www.djojosastro.info :::

Kisah
Keluarga
 Sosok Dikenang  
 Cerita Masa Lalu 
 Tokoh & Peristiwa 
 Lingkungan & Tradisi 

  Cerita Masa Lalu

Perikehidupan Cerdas

Oleh: Hadiwaratama [2007-12-31 17:31:39]

Pengantar

Tahunnya saya tidak ingat, apalagi tanggal dan bulannya, tapi yang pasti antara 1954 dan 1955. Suatu pagi pas jam istirahat, teman-teman ngajak lihat perletakan batu pertama. Tepatnya disawah terbuka, dipinggir Jalan Taman Menteri Supeno Semarang, di depan sekolah SMA - B, bekas HBS - Jaman Belanda, dimana kami sekolah. Itu adalah perletakan batu pertama gedung kantor Gubernuran Jawa- Tengah. Kalau standard sekarang itu namanya bangunan sementara, semi permanen. Kami rame-rame kesitu bukan mau lihat sawah yang tiap hari kami lewati dipojokan Jalan Oei Tiong Ham dan Taman Menteri Supeno, tetapi ingin lihat seperti apa sosok seorang Insinyur itu ! Kalau dokter kan umum tahu, pakai jas putih kalung stethoscope, tapi insinyur ?! Bung Karno menggambarkan pada kami seorang Presiden, bukan insinyur. Pidatonya yang berapi-api selalu ngundang orang berkerumun di depan radio yang menyiarkannya. Bukan gambaran sosok insinyur, tetapi orator !

Di sawah itu yang kami lihat adalah sosok langsing tinggi, anggun berdasi merah, hemd panjang biru muda berpantalon biru gelap navy blue ! Tenang berwibawa; rupanya itulah sosok insinyur-nya. Itu terkesan oleh saya sampai sekarang. Kami tidak pernah mempertanyakan insinyur apa dia, yang kami tahu saat itu pasti terkait dengan pertukangan.

Sejak saat itu sosok tersebut memberikan obsesi pada saya untuk jadi insinyur, tukang intelek. Cita-cita pun berubah, yang tadinya dari senang baca riwayat hidup fisikawan-fisikawan dunia membuat saya ingin jadi ahli fisika. Itu saya baca dari buku-buku pelajaran Fisika karangan guru-guru Belanda untuk SMP (Mulo), kepustakaan ayah saya, Bapak Triworo, guru Fisika + Ilmu Pasti di SMP. Dia Ketua Perguruan, juga guru saya Fisika dan Ilmu Pasti selama 3 tahun di SMP (Taman Dewasa) Ambarawa.

Buku-buku yang saya baca tersebut lebih banyak narasinya, inspirative, sedikit rumus-rumusnya, dan tebal untuk ukuran SMP. Buku-buku tersebut sangat inspiring.

Tamat SMA tahun 1957 langsung ke Universitas Indonesia, ndaftar di Fakultas Teknik (TH) Bandung, kan pengin jadi tukang insinyur ! Disitu banyak pilihan: Mesin, Elektro, Kimia Teknik dll. Eh, ternyata ada Fisika Teknik ! Ragulah saya!

Saya tanya yang lebih lama di kampus tersebut, apakah Fisika Teknik itu juga sekolah Insinyur. Ternyata ya, sekolah insinyur, dan saya pilih itu karena sekaligus pengin jadi Fisikawan dan Insinyur. Jadi dapat dua-duanya ! Dikemudian hari terbukti pilihan saya tersebut membuka banyak kemungkinan bagi karya-karya saya kelak.

Dari FT - UI ke ITB.

Kalau masuknya saya di UI, tamatnya dari ITB, karena FMIPA + FT misah dari UI menjadi ITB pada tahun 1959, diresmikan Bung Karno ditemani Ho Chi Minh tanggal 2 Maret.

