Operasi Sandi Mercon Bumbung

Operasi Sandi Mercon Bumbung

Oleh : Budiono Santoso

Peristiwa ini terjadi atara tahun 1960 atau 1961. Saya duduk di kelas empat atau kelas lima. Permulaan bulan puasa waktu itu. Setiap bulan puasa datang yang selalu mengasyikkan adalah membuat mercon atau kanon bumbung. Terbuat dari batang bambu belo. Ledakan terjadi dengan menyulut bahan bakar minyak tanah. Juga bisa terbuat dari batang papaya, dengan bahan bakar karbit. Ledakan dengan gas karbit lebih menggelegar, makanya harus pakai batang papaya yang lebih kuat, tidak gampang pecah dan hancur.

Bermain mercon bumbung seperti layaknya dalam dunia militer. Tembak menembak pakai kanon, saling menggelegar dan bersaing dengan teman atau tetangga dekat. Satu sore saya mencoba satu mercon bumbung di jalan Lonjong, belakang rumah Kamto, di sebelah rumah pakdhe Klerk ( pakdhe Amin).

Ini hanya persiapan operasi. Uji coba sebelum operasi lapangan yang sesungguhnya. Biasanya selalu bersaing siapa yang paling keras, punya Jumadi, Tasrip, Kamto atau punya kami. Kami berdua dengan Gondo selalu mengarahkan mercon bumbung mengarah ke timur supaya mereka dengar suara ledakannya.

Saat asyik mencoba mercon perdana yang nggak begitu besar itu, tiba tiba, dari balik pagar Pakdhe Klerk memanggil. “Aku mbok gawekno sing gedhe So “. Saya agak kaget dan heran sebenarnya. Aneh, beliau berminat dengan urusan mercon. Biasanya selalu kritis dengan mainan mainan seperti ini.

Beliau orangnya pendiam sangat berwibawa da tak banyak bicara. Saya mengiyakan dengan serius. Saya tak bertanya dan tak banyak bicara. Kemampuan bahasa Jawa halus saya selalu menjadi barier komunikasi. Seperti dalam dunia militer, ini perintah laksanakan. Batin saya ya siap, laksanakan.

Dalam 3 hari berturut turut sesudah itu saya dengan Kamto selalu kerja keras secara diam diam. Kami menemukan batang bambu belo yang paling bagus di batas belakang kebun saya di Lonjong. Waktu itu batang bambu belo besar besar dan bagus bagus. Sekarang batang bambu belo kecil dan mengecewakan. Regresi genetis alamiah. Bambu belo paling besar dan indah saya lihat di kebun raya Peradeniya, Srilangka. Hampir sebesar batang kelapa.

Setelah mendapat batang bambu yang bagus, kami ambil pangkalnya, bagian yang ideal untuk mercon karena dindingnya tebal. Tidak gampang pecah dan ledakannya lugas berwibawa. Kami bekerja diam diam selama 3 hari, selepas pulang sekolah. Supaya bisa jadi surprise betul. Kayaknya operasi sandi beneran dalam dunia militer. Operasi sandi Mercon Bumbung. Sekarang biasanya para polisi menggelar Operasi Ketupat menjelang lebaran untuk mengamankan perjalanan menjelang dan sesudah lebaran. Operasi kok namanya ketupat. Tak berwibawa, namanya terlalu lembek, mana ada orang yang mau tunduk dan mentaati aturannya..

Kira kira jam lima sore, suasananya sangat cerah. Saya berdua dengan Kamto menggotong mercon itu, memotong jalan lewat jalan Lonjong. Kami telah uji coba kanon itu dengan suara yang mantap, tidak menggelegar sekali, tetapi sama sekali tidak ngewes. Kanon bambu yang tak dibuat dengan baik, biasanya suaranya sangat lembek, ngewes seperti kentut sapi.

Dengan serius kami bawa kanon bambu itu ke rumah pakdhe. Pikir saya mestinya beliau akan senang dan bangga sekali. Ini kanon terbaik yang pernah saya buat. Beliau sedang duduk duduk di beranda depan sewaktu kami datang menggotong kanon bambu itu. Dengan dingin beliau bertanya ” Apa kuwi So ” . Saya jelaskan bahwa ini adalah mercon bumbung pesanannya tiga hari lalu. Jawabannya di luar dugaan. “Rumangsamu aku kok kon dolanan mercon bumbung ya ?” “Bocah kok ora ngerti di semoni”. Patah semangat saya. Saya pikir pesan betulan, tahunya cuma mau menyindir. Batin saya, siapa suruh menyindir. Saya nggak pernah mempan disindir.

Saya bawa pulang ke rumah kanon itu. Saya pasang di belakang rumah ke arah tenggara. Akhirnya sore itu kami habiskan dengan menembakkan mercon bumbung itu. Suaranya benar benar lugas meledak. Tidak ngewes sama sekali. Tak peduli dengan operasi sandi Mercon Bumbung. Yang penting mission accomplished.

Beberapa lama saya tak berani tidur di tengah di rumah Pakdhe. Biasanya kecuali hari Minggu saya selalu tidur di sana. Mesti harus siap menerima wejangan mengenai insiden mercon bumbung itu. Sewaktu saya datang kembali tidur di tengah, beliau ternyata tak pernah mempermasalahkan insiden itu. Insiden telah berlalu. Situasi aman dan terkendali.

Hanya suatu saat Budhe Sumowono, pernah tanya “Jarene kowe ngirimi pakdhemu mercon bumbung ya So ?”. Saya menjelaskan itu permintaan beliau. Budhe saya hanya menggumam “Gurumu pecuca pecucu ora nggenah kae”. Kasihan guru saya, dia sama sekali tidak tahu dan tidak terlibat operasi sandi ini.

Dalam rencana semula memang hanya saya sama Kamto yang tahu dan terlibat operasi ini, operasi sandi Mercon Bumbung. Kamto kini masih tinggal di Ngampin, dia bekerja sebagai sopir andong. Dia mungkin juga sudah lupa dan nggak pernah cerita insiden ini ke siapa siapa. Memang namanya saja operasi sandi.

Manila, 21 April 2007.

Leave a Reply