribuan tahun lalu. Foto fotonya bisa dilihat di Google. Jauh lebih baik dari foto2 yang saya ambil.

Pemeriksaan imigrasi berjalan lancar ok lebih banyak loket pelayanannya. Demikian pula keluarnya bagasi nggak lebih sepuluh menit sesudah selesai imigrasi. Di bandara lama Don Muang jika tiba menjelang tengah malam selalu antre panjang di imigrasi. Saya pernah antre sampai lebih dua jam, di awal sembilan puluhan. Waktu itu selalu transit di Don Muang dalam perjalanan ke Nepal, paling tidak tiap dua bulan.

Ke kota naik taksi 1000 baht. Sekalian pesan tiket untuk tour esok pagi karena dapat potongan, dua orang hanya bayar 1000 baht. Lebih mahal dri taksi dengan argo, tetapi lebih aman dan nyaman. Sampai hotel tengah malam, Siam Heritage Hotel. Nggak begitu megah seperti fotonya di web. Sedang sedang sedang saja. Kamarnya kecil, lumayan dapat makan pagi. Tetapi kalau tahu ya sebenarnya lebih baik pilih chain hotel yang sudah terkenal. Selamat nggak dengar komplain “kalau bawa isteri, cari yang murah”.

Paginya jam 1000 dijemput untuk tour dengan pemandu. Kebetulan hanya kami berdua dengan mobil van. Keliling kuil kuil Budha sepanjang Chao Praya. Untuk ukuran Asia kuil kuil itu belum terlalu tua, hanya dua ratus sampai tiga ratus tahun umurnya. Bandingkan dengan Borobudur yang lebih 1300 tahun. Bangkok tetap saja sibuk. Tetapi kelihatan bersih dan rapi. Kota ini terkesan begitu ramah. Sudah sangat terbiasa dan berpengalaman menangani wisatawan. Semuanya serba mudah.

Seperti tour pada mumnya, di akhir program di bawa mengunjungi toko toko khusus untuk belanja. Kalau sudah begini susah, nggak beli gimana, mau beli sering nggak masuk rencana. Kami dibawa ke toko sutera sekaligus penjahit dan tempat penggosokan batu permata. Saya pesan jas, istri beli beberapa potong kain sutera. Dua malam berturut turut, menikmati Thai massage. Benar benar rileks, 2 jam pijat sampai ketiduran.

Keberhasilan Thailand mempromosikan sektor pariwisata mungkin perlu dipelajari. Hal hal yang positip perlu ditiru negara lain. Keberhasilan menggerakkan dunia wisata mempunyai daya ungkit besar terhadap usaha usaha kecil dan menengah yang lain. Salah satu contoh adalah usaha menjahit pakaian (tailor) terutama setelan jas.

Negara ini terkenal di seluruh dunia akan kepiawaiannya dalam pelayanan cepat membuat setelan jas. Para wisatawan yang datag dapat pesan hanya dalam tempo 12 – 18 jam, langsung siap pakai. Biayanya juga relatif murah, sekalipun dibandingkan dengan Indonesia. Dengan 5000 baht (kurang lebih 150 dollar) anda bisa pesan setelan dengan bahan wool Itali. Ongkos menjahit di tailor2 terkenal di Indonesia mungkin sudah sekitar satu juta rupiah sendiri. Tolong dikoreksi jika keliru.

Usaha jasa penjahit banyak berkembang di Bangkok dan kota kota lain di Thailand. Dengan bangga mereka mengatakan bahwa ”penjahit penjahit kami adalah yang paling piawai di dunia”. Tak berlebihan. Mungkin benar. Anda bisa pesan langsung diukur, sekalian pas, 12 jam kemudian barang diantar ke hotel. Sistem kerjasamanya begitu effisien. Hasilnya sangat prima jika saya bandingkan dengan jasa serupa di negara2 lain termasuk Indonesia dan negara ASEAN yang lain.

Di hotel kebetulan juga ada penjahit serupa. Saya lihat berbondong bondong wisatawan pada pesan. Setelah melihat hasil pesanan pertama dari toko yang kami datangi bersama pemandu, pengin pesan lagi di situ. Beberapa setelan saya sudah waktunya ganti. Kebetulan juga belum punya jas tutup model Asia, yang sering kita lihat dipakai oleh para pemimpin Cina, India dan Pakistan. Masih ada waktu dua puluh empat jam.

Kami berdua langsung diukur. Enam jam kemudian diminta datang untuk pas. Saya sempat ketemu penjahit yang mengerjakan. Ternyata toko2 besar ini melibatkan banyak tukang jahit di Bangkok. Yang menjahit baju, celana dan jas orangnya lain lain. Tetapi hasilnya kok pas benar. Begitu di pasang rasanya mak plek. Saya akhirnya pesan tiga setel, istri satu setel dan kain kain sutera halus.

Keberhasilan Thailand mempromosikan jasa menjahit tak lepas dari komitmen, koordinasi antar usaha, ketrampilan manusia. Walau hanya jasa menjahit, penjahit penjahit mereka terkenal ketelitian dan kepiawaiannya. Bagaimana meningkatkan keterampilan manusia penjahit, menggerakkan sektor usaha dan mempromosikannya ke luar perlu ditiru. Ini yang harus ditiru.

Tak hanya dalam dunia jahit menjahit, Thailand tampil piawai di dunia global. Pasar buah tropis dunia juga dikuasai oleh Thailand saat ini. Belum lagi bicara mengenai Thai massage yang menjamur bagai industri. Dalam negosiasi antar negara tentang hak paten, inovasi dan kesehatan masyarakat, Thailand tampil fokal bersama Brasil dan beberapa negara Afrika, mewakili negara2 berkembang dalam upaya pengembangan obat2 baru untuk penyakit daerah tropis.

Tulisan saya bukan untuk pamer. Nggak ada yang perlu dipamerkan. Hanya ungkapan kekaguman saya akan keuletan bangsa Siam. Walaupun kaum penjahit toh mereka berani bersaing dan tampil piawai di dunia. Untuk kita jangan sampai yang tampil bersaing malah kaum penjahat, apalagi teroris.

Pulang ke Manila hari Minggu pagi, 20 Mei 2007, hari Kebangkitan Nasional. Dulu kala kitapun pernah terpandang di antara bangsa bangsa di Asia, seperti bangsa Siam. Sudah saatnya kita bangkit dan tampil kembali di panggung pergaulan dan persaingan antar bangsa.

Salam untuk semua

Ki Ageng Similikithi

(Telah dimuat di Kolom Kita Kompas Cyber Media, 29 Mei 2007)

Leave a Reply