Sa'at itu pengawalan Presiden belum seketat sekarang. Keamanan di kampus dilaksanakan oleh para mahasiswa sendiri. Saya kebagian mimpin kelompok keamanan ini. Karena itu saya bisa mendekat ketika kedua presiden tersebut turun dari mobil cabriolet yang membawanya didepan gerbang masuk kampus Jalan Ganesa 10. Kedua-duanya pemimpin besar bangsanya. Yang satu sedang berjuang merebut kembali Irian Barat, yang satunya sedang berjuang merebut kembali Vietnam Selatan. Bukan main hebat keduanya. Tetapi penampilan jauh berbeda, yang satu keren chic/necis pakai peci dan kaca mata hitam, tak lupa tongkat komando, jalannya tegap sedang yang satunya pakai baju/jas potong Cina kain blacu, jadi tidak putih lah, pakai trompah (pasti bikinan Vietnam karena saat itu belum ada trompah bandol/ban bodol ITB), kulit muka putih bersih, rambut putih, jenggot putih Cina - bukan Arab jadi nggak lebat begitu lho ! Jalannya tidak setegap Bung Karno, cenderung bagaimana ya ?! Mirip Cina klontong yang keluar masuk desa/kampung sambil mutar-mutar klontongannya dan bunyi tung tung.... tung tung.... tung tung, cuma tidak bertopi. Bung Karno memanggilnya "paman HO".

Karena saya jaga ngawasi pintu masuk, saya tidak perhatikan apa pidato Bung Karno maupun Ho Chi Minh. Pasti masalah perjuangan ! Karena peresmian lembaga tinggi pendidikan, saya sepintas dengar pidato begini: Ilmu itu bagaikan air amerta, air kehidupan, jadi jangan takut sekalipun berada ditengah racun kita harus berani mendapatkannya. Entah Bung Karno entah Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (saat itu Dr. Priyono) yang mengucapkan, lupa saya. Dr. Priyono, pakar Kesastraan Jawa (?) menyebut "para mahasiswa dan mahasiswati", ketika Bung Karno mulai pidato nyebut "para mahasiswa dan ................., berhenti sejenak - pendengar terdiam tegang apa sama dengan Dr. Priyono tidak, ternyata akhirnya bilang ............ "mahasiswi" ! Semua bertepuk tangan riuh, mungkin karena lepas dari ketegangan. Saya juga ikut tepuk tangan, karena "itu" pasti akan menjadi istilah resmi !

Entah di ITB itu, atau dimana Bung Karno mulai membakar semangat dengan suara berapi-api. Kita bukan bangsa tempe ....................... dst, dst ! Padahal tiap hari kita makan tempe tahu. Kalau sarapan enggak ada tempe dan tahu goreng + sambal kecap rasanya cemplang ! Apa maksudnya sebagai bangsa yang lembek, mudah membusuk ?! Bukankah sambal tempe bosok kalau nasinya liwet anget bukan main pula nikmatnya, apalagi itu diwaktu hujan sore-sore !

Upacaranya sendiri disepanjang jalan depan lapangan sepak bola kampus. Bangsa Vietman sekarang lagi maju pesat, bisa-bisa kita dikalahin !

Nukang apa Mulang ?

Rupanya semangat ayah saya sebagai guru juga mempengaruhi saya untuk pengin jadi guru, tapi juga sekaligus sebagai tukang insinyur. Maka bergabunglah saya ke almamater, yang memberi kemungkinan dwifungsi tersebut. Sekalipun di FT-UI/ITB pembelajaran lebih banyak dalam bahasa Inggris karena sebagian besar profesornya asing: AS, Jerman, Belanda, dan sedikit saja Indonesia , belajar di AS ternyata memberikan pengalaman dan wawasan yang lebih luas. Kelak pengalaman tersebut akan memberikan dasar-dasar pemikiran saya dalam bidang pendidikan. Tetapi dari AS pula lah awal saya menggeluti keindustrian.

Setamat dari School of Electrical Engineering, Purdue University , saya kerja di Port of Authority New York . Kota New York adalah tempat kerja idaman bagi generasi muda Amerika. Padahal awal-awalnya saya malah tertekan hidup di kota hutan beton, dengan gedung yang sangat tinggi-tinggi, susah lihat matahari berada dimana. New York bukan representasi Amerika. Hampir semua suku bangsa di dunia ada disitu, keramahan Amerika seperti di kota kecil tidak ada. Adanya adalah prasangka dan kepentingan pribadi/kelompok.

Saya kerja di Central Maintenance and Engineering Division, yang cukup luas cakupannya. Port Authority itu mengelola pelabuhan-pelabuhan laut, bandara-bandara, tunnels, bridges, tasiun bus dan subway bersama-sama pemerintah New Jersey .

Disinilah awal pertukangan saya di bidang telekomunikasi. Tahun 1966 itu awal persiapan pembangunan Greha Bandung (twin building) World Trade Center New York . Pemiliknya adalah Port Authority New York & New Jersey. Saat itu saya juga membantu penyediaan Sarana Telekomunikasi/Radio dalam tahap pembongkaran gedung-gedung tua, calon tempat bangunan baru tersebut. Pembongkaran tersebut makan waktu lama, pakai bandulan bola besi besar yang diayun-ayunkan. Belum membangunnya lebih lama lagi untuk bangunan 110 tingkat tersebut, tertinggi di dunia saat itu. Dirancang memakai jaringan video telephone di dalam gedungnya. Pertama di dunia. Teknologi digital belum berkembang. Yang kami pikirkan ya masih pakai CCTV, Multiplexing dan mungkin wireless kah ? Baru 40 tahun kemudian kita bisa menikmati gagasan tersebut, melalui wireless video phone, phone cell/hp! Betapa lamanya dari gagasan konseptual sampai kenyataan ekonomis ! Sampai seberapakah realisasi sistem yang digagas tersebut saya tidak tahu, karena sejak gedung tersebut jadi saya belum pernah masuk, dan keburu diambrukin orang Arab, dalam sekejap lagi ! Betapa beda merobohkan pakai bandul dan pesawat terbang ! Saya pulang Indonesia dalam pertengahan kedua 1967. Nyesel juga belum pernah masuk, padahal sesudah tahun 1970 pun sering ke New York dan tempat-tempat lain di AS. Kunjungan-kunjungan itu berkaitan dengan training-training sebagai consultant engineer industri-industri besar AS, seperti Hewlett Packard, Foxboro, Nuclear Chicago, Soil Test, dan lain-lain. Betul-betul saya menggeluti dunia keinsinyuran, termasuk di Eropa dan Jepang.

Begitu luas jaringan keinsinyuran yang saya peroleh dari jaringan industri-industri tersebut. Dari situ pula saya melihat bagaimana Education (Insinyur) and Training (Teknisi) yang seharusnya. Mereka ini menghadapi tugas nyata : Kepuasan Pelanggan, system, technicalities, efisiensi, produktivitas, qualitas, persaingan harga, waktu dsb.

Pressing task ini tidak pernah ter-refleksikan dalam proses pembelajaran di kampus-kampus, terlebih-lebih di Indonesia. Kampus itu umumnya adalah menara gading yang tidak bersentuhan dengan dunia nyata kehidupan dan industri. Pengalaman ini membuat kita berfikir, bisakah kita berbuat sesuatu yang konseptual ?

Pergaulan saya dengan Kultur Jerman.

Kalau di AS penekanan pembelajaran pada analysis, lab, dan baru synthesis, maka di Jerman penekanan lebih pada realisasi synthesis, tentu saja berbasis analysis.

Di AS do how itu lebih dikembangkan oleh dunia kerja, industri dan lebih-lebih oleh angkatan bersenjatanya. Eks wajib militer AS itu membawa technological know how begitu intensive pada industri-industri AS, karena mereka mengalami pelatihan-pelatihan khusus dalam merawat, memperbaiki dan memakai peralatan perang tercanggih di dunia.

Lain lagi di Negara-negara berbasis kultur Jerman termasuk Swiss. Practical know how ini sudah disiapkan mulai di sekolah, karena menonjolkan realisasi synthesis. Terlebih-lebih di level pendidikan kejuruan menengahnya, pelaksanaannya (dual system) sepenuhnya didukung oleh industri.

Rupanya di seluruh Eropa berkembang seperti itu, karena adanya tradisi "guilder" sebelumnya. Kita dulu mengenal tradisi keahlian "empu" tetapi "per-empu-an" ini tidak dikembangkan menjadi system pengembangan kepakaran.

Secara umum saya melihat kultur Germanic itu adalah perfection. Mereka maju karena kemampuan realisasi synthesanya dan perfectness sebagai acuannya.

Orang di Negara manapun bila membaca "made in Germany " atau "made in Swiss" impressinya adalah lambang kwalitas ! Budaya itu dipupuk sejak dari rumah dan sekolah, dimatangkan di Industri/dunia kerja. Orang lupa, bahwa ketika revolusi industry di Inggris, negara-negara tersebut masih agraris. Ketika mereka ikut menjual produk-produknya ke Inggris dianggap berkwalitas rendah dibandingkan produk Inggris. Karena itu Inggris mewajibkan produk-produk tersebut diberi ciri "made in Germany " dan lain-lain sesuai negara asalnya. Itulah awal sejarah "MADE IN", sebagai pembeda dengan produk Inggris yang tanpa ciri "made in".

Belajar dari Tugas

Tugas yang paling banyak memberikan pada saya pengalaman dan pembelajaran yaitu ketika membangun Politeknik Mekanik Swiss - ITB. Sejak masa Study Kelayakannya pada tahun 1972, hampir 30 tahun saya menekuni institutional building lembaga ini. Dikemudian hari tugas membangun Politeknik-Politeknik negeri dan beberapa swasta serta Sekolah-Sekolah kejuruan di tanah air, memperkaya pembelajaran saya di bidang pendidikan.

Dari Politeknik Mekanik Swiss yang "practical based" itu, keberhasilannya karena ditentukan oleh internalisasi budaya IPTEK, melalui proses pembelajaran dan sistem pengelolaan sekolah yang lugas. Ketika kami canangkan transformasi dari practical based menjadi "production based" education, awalnya mengalami beberapa kesulitan. Mengapa ?

Karena ini adalah transformasi dari budaya sekolah ke budaya industri, berarti perangkat dan system pengelolaan bertambah layaknya suatu industri. Secara keseluruhan sekolah ini adalah suatu Technology Center, diejawantahkan menjadi Educational - Production dan Business Center, yang melakukan business dengan industry customers maupun vendors/suppliers. Politeknik ini, sekarang namanya POLMANN - Bandung , intensitas teknologinya mungkin tertinggi di Indonesia dan masuk salah satu dari 50 promising university di Asia.

Setelah saya purna tugas, baru sempat merenung, mengapa sekolah ini dinilai berhasil oleh stakeholders-nya. Rupanya, setelah banyak melakukan pengkajian, kunci keberhasilannya adalah di "Pembudayaan Belajar" menuju pembentukan"Budaya IPTEK"! Itu sebagai hasil trasnformasi dari Practical ke "Production Based" Education.

Hakekatnya menghasilkan manusia innovative karena akumulasi pengalamannya dalam learning by learning, learning by doing, learning by using, learning by interacting. Ini adalah "how to learn" kalau "what to learn" ada di paradigma Unesco !

Saya baru bisa menganalisa mengapa awal-awal transformasi ada hambatan-hambatan. Utamanya, performance itu awalnya hanya ditentukan mahasiswa dan dosen/instruktur, sekarang oleh industry customer. Jadi disamping ada internal evaluation juga ada external evaluation yang sangat objective, karena menyangkut kepuasan pelanggan : orang tua, mahasiswa, industry pemakai baik tamatan-produk-konsultasi, maupun masyarakat & pemerintah pada umumnya.

Pelajaran yang bisa ditarik.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut disertai kajian-kajian selama lebih dari 4 tahun ini, saya simpulkan Pendidikan Nasional kita mestinya lebih menekankan pada pembentukan "budaya". Pada kenyataannya kita terpaku pada hal-hal substansial, administratip dan rutinitas. Ini menghasilkan langkah-langkah yang bersifat "instant", seperti bimbingan tes, UN, les-les di sekolah, LKS, buku-buku yang tidak bisa dilungsur angkatan berikutnya, dan lain-lain yang ujung-ujungnya bermotif financial.

Bagaimana kita bisa membentuk budaya "cerdas" kalau system yang kita pakai tidak cerdas. Contoh: UN itu bukan termasuk system cerdas (Intelligent System) ! UN hanya "Quality Verification" bukan cerdas seperti Quality Assurance.

UU Sisdiknas kita mengamanatkan adanya system cerdas dalam pengelolaan & proses pendidikan yang diwujudkan dalam "System Akreditasi Kelembagaan", berarti menekankan pada Quality Assurance. Mengapa UN menjadi syarat kelulusan? System cerdas itu selalu menghasilkan continuous improvement, yang hakekatnya adaptive terhadap penyimpangan dan perubahan, pada seluruh masukan, proses, output/outcomes dan pengelolaannnya, sedang UN hanya "go" or "no go", kembali tahun depan tanpa peduli ada improvement apa tidak.

Jadi kuncinya pada Akreditasi Kelembagaan oleh independent body, objective & jujur. UN hanya untuk mengetahui tingkat capaian daya serap (index fasilitas) pada suatu periode untuk menentukan kebijakan berikutnya.

Jadi Kita Ini Dimana ?

Mencermati UUD '45 antara lain menyebutkan tujuannya untuk "mencerdaskan perikehidupan bangsa" ini maknanya apa untuk bisa diturunkan dalam konsep -kebijakan - dan langkah realisasi. Hebat juga founding fathers kita ini, padahal mereka belum baca bukunya Howard Gardner, Daniel Goleman dan buku-buku lain, karena belum terbit, yang menggambarkan akan datangnya era informasi dan era berbasis pengetahuan ya ?! Yang pasti mereka banyak membaca sebagai produk pendidikan dimasanya. Yang kita tahu, Ki Hajar Dewantara telah memperkenalkan Trisakti (Tiga Kekuatan) Jiwa dalam psychology Barat yaitu: Fikiran, Rasa dan Kemauan, yang sesuai dengan ilmu Jiwa Ketimuran, yaitu: Cipta - Rasa - Karsa. Bukankah ini pula yang dibahas Howard Gardner dalam Multiple Intelligence dikemudian hari ?! Ini semua tidaklah berdasar "instinct" lagi, tetapi sudah saling interaksi dan mengisi antara 3 kekuatan tadi.

Dari Gardner maupun Ki Hajar Dewantara bisa kita ambil bahwa mencerdaskan perikehidupan bangsa itu berarti cerdas secara "spiritual", "emotional" dan "intellectual". Apakah ini bisa kita maknai sebagai pengembangan kapasitas spiritual - emotional dan intellectual bangsa?

Bila asumsi tadi benar, maka pijakan kebijakan dan langkah adalah tiga unsur kecerdasan dan pengayaannya tersebut. Ketiganya diperlukan secara holistic dan dipakai pendekatan total solution sehingga tidak menghasilkan langkah-langkah mosaic dan piecemeal. Memang sekarang berkembang dari 3 menjadi 8-11 macam intelligence.

Jadi founding fathers kita mengamanatkan terbentuknya budaya cerdas untuk bangsa Indonesia . Berarti dalam pendidikan pun diharapkan tumbuhnya Sistem Pendidikan Nasional yang Cerdas yang dilaksanakan dan disempurnakan secara terus menerus, bukan terkaget-kaget, karena kagetan dan gumunan.

Jadi membangun budaya cerdas itu antara lain kuncinya membangun ketrampilan pola pikir dan perilaku ilmiah yang terdisiplin, artinya memahami dan mengikuti metode ilmiah, betapapun sederhananya persoalan yang akan diselesaikannya.

Karena saya dari disiplin MIPA dan Teknologi, maka budaya yang terdisiplin tersebut akan digambarkan sekitar disiplin bidang ilmu tersebut. Berfikir kritis dalam MIPA tak lain ditrampilkan dalam mempertanyakan tentang sesuatu, biasanya menyangkut 5W + 1H => what, where, why, when, who dan how.

Kita harus selalu memupuk ketrampilan itu terus menerus, sehingga makin mendalami disiplin ilmunya, yang kemudian akan bisa dipakai pula menghayati disiplin-disiplin lainnya, ataupun melakukan pendekatan multidisipliner. Jadi pendidikan itu adalah untuk memperoleh pengetahuan, pola/kebiasaan berfikir dan pola perilaku ilmiah sesuai disiplin yang ditekuni untuk menyelesaikan masalah perikehidupannya. Kaidah ilmunya sendiri bisa sementara sampai ada temuan yang lebih baru, itulah hakikat ilmu pengetahuan. Disiplin ilmiah MIPA ternyata juga dapat saya pakai menelusuri Carakan, termasuk titi laras gamelan yang binair itu !

Jadi yang kita cari dalam pendidikan adalah pemahaman, bukannya sekedar kumpulan informasi dalam hard disk tanpa prosesor. Informasi bisa dicari, apalagi jaman internet, tetapi "paham" itu adalah kedisiplinan perilaku ilmiah. Howard Gardner dalam "Five minds for the Future", mengatakan "Orang dikatakan terdisiplin apabila ia telah memperoleh kebiasaan yang memungkinkan dia membuat kemajuan yang stabil tanpa henti dalam penguasaan suatu keahlian, atau sekumpulan pengetahuan dan ketrampilan".

Jadi mencerdaskan perikehidupan bangsa itu kita mulai dari mana?

Menurut saya, mulailah dari "pendidikan". Tetapi ini harus merupakan commitment bangsa, sejak dari input, proses, evaluasi, output & outcomes (dampak). Yang paling dituntut banyak pasti guru/dosen yang harus menguasai dengan mendalam dan terdisiplin dalam bidang ilmunya, karena yang akan dibangun adalah budaya ilmu pengetahuan.

Bila sekarang kita mulai, maka 1 generasi yang akan datang baru terasa hasilnya.

Perikehidupan yang cerdas berarti secara implicit sudah masuk disitu daya saing bangsa, terlebih-lebih dalam era globalisasi ini. Daya saing berarti juga kemampuan bermitra, yang maknanya saling memberi dan menerima kelebihan masing-masing secara sinergi untuk menaikkan daya saing jejaring kemitraannya. Bila kita kehilangan daya saing dan kemitraan, kita akan terlibas oleh waktu. Rupanya ini kurang dimaknai benar oleh para stakeholders (pemangku kepentingan) pendidikan di tanah air. Kehidupan seolah normal-normal saja, padahal kita menghadapi tantangan dan ancaman, dilain pihak "intelligent cultural building" butuh waktu lama.

Kita seolah-olah abai terhadap amanat founding fathers bangsa negara kita dan tidak merasa adanya ancaman di depan mata.

Mudah-mudahan para pemangku kepentingan pendidikan menyadari ini, terutama guru sebagai ujung tombak membangun budaya cerdas bangsa. Namun guru juga harus mau ngangsu budaya cerdas ini, tidak semata-mata terlena oleh hak-haknya saja ! Mudah-mudahan !

Mari kita maknai piwulang berikut:

"Ngelmu tanpa laku kotong, laku tanpa ngelmu cupet" (KHD).
"Jer basuki mawa beya"


Bandung , 26 Oktober 2007.
Hadiwaratama

***

Indeks ...
  • Kesetiaan terhadap Sang Guru - antara Palgunadi dan Yono ... baca
    Oleh: Budiono Santoso [2008-07-14 09:27:01]
  • Perikehidupan Cerdas ... baca
    Oleh: Hadiwaratama [2007-12-31 17:31:39]
  • Cerita Cinta dari Keremangan Pohon Jambu ... baca
    Oleh: Budiono Santoso [2007-07-17 16:48:29]
  • Cinta Monyet Yang Tak Pernah Lengket ... baca
    Oleh: Budiono Santoso [2007-06-07 21:46:59]
  • Berlari Hingga Hilang Pedih dan Peri ... baca
    Oleh: Budiono Santoso [2007-05-01 11:11:03]
  • Nyêmêk Yang Selalu Dikangeni ... baca
    Oleh: Abi Hartomo [2007-04-29 10:23:38]
  • Cerita dari Balik Rumpun Bambu ... baca
    Oleh: Budiono Santoso [2007-04-29 10:23:03]
  • Desaku Yang Kucinta ... baca
    Oleh: Budiono Santoso [2007-04-25 22:07:09]
  • Senang Sebagai Naturalist ... baca
    Oleh: Edi Prasetyo Utomo [2007-04-24 07:20:25]
  • Kenangan Mudik Lebaran ... baca
    Oleh: Abi Hartomo [2007-04-22 00:22:41]
  • Operasi Sandi Mercon Bumbung ... baca
    Oleh: Budiono Santoso [2007-04-21 14:41:52]
  • Serampang Pinang Muda Lima Puluh Tahun Lalu ... baca
    Oleh: Dr. Budiono Santoso [2007-04-12 02:13:58]
 
Copyright 2007 www.djojosastro.info Email: redaksi[at]djojosastro.